Dendrobium dianae

Dendrobium dianae

Tersimpan rapat di hutan belantara.

Kalimantan menyimpan misteri keanekaragaman hayati anggrek. Perkembangan taksonomi anggrek mencatat sekitar 1.800 nama taksa diambil dari pulau itu. Jenis-jenis baru pun masih bermunculan setiap tahun melalui tangan para peneliti. Fenomena itu mengindikasikan hutan belantara Borneo memiliki harta terpendam yang belum terkuak. Melalui serangkaian proses penelitian, saya berhasil mengidentifikasi beragam spesies anggrek baru genus dendrobium dari pedalaman hutan di Kalimantan.

Pada 2006, misalnya, bersama Peter O’Byrne dan J.J.Wood masing-masing praktikus anggrek di Singapura dan peneliti dari Kebun Raya Kew, Inggris, berhasil mendeskripsikan dua spesies dendrobium anyar. Spesies baru yang pertama yakni Dendrobium flos-wanua yang berarti “bunga wanua”. Nama itu kami sematkan sebagai bentuk penghargaan kepada Vincent Wanua, pehobi anggrek di Malang, Provinsi Jawa Timur.

Dendrobium flos-wanua

Dendrobium flos-wanua

Sentosa

Bunga flos-wanua berwarna hijau kekuningan dan mengilap. Lebarnya 2,1—2,2 cm. Ciri khas anggrek itu terdapat tonjolan kalus berbentuk huruf “U” yang melintang di bibir bunga. Sepal dan petalnya membuka lebar. Bagian cuping tengah bibir bunganya berbentuk segi empat dan berbelah dangkal di bagian ujungnya. Dalam satu dompol terdapat 2—8 kuntum bunga yang mekar bersamaan. Waktu berbunga terjadi pada April, Juni, dan November.

Jenis anggrek kedua yakni D. dianae yang berbunga sepanjang tahun. Lebar bunga 1,6—1,8 cm. Pada permukaan cuping tengah bibir bunga terdapat dua kalus sejajar yang memanjang dan membujur. Perbungaannya menggantung terdiri atas 4—12 kuntum yang menggerombol. Variasi warna dianae sangat beragam. Dari hasil pengamatan terdapat 5 macam warna mulai dari hijau muda polos hingga kuning tua mengilap dengan pola strip kemerahan di sepal dan petalnya.

Dendrobium kelamense tumbuh menempel di pepohonan

Dendrobium kelamense tumbuh menempel di pepohonan

Di alas Kalimantan pula, saya menemukan D. mucrovaginatum. Kata ‘mucrovaginatum’ diambil dari karakter unik di ujung pelepah daunnya yang memiliki tonjolan sempit memanjang berujung runcing. Mucrovaginatum tumbuh merumpun sepanjang 30 cm. Batang bagian atas berdiameter 1 mm dan menggembung di bagian pangkal bawah sebagai tempat cadangan makanan. Bunga mucrovaginatum berwarna putih mungil. Lebar bunga hanya 0,8—1 cm dan panjang 1,2—1,5 cm.

Baca juga:  Tujuh Gaya Ikebana

Kelopak bunga membuka lebar dengan proporsi bibir bunga yang cukup besar dan terdapat rambut halus di permukaan bagian depan. Di bagian pangkal kelopak samping dan bibir bunganya membentuk tabung memanjang yang berisi cairan nektar. Bentuk itu memudahkan serangga penyerbuk untuk mengisap cairan nektar sehingga terjadi penyerbukan. Pada rumpun tanaman dewasa, mucrovaginatum berbunga susul- menyusul sepanjang tahun.

Belantara Kalimantan memang surga dendrobium. Setiap tahun selalu ditemukan spesies baru dengan tingkat endemisitas tinggi. Di sana pula terdapat spesies D. kelamense yang tumbuh menempel di pepohonan. Panjang batang dewasa mencapai 60—110 cm. Bunga muncul pada April—Mei. Letaknya menggantung dekat ujung batang. Panjang tangkai bunga 5—8,5 cm. Setiap tangkai membawa 5—12 kuntum berukuran lebar 2 cm dan panjang 3—3,5 cm. Mahkota dan kelopaknya berwarna kuning cerah mengilap disertai bercak paralel memanjang berwarna merah marun. Ciri kelamense yakni adanya kalus berbentuk huruf ”U” di antara lobus samping dan tepi lobus tengah.

Dendrobium mucrovaginatum berukuran mungil. Lebarnya hanya 0,8—1 cm dengan panjang 1,2—1,5 cm

Dendrobium mucrovaginatum berukuran mungil. Lebarnya hanya 0,8—1 cm dengan panjang 1,2—1,5 cm

Papua

Sejatinya dendrobium bukan milik Kalimantan saja. Di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, juga ditemukan spesies baru yakni D. floresianum. Floresianum ditemukan di daerah pegunungan, tetapi dapat beradaptasi di dataran rendah asal kelembapan udara cukup. Anggrek itu menyukai sirkulasi udara yang lancar dan intensitas cahaya matahari 50—70%. Masa berbunga floresianum pada rentang April—Mei, September—Oktober, dan Januari.

Penelitian untuk menemukan spesies anggrek baru pun menyebar hingga kawasan timur tanahair. Di Papua, saya bersama tim eksplorasi menemukan Dipodium brevilabium. Penelitian untuk mendeskripsikan anggrek itu telah dilakukan sejak 2008. Genus Dipodium memiliki sekitar 25 spesies yang tersebar dari Indocina, kawasan Malesia hingga Australia dan kepulauan Pasifik barat.

Baca juga:  Seminar Babi Berjenggot

Para taksonom dunia menganggap Dipodium adalah genus paling sulit untuk diidentifikasi sebab bentuk dan strukur bibir bunga yang hampir serupa. D. brevilabium berperawakan menyerupai pandan wangi Pandanus amaryllifolius. Oleh karena itu kerap disebut anggrek pandan. Brevilabium berbunga antara Juli—Agustus. Tipe pertumbuhan tanaman itu merambat pada batang pohon besar.

Dendrobium floresianum dari Pulau Flores, NTT

Dendrobium floresianum dari Pulau Flores, NTT

Tangkai bunga brevilabium sekitar 27—40 cm terdiri atas 35 kuntum. Setiap bunga berdiameter 3,3—3,7 cm dan berwarna dasar kuning dengan totol berwarna merah marun. Bentuknya bulat telur terbalik berujung tumpul. Bibir bunganya pendek dan lobus tengahnya membulat. Tugu bunga berukuran panjang 7—8 mm dan lebar 4—4,5 mm, berbentuk silindris, tetapi lebar di bagian ujung. Ukuran mahkota dan kelopaknya relatif sama yaitu panjang 19—20 cm dan lebar 8—9 cm.

Brevilabium adaptif pada ketinggian 200—700 m dpl dengan intensitas cahaya   50—70%. Anggrek itu diperkirakan memiliki area distribusi yang terbatas hanya di Papua karena belum ada laporan penemuan spesies itu oleh taksonom di Papua New Guinea. Oleh karena itu langkah-langkah konservasi seperti perbanyakan harus segera dilakukan. Musababnya, perkembangbiakan tanaman secara alami di alam sangat lambat. Dari sosok perawakan tanamannya yang menarik serta bunganya yang berwarna mencolok, maka anggrek ini memiliki potensi baik sebagai tanaman hias daun maupun tanaman hias bunga. (Destario Metusala, periset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Purwodadi, Jawa Timur)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d