Si Cantik Wina di Bandungan 1
Produktivitas 60—80kg per panen

Produktivitas 60—80kg per panen

Bandungan, menjadi sentra avokad. Warga menanamnya di halaman rumah.

Pohon avokad setinggi langit-langit rumah itu sarat buah. Hampir di setiap cabang bergelayut 4—7 buah. Bahkan di cabang-cabang bagian bawah, 1 m dari permukaan tanah, juga bergelayut buah Persea americana sekepalan tangan.  “Ini avokad wina,” ujar Agus Riyadi, pemilik pohon avokad di Desa Ngasem, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Di halaman rumah Agus seluas 6 m2 itu tumbuh sebuah pohon berumur 3 tahun.

Sebuah pohon rata-rata menghasilkan 60—80 kg sekali panen. Bobot buah matang rata-rata 800—1.300 gram sehingga sekilogram terdiri atas 1—2 buah. Agus mengatakan pohon avokad di rumahnya panen raya pada Mei hingga Agustus. Tujuh  bulan sejak mekar bunga, pria 32 tahun itu memanen buah. Ia menjual kerabat kayu manis itu ke pengepul Rp8.000 per kg. Itu menjadi tambahan pendapatan Agus yang berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar.

Agus Riyadi tak perlu memanjat untuk panen avokad

Agus Riyadi tak perlu memanjat untuk panen avokad

Sambungan

Di pekarangan rumah Turmanto—200 meter dari rumah Agus—juga tumbuh 3 pohon avokad. Satu pohon merupakan pohon avokad wina berumur 6 tahun. Sementara dua pohon lainnya merupakan keturunan pohon induk yang baru berumur sekitar 3 tahun. Ketiga pohon itu tumbuh berdekatan dengan jarak antarpohon sekitar 5 m. Pohon avokad wina yang lebat berbuah itu pemandangan lazim hampir di setiap pekarangan rumah di Kecamatan Bandungan pada Januari 2014.

Hampir setiap halaman rumah di Kecamatan Bandungan tumbuh rata-rata 3—6 pohon avokad produktif. Tinggi pohon mencapai 2,5 m dan diameter batang sekitar 20 cm. Bandungan terdiri atas 9 desa. Menurut Agus, di Desa Ngasem saja terdapat Kelompok Tani Berkah Jaya beranggota 45 orang. Mereka mengelola 300—400  pohon avokad berumur minimal 3 tahun. Pohon avokad itu berbuah terus-menerus nyaris sepanjang tahun dengan panen raya pada Mei—Agustus. Dari kecamatan sebelah utara Kabupaten Semarang itu setiap tahun dipanen 150 ton avokad.

Baca juga:  Peluruh Batu Ginjal

Para pengepul menjajakan buah itu ke Jakarta dan Semarang, Jawa Tengah. Agus menjelaskan awal mula penanaman avokad di Bandungan berkat upaya Turmanto. Pada 2004 Desa Ngasem terkenal sebagai sentra lengkeng. Semula warga enggan menanam avokad karena mereka sudah menanam lengkeng sebagai tanaman pekarangan. Namun, biaya perawatan pohon lengkeng relatif mahal dan  tidak sebanding dengan perolehan omzet. Pekebun harus membungkus buah lengkeng dengan keranjang bambu untuk mencegah serangan hama. Bandingkan dengan buah avokad yang dibiarkan bergelantungan di pohon begitu saja.

Oleh karena itu banyak warga menebang lengkeng dan menggganti dengan avokad. Sebetulnya terdapat tiga jenis avokad di sana. Selain wina, masyarakat di sentra itu juga menanam dua jenis avokad lainnya, yakni muria dan si cantik. Wina merupakan avokad asli Desa Jetis, Kecamatan Bandungan. Adapun si cantik berasal dari Gunungpati, Kabupaten Semarang, serta muria dari Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Perbandingan avokad wina (kiri) dan avokad lokal (kanan)

Perbandingan avokad wina (kiri) dan avokad lokal (kanan)

Pemilihan ketiga varietas itu bukan tanpa alasan. Avokad wina bersosok bongsor berbobot 0,8—1,3 kg. Daging buah berwarna kuning mentega. Rasa avokad pun istimewa, rasa daging buah pulen, lezat. Wina tanpa rasa pahit dan tanpa serat, meski disantap segar tanpa diolah menjadi jus. Avokad si cantik dan muria tergolong jumbo, meski tidak sebesar wina. Bobot rata-rata avokad itu 500—1.000 gram per buah. Si cantik berkulit hijau berkilau sehingga konsumen menyukainya.

Penanaman pohon baru pun terus dilakukan. Kelompok Tani Berkah, misalnya, menargetkan penanaman 500 pohon hingga setahun ke depan. “Kami ingin menjadi sentra avokad di Semarang,” ujar Agus. Bibitnya berupa bibit sambung pucuk. Batang bawah berasal dari avokad lokal, sedangkan batang atas avokad unggulan. Sebagian besar batang atas menggunakan varietas wina, mencapai 90%. Sisanya varietas si cantik dan muria.

Baca juga:  Sembilan Tangkai dari Hainan

Ekspor

Tanaman anggota famili Lauraceae itu menjadi sumber pendapatan warga Kecamatan Bandungan. Maklum, harga jual avokad wina tergolong premium, bahkan pernah mencapai Rp27.000 per kg. Harga itu tiga kali lipat harga avokad biasa yang dijual di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur. Permintaan pun mengalir deras. Menurut Agus, permintaan avokad wina untuk Jawa Tengah baru terlayani 10%. Sebuah pasar swalayan ritel terkemuka di Kota Jakarta meminta rutin 200 kg avokad  per pekan. Itu baru dari 1 pemasok. Padahal minimal ada 3 pemasok avokad ke pasar swalayan itu.

Di setiap rumah terdapat 3—6 pohon avokad produktif

Di setiap rumah terdapat 3—6 pohon avokad produktif

Selain domestik, permintaan juga datang dari mancanegara. Sejak 2013, Agus mengekspor 10 ton avokad ke Singapura. Namun, permintaan meningkat menjadi 20 ton per bulan sehingga Agus tak sanggup memenuhi kebutuhan. Popularitas avokad wina turut mendongkrak permintaan bibit. Menurut Agus, hingga kini permintaan bibit datang dari berbagai daerah seperti Sumedang, (Jawa Barat), Surabaya (Jawa Timur), Padang (Sumatera Barat), dan beberapa kota di Kalimantan Timur.

Masyarakat Bandungan bergairah menanam avokad karena pangsa pasar terbuka. Selain itu merawat avokad relatif mudah. Saat menanam, cukup berikan pupuk kandang sebagai pupuk dasar untuk menggemburkan tanah. Pemupukan susulan dengan kotoran itik dan sampah organik setiap bulan. Selanjutnya cukup siram setiap hari. Beberapa warga sering kali menyiramkan air cucian beras.

Menurut dosen Kesuburan Tanah di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Dr Ir Ani Yuniarti MP, air beras mengandung fosfor, kalium, dan kalsium yang baik pertumbuhan bunga dan buah. Sementara kalsium untuk menetralkan tanah yang masam. Selain perawatannya mudah, warga Bandungan tertarik untuk menanam karena avokad itu tahan serangan ulat. Menurut dosen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Sobir PhD, kemungkinan avokad itu mengandung enzim antiprotease. Jika  enzim itu masuk ke tubuh hama, ulat tidak bisa mengurai protein yang dibutuhkannya untuk berkembang biak. (Kartika Restu Susilo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *