Aplikasi pestisida tidak tepat guna mengakibatkan populasi hama wereng meningkat.

Aplikasi pestisida tidak tepat guna mengakibatkan populasi hama wereng meningkat.

Siasat atasi serangan wereng cokelat yang makin meluas.

Hamparan padi itu berubah menguning, kemudian cokelat hanya dalam 1—3 hari. Padahal, umur padi di lahan milik Guru Kobun itu baru 70 hari. Tanaman seperti terbakar itu sebagai dampak dari terisapnya sel cairan tanaman oleh wereng cokelat Nilaparvata lugens. Tanaman padi di lahan Kobun, petani di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, itu terancam gagal panen akibat serangan serangga mungil anggota famili Delphacidae.

Dua bulan terakhir serangan wereng cokelat tengah marak. “Serangan wereng cokelat pada akhir 2016 hingga awal tahun 2017 salah satu yang terparah,” kata penyuluh pertanian di Bekasi, Arie Setiana. Ia mengatakan, serangan hama wereng memang lazim terjadi setiap musim. Namun, pada awal 2017 serangan wereng mencapai 90% areal tanaman padi di Bekasi, Jawa Barat, setara 423 hektare.

Hama resisten
Jika produksi padi rata-rata 5—6 ton per hektare, maka potensi kehilangan hasil mencapai 2.115—2.538 ton. Menurut Arie petani berupaya mengendalikan serangan wereng cokelat dengan penyemprotan insektisida kontak. Mereka menyemprotkan insektisida berkonsentrasi 0,1%—0,2%. Namun, setelah penyemprotan malah muncul hama lain yang mirip ulat grayak.

Budidaya padi tepat, mencegah serangan hama sehingga hasil optimal.

Budidaya padi tepat, mencegah serangan hama sehingga hasil optimal.

Alumnus Jurusan Agroteknologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati itu mengatakan, akibat serangan wereng banyak petani yang memanen padi masih hijau karena takut merugi. Menurut peneliti hama di Kementerian Pertanian, Prof. Ika Djatnika, hama wereng mewabah karena adanya kebijakan IP 300. Kebijakan IP 300 ialah 3 kali penanaman padi dalam setahun tanpa pergantian komoditas lain.

Baca juga:  Veronica Tan: Lahan Sempit Bukan Aral

“Akibatnya hama terus ada karena makanan terus tersedia,” kata doktor Fitopatologi alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Djatnika mengatakan, perilaku petani dalam aplikasi pestisida juga turut berperan. “Petani cenderung memilih satu pestisida yang dirasa paling ampuh tanpa mengganti pestisida lain,” kata Djatnika. Hama yang mampu bertahan ketika penyemprotan pestisida akan makin resisten dan adaptif pada satu jenis pestisida.

Oleh karena itu, “Sebaiknya petani memberikan pestisida bervariasi secara bergantian. Dengan memperhatikan indikator berdasarkan bahan aktif dan cara kerja pestisida, sehingga hama tidak mengalami resistensi,” kata Djatnika. Faktor lain yang tidak bisa dihindari adalah iklim. Menurut Djatnika kondisi musim panas yang memiliki curah hujan tinggi merangsang aktivitas hama wereng. “Kondisi lembap cocok bagi hama untuk berkembang biak,” katanya.

Menurut ahli penyakit tanaman dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Widodo, M.S., faktor pendukung meningkatnya populasi wereng cokelat ialah iklim dan kebijakan IP 300 yang menjadikan petani menanam tanaman sejenis sepanjang tahun. “Akibatnya petani kerap melakukan budidaya tanpa pengolahan tanah karena mengejar waktu produksi. Akhirnya ekosistem tanah kualitasnya menurun,” kata Widodo.

Itu menyebabkan unsur hara dalam tanah terkuras. Imbasnya tanaman kekurangan nutrisi sehingga daya tahan terhadap serangan hama menurun,” papar doktor Fitopatologi alumnus Hokaido University, Jepang, itu. Faktor lainnya adalah kegiatan pemantauan hama tanaman kurang terkontrol.

Potong siklus
Petani kerap mengaplikasikan insektisida sebelum ambang batas serangan. “Setidaknya, petani melakukan aplikasi pestisida 10—12 kali per musim,” kata Widodo. Petani acap menggunakan insektisida berbahan aktifnya yang tidak direkomendasikan untuk hama padi seperti fipronil, imidakloprid, dan golongan pyretroid (sipermetrin, deltametrin, alfametrin). “Memang pascaaplikasi terlihat serangga seolah mati. Namun, serangga hanya pingsan dan makin resisten pada insektisida,” paparnya.

Ahli penyakit tanaman, dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr, Widodo, M.S.

Ahli penyakit tanaman, dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr, Widodo, M.S.

Menurut Widodo, budidaya tepat dapat mencegah ledakan hama. Salah satu unsur budidaya tepat adalah mengembalikan jerami ke tanah dapat memperbaiki kesuburan ekosistem tanah. “Panen 1 hektar jerami jika dikembalikan ke tanah setara dengan 400 kg pupuk KCl,” kata Widodo. Pemupukan tepat berimbang dan irigasi sawah macak-macak dapat mencegah serangan hama berlebihan. “Jika budidaya sudah tepat tidak perlu aplikasi pestida,” kata Widodo.

Baca juga:  Kebun Seribu Taman

Jika terjadi serangan hama, Widodo menyarankan pengendalian menggunakan agen hayati dan musuh alami terlebih dahulu sebelum menggunakan pestisida. Beberapa agen hayati untuk mengontrol wereng cokelat adalah kelompok fungi Beauveria basiana, Metarhizium anisopliae, dan Hersutela citriformis. Menurut penelitian Yadi Suryadi dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Genetik Pertanian (BB-Biogen), penggunaan M. anisopliae menekan serangan wereng cokelat hingga 40—45%.

Menurut Djatnika petani harus mengubah pola penanaman. Mereka sebaiknya mengganti dengan membudidayakan komoditas yang tidak disenangi hama seperti jagung, kacang-kacangan dan umbi-umbian. Tujuannya untuk memotong siklus hama. Adapun untuk penanaman kembali memilih varietas yang toleran terhadap hama tertentu bisa menjadi solusi. Varietas padi yang toleran terhadap hama wereng antara lain inpari-18, inpari-19 dan inpari-31. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d