Dewa Indra tidak percaya bahwa kelinci tulus-ikhlas mau menyumbangkan dagingnya kepada pengemis yang kelaparan.  Ia sudah mendengar, monyet bisa menyumbangkan buah mangga. Entah mencuri dari mana. Cerpelai – musang air juga bisa mempersembahkan tujuh ikan emas yang ditangkapnya di kolam.  Sapi berkurban memberikan susu, dan seterusnya. Tapi kelinci?

Eka Budianta*

Eka Budianta*

Maka ketika Dewa Indra menyamar menjadi pertapa dan minta makan pada si kuping panjang itu, jawabnya enteng dan gembira.  “Ayo mencari kayu bakar, kita nyalakan api.”  Setelah api berkobar-kobar, kelinci itu dengan gembira meloncat.  Tentu dengan berpesan, “Selamat menikmati daging, persembahanku.” Kita semua tahu lanjutannya.  Kelinci itu bukannya mati, tapi malah hidup abadi.

Kelinci bulan
Sampai sekarang kita melihat kupingnya terpasang di wajah rembulan.  Tidak ada hewan yang begitu berani dan tulus ikhlas selain kelinci.  Itu sebabnya setiap bulan purnama, kita melihat gambar kelinci hutan atau hare ada di sana.  Itulah satwa buruan manusia sejak zaman purba. Majalah Trubus beberapa tahun silam juga mencatat bahwa daging kelinci yang paling lezat di muka Bumi.

Proteinnya paling tinggi, kolesterolnya paling rendah, lunak, sehat, menjanjikan hari esok yang lebih baik.  Jangan heran kalau sejak abad ke-7 sebelum Masehi, kelinci menjadi lambang keberuntungan berbagai bangsa yang hidup di seputar kutub utara. Di Indonesia bicara kelinci sulit dilepaskan dari konotasi satwa impor. Sampai sekarang pun harga seekor anakan kelinci impor mencapai Rp800.000; sedangkan kelinci jawa cukup Rp150.000 saja.

Teman karib saya, Adam Badar, yang suka memberi makan kelinci dengan rumput impor, bilang ada kelinci impor berharga lebih dari Rp11-juta, nyaris seribu dolar. Itulah yang membuat bisnis kelinci berkibar. Menurut catatan, Belanda mulai mengenalkan kelinci ke Pulau Jawa pada 1835.  Kata kelinci konon berasal dari bahasa Belanda konijntje–yang berarti si konijn kecil atau anak kelinci.

Baca juga:  Kilapkan Daun Aglaonema

Sebelum itu masyarakat mengenal terwelu atau truwelu yang disebut juga kelinci bulan, kelinci liar, atau kelinci jawa–lepus dari famili Leporidae. Sebenarnya kita mengenal spesies asli kelinci Sumatera Nesolagus netscheri, meski baru diidentifikasi pada abad ke-20.  Kelinci bulan sudah dapat dilihat pada ukiran candi dari zaman Majapahit yang dibangun pada pertengahan tahun 1300-an atau abad ke-14.

Namun, para ahli  menafsirkan bahwa kelinci bulan yang dilukiskan di candi itu adalah satwa cerita. Profilnya didengar dari sumber-sumber Champa dan Tiongkok yang menyebar bersama ajaran agama Budha.  Sama halnya dengan berbagai satwa yang terlukis di Candi Borobudur, dalam relief serial cerita Jataka. Meskipun ada sepasang singa menjaga pintu, belum tentu hewan itu hidup di Pulau Jawa.

Mesin uang
Dalam hal kelinci yang diukir di atas pintu candi, mungkin terkait dengan candra sengkala atau kode pendirian bangunan. Misalnya untuk tahun 1293 Caka atau 1371 Masehi. Selain itu juga bisa perlambang satwa yang peka, pandai mendengar suara dari jauh karena memiliki daun telinga yang panjang. Sekarang budidaya kelinci mulai bergema lagi.  Mengapa? Kelinci pedaging dengan bobot 3—5 kg dapat dipanen dalam hitungan 4 bulan saja.

Kelinci prospektif untuk diternakkan. Periode budidaya singkat dan perkembangbiakan pun cepat.

Kelinci prospektif untuk diternakkan. Periode budidaya singkat dan perkembangbiakan pun cepat.

Dengan harga daging kelinci Rp35000 per kg, penghasilan impas dapat segera diperhitungkan.  “Meskipun rumah kita kecil, kalau bisa merawat 30 indukan plus 8 pejantan saja, hasilnya sudah lumayan,” kata Adam. Ia bukan pedagang kelinci profesional. Namun, pengetahuannya seputar kelinci hias dan kelinci pedaging cukup luas.  “Penghasilan sampingan dari beternak kelinci justru sangat membantu,” katanya.

Ia memberi contoh bahwa urine dan kotoran kelinci laku dijual sebagai pupuk paling bagus untuk sayur-sayuran.  Kulit kelinci pun cukup bagus harganya, terutama bila kelincinya sudah berumur di atas satu tahun. Mitos yang sering beredar, kelinci dikhawatirkan hanya hidup antara 2—3 tahun.  Kenyataannya kelinci bisa bertahan antara 7—10 tahun.  Bahkan ada beberapa yang mencapai belasan tahun.

Baca juga:  Panen 50 Hari Omzet Rp45-Juta

Yang luar-biasa adalah kecepatannya berkembang biak.  Masa kehamilan kelinci cukup hanya satu bulan dan setiap beranak bisa mencapai 12 ekor. Pantaslah bangsa Celtik percaya bahwa kelinci adalah simbol cinta, kesuburan, dan kesejahteraan.  Kepercayaan animistis itu kemudian diadopsi ke dalam budaya modern.  Di antaranya dapat kita saksikan pada Bunny Rabbit yang mengutamakan kecerdasan dan kecepatan, juga kemakmuran.

Mulai abad ke-15, mitologi kelinci bahkan menyusup ke dalam lukisan menyambut hari Natal. Bagi pemeluk Islam, sejak masa Orde Baru sudah diadakan sosialisasi tentang daging kelinci yang dinyatakan boleh atau mubah.  Beberapa kali diberitakan bahwa halalnya daging kelinci menjadi ijma atau kesepakatan para ulama.  Tidak mengherankan bila tumbuh sentra-sentra penghasil daging kelinci.

Industri pengolahannya pun berkembang dengan baik.  Bukan hanya satai kelinci, sup kelinci, dan bakso kelinci.  Sekarang sudah beredar kornet, naget, abon, sosis, dan segala macam produk berbasis daging kelinci. Salah seorang pebisnis kelinci yang paling sukses adalah Nuning Priyatna.  Dengan beternak seribu kelinci saja, Kantor Berita Antara menulis omzetnya berkisar Rp100-juta sebulan.

Tentu dengan mengoptimalkan semua produk sampingan.  “Yang terpenting beternak kelinci memerlukan kebersihan prima,” begitu pesan wirausaha rabittry dari Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu. Paling sedikit 20 karyawan, selain sejumlah ibu-ibu dan keluarganya ikut menikmati berkah budidaya kelinci yang tulus hati.***

*) Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktivis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang. 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d