Pebisnis koi di Jakarta,  Fauzia Latief   Suryonegoro.

Pebisnis koi di Jakarta, Fauzia Latief Suryonegoro.

Menjalankan bisnis terpadu berupa penjualan ikan koi, perawatan ikan, sekaligus kolam. Fauzia Latief Suryonegoro setia berbisnis ikan samurai itu meski banyak rintangan menghadang.

Fauzia Latief Suryonegoro mengandalkan koi sebagai sumber pendapatan sejak 2005. Ia menangguk omzet Rp10 juta—Rp15 juta per bulan dari jasa perawatan koi dan kolam. Adapun tambahan omzet Rp5 juta dari perniagaan koi saban bulan. Jasa perawatan kolam termasuk penjualan dan pemasangan instalasi filter kolam. Sang suami mendesain filter kolam yang dikenal dengan sebutan Rotary Drum Filter (RDF).

“Suami fokus di pengembangan filter kolam, sedangkan saya di perawatan ikan,” kata perempuan berumur 57 tahun itu. Menurut Fauzia filter kolam bikinannya cocok untuk pencinta koi yang malas mengurus kolam. Keunggulan RDF antara lain cepat membuang kotoran dan air yang keluar selalu bening karena filter dilengkapi layar mini (micro screen) berukuran 150 mikron. Alat itu cocok untuk kolam bervolume minimal 15 ton air dengan kedalaman 1,5 m—1,7 m.

Prospektif

Koi jenis sowashansoku favorit Fauzia Latief Suryonegoro.

Koi jenis sowashansoku favorit Fauzia Latief Suryonegoro.

Setelah filter terpasang, pehobi tidak perlu lagi pembersihan rutin dan perawatan. Tentu saja itu sangat memudahkan dan menyenangkan konsumen. Ia membanderol sepaket alat dan biaya pemasangan sekitar Rp80 juta—Rp85 juta tergantung kerumitan pesanan konsumen. Adapun jasa perawatan ikan meliputi pemberian pakan dan vitamin. Kehadiran usaha itu cocok untuk pelanggan yang ingin praktis memelihara kerabat ikan mas itu.

Fauzia dan 3 karyawan yang merawat langsung koi pelanggan. Mayoritas konsumen berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Menurut Fauzia bisnis perawatan ikan berisiko tinggi. Pada medio 2005 ia merugi Rp1,3 miliar lantaran 458 koi milik klien berukuran lebih dari 40 cm di 5 kolam mati akibat salah penanganan. Sejak saat itu ia lebih hati-hati dan selalu menyempatkan ke lapangan untuk mengecek koi.

Baca juga:  Bisnis Asyik Ikan Cantik

Ia mengatakan tren bisnis koi cenderung stabil. Namun, pelaku usahanya tidak sebanyak dahulu karena terseleksi alami. Pembeli di Jakarta cukup unik karena menjadikan koi sebagai hadiah untuk rekan atau kolega. Permintaan pasar dalam negeri cukup ramai. Buktinya pembeli asal Kalimantan datang sendiri ke kolam dan membeli 14 koi tangkaran Fauzia pada Oktober 2017. Rinciannya 4 koi sepanjang 1 m dan sisanya berukuran 14 cm.

Saringan kolam Rotary Drum Filter (RDF) bikinan suami Fauzia.

Saringan kolam Rotary Drum Filter (RDF) bikinan suami Fauzia.

Peluang memasarkan satwa anggota famili Cyprinidae itu ke Eropa juga tinggi. “Namun perlu dukungan pemerintah untuk mewujudkannya,” kata perempuan kelahiran Malang, Jawa Timur, itu. Yang paling penting penangkar tanah air mesti meningkatkan kualitas koi. Sejatinya Fauzia berpengalaman 7 tahun mengekspor koi ke Jerman. Pada 2004—2011 ibu 4 anak itu mengekspor sekitar 1.400 koi ke Jerman saban tahun.

Harga tergantung ukuran ikan, makin besar makin mahal. Sebagai gambaran harga koi berukuran rata-rata 20 cm mencapai €10—€20 setara Rp100.000—Rp200.000 (€1 rata-rata Rp10.000 pada 2008). Sementara koi berukuran 80 cm—105 cm berharga Rp80 juta—Rp125 juta per ekor. Saat itu tabungan Fauzia membengkak lantaran beromzet Rp1 miliar—Rp1,5 miliar setiap tahun.

Selain berbisnis koi, kini Fauzia Latief Suryonegoro juga menggeluti bisnis properti dan kuliner.

Selain berbisnis koi, kini Fauzia Latief Suryonegoro juga menggeluti bisnis properti dan kuliner.

Lelang koi
Koi tangkaran Fauzia memang jaminan mutu karena pernah meraih juara pada kontes koi internasional di Frankfurt, Jerman, pada 2008. “Pada ajang itu juara 1—3 adalah koi tangkaran saya,” kata pengusaha koi sejak 2004 itu. Khawatir ikan mati ketika kembali ke Indonesia, Fauzia melelang tiga koi jawara itu. Hasilnya koi shiro utsuri sepanjang 47 cm itu laku Rp80 juta. Koi lainnya berjenis showa shansoku sepanjang 42 cm dan kohaku sepanjang 36 cm laku rata-rata Rp60 juta.

Baca juga:  Koi dan Guppy Paling Elok

Itulah salah satu momen termanis Fauzia berbisnis koi. Semula ia tidak mengira bakal menggeluti bisnis koi. Fauzia kali pertama mendapat permintaan koi pada 2004 ketika berlibur ke Jerman. Seorang importir di Jerman meminta pasokan koi asal Indonesia setelah mengetahui kualitasnya. Ketika mengekspor kali pertama, Fauzia masih menjadi manajer hotel di Bali. Ia segera bermitra dengan beberapa peternak di Blitar, Jawa Timur, sentra koi tanah air.

Fauzia pun mempelajari berbagai persyaratan ekspor dan cara kirim koi ke mancanegara. Sepengalaman Fauzia pengiriman ikan pada kemasan plastik beroksigen masih aman untuk perjalanan kurang dari 30 jam. Adapun penerbangan dari Jakarta ke Berlin hanya 17 jam sehingga masih relatif aman jika perlakuan tepat. Pengiriman perdana 250 koi beragam jenis di negara pesepakbola Thomas Muller itu pun sukses.

Fauzia Latief Suryonegoro di ruang kerja pribadinya di Bekasi, Jawa Barat.

Fauzia Latief Suryonegoro di ruang kerja pribadinya di Bekasi, Jawa Barat.

“Permintaan makin tinggi karena kualitas koi Indonesia hampir sebanding dengan mutu ikan sejenis dari Jepang,” kata anak ke-2 dari 3 bersaudara itu. Puncaknya pada 2006—2011 Fauzia memasok 1.000—1.400 koi beragam jenis ke Jerman. Pengiriman terbanyak pada 2007 karena berbarengan dengan pameran koi tahunan di Jerman. Menurut Fauzia koi ramai di Jerman saat memasuki musim panas yakni pada Juni—Agustus.

Sejak Februari—April ia sudah mengirim koi bertahap untuk memasok ketersediaan barang. Ada 3 kali pengiriman dalam setahun. Diterimanya ekspor Fauzia bukti kualitas tangkaran koi tanahair memenuhi standar pasar koi Jerman. Di negara itu agak sulit mengembangkan koi sehingga perlu penambahan teknologi. Itulah sebabnya pehobi koi di Jerman dari kalangan menengah ke atas.

Baca juga:  Terkesan Koi Indonesia

Pehobi kerap menitipkan klangenannya pada pemasok jika tidak mempunyai alat penghangat kolam ketika musim dingin. Harap mafhum saat itu suhu mendekati titik beku. Fauzia menghindari itu lantaran dari Indonesia suhunya panas dan dingin ketika di Jerman. Dampaknya koi stres dan kulitnya memerah. Oleh karena itu, pengiriman saat musim panas lebih diutamakan.

Bisnis koi masih prospek, karena kontes koi internasional hingga regional selalu ramai tiap bulan.

Bisnis koi masih prospek, karena kontes koi internasional hingga regional selalu ramai tiap bulan.

Konsumen penyuka koi jenis showa dan kinginrin itu tidak hanya dari Jerman. Pada 2009 ia juga mengirim koi ke Belanda dan Swiss pada 2011. Perniagaan koi tidak selamanya manis. Pada 2013 ekspor koi menurun. Salah satu pemicunya keadaan ekonomi pun menurun. “Koi adalah kebutuhan tersier sehingga konsumen lebih mengutamakan kebutuhan primer atau sekunder,” kata perempuan pehobi kuliner itu. Aral lain muncul dari urusan produksi. Kualitas koi tangkaran tanahair merosot sehingga penjualan menurun.

Impor
Kebijakan pemerintah kurang mendukung karena pelarangan impor ikan hias. Meskipun benih lokal cukup bagus, tapi tidak memenuhi syarat masuk pasar internasional. Ikan yang bagus di tanah air memiliki kekerabatan relatif dekat sehingga kurang optimal jika ditangkarkan. Apalagi jika menghendaki ikan bongsor lebih dari 80 cm maka indukan impor diperlukan. “Koi impor berfungsi memperbaiki genetik,” kata perempuan kelahiran 9 November 1960 itu.

Kolam bersih idaman para pencinta koi.

Kolam bersih idaman para pencinta koi.

Kebijakan karantina juga tidak sesuai antara Indonesia dan negara tujuan. Misal ada 7 poin persyaratan karantina di dalam negeri, di negara tujuan ekspor ada poin yang lain yang berbeda. Solusinya Fauzia menyeleksi permintaan yang datang. Jika ada permintaan dan posisi ikan di Jepang, maka ia mengirim ikan itu dari Negeri Sakura ke negara tujuan. Musababnya ikan asal Jepang dilarang ke Indonesia karena kebijakan impor.

Fauzia Latief Suryonegoro berfoto dekat kit hidroponik di restoran rekannya di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Fauzia Latief Suryonegoro berfoto dekat kit hidroponik di restoran rekannya di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Dampaknya pembeli langsung memesan koi ke Jepang tanpa perantara penjual dari Indonesia. Sejak 2014 Fauzia jarang memenuhi permintaan dari mancanegara. Meski begitu bisnis pengusaha kuliner itu pun tetap berhubungan dengan koi. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d