Setelah Ipin Berkisah Ochee 1
Ochee, durian juara baru dari Malaysia

Ochee, durian juara baru dari Malaysia

Ochee kalahkan kelezatan musangking.

Ungkapan sohor di atas langit masih ada langit cocok buat dunia raja buah. Di kalangan maniak durian tiada yang pernah meragukan lezatnya musangking, durian jawara dari Malaysia. Durio zibethinus itu terbaik karena kualitas rasa di atas anghe asal Malaysia dan kanjau dari Thailand. Fakta bertahun-tahun itu runtuh ketika film animasi terkenal Malaysia, Upin Ipin, merilis episode raja buah pada 2013. Dikisahkan Tok Dalang mengirim duri hitam, durian andalannya, ke kontes durian di Kampung Durianruntuh.

Di ajang itu duri hitam memikat hati juri, Afdlin Shauki, sehingga dinobatkan menjadi yang terbaik. Duri hitam alias ochee menaklukan pesaing terberatnya musangking yang di arena lomba kematangan daging buah kurang seragam. Kisah di dunia fiksi yang menyebar ke seantero Asia itu bukan tanpa riset mendalam. Musababnya selain musangking, nama D-24 dan durian merah yang benar-benar ada di dunia nyata pun disebut-sebut.

Tim Maniak Durian berburu durian enak di Balik Pulau, Pulau Pinang, Malaysia. Nody Fajar dan Adi Gunadi (belakang) Lutfi Bansir dari Chong Fook Choon (depan)

Tim Maniak Durian berburu durian enak di Balik Pulau, Pulau Pinang, Malaysia. Nody Fajar dan Adi Gunadi (belakang) Lutfi Bansir dari Chong Fook Choon (depan)

Berburu ke sentra

Para maniak durian di tanahair pun berusaha mencari ochee hingga ke negeri jiran. Sebut saja Dr Lutfi Bansir SP MP dari Kalimantan Utara, Adi Gunadi dari Jakarta, dan Nody Fajar dari Kalimantan Barat yang berburu ochee ke Pulau Pinang, Malaysia, pada Juni 2014. Dari Bandar Udara Internasional Pulau Pinang, ketiganya langsung menuju Balik Pulau, sentra durian yang sudah melegenda. Di bagian barat Pulau Pinang itu sentra durian unggul seperti musangking, udang merah, holo, dan kunpo angbak, (baca : Sekali Lagi Demi Udang Merah, Trubus, Juli 2009).

Atas bantuan seorang kolega para pemburu itu menuju kebun durian milik Chong Fook Choon, di Pondok Upeh, Balik Pulau. Menurut Chong, maniak durian beretnis Tionghoa menyebutnya ochee berarti duri hitam. Musababnya, ujung duri buah itu berwarna kehitaman. Lazimnya duri durian berwarna seragam dengan pangkal atau kulitnya: hijau, hijau kecokelatan, atau hijau kekuningan. “Yang ini pangkalnya hijau dengan ujung hitam,” kata Chong sambil menyodorkan ochee. Bentuk buah bulat dengan bobot sedang 1,5-2,5 kg.

Baca juga:  Tanam Tiram Organik

Menurut Chong, pada 2013 Pemerintah Malaysia menggelar kontes durian dengan peserta dari beberapa negara bagian. Di ajang itu ochee meraih gelar johan 2013-alias juara-mengikuti jejak johan lain seperti udang merah (1996), holo (1997), dan kunpo angbak (2001). “Kontes biasanya hanya berlangsung di saat musim panen raya sehingga tidak berlangsung setiap tahun. Kadang ada kontes tapi sang juara kurang memukau,” kata Chong. Sebut saja D600 yang menjadi juara pada 2000, tapi kurang beken karena kualitas buah tidak stabil.

Sebelum mencicip ochee, Lutfi mencoba musangking yang telah berkali-kali dirasakannya di Malaysia dan di tanahair. Setelah itu, ia lalu mencomot pongge ochee. Daging buah ochee kuning mencolok layaknya mentega. Daging buah juga kering sehingga tidak lengket di tangan. Namun, begitu menempel di lidah teksturnya lembut sehingga rasa manis lengket saat dilumat.

Ochee alias black thorn, ujung durinya memang hitam

Ochee alias black thorn, ujung durinya memang hitam

Durian elok

“Luar biasa ada 5 kombinasi rasa tercecap. Orang Malaysia menyebutnya durian elok,” kata Adi Gunadi. Rasanya manis, gurih, lembut seperti es krim, dan agak pahit dengan sedikit aroma bunga durian yang lembut. Rasa itu stabil pada 0,5-6 jam pertama lalu berubah beralkohol setelah 6 jam. Dengan kualitas daging buah itu, menurut Chong, dalam kondisi sama-sama prima rasa durian ochee sebetulnya setara dengan musangking yang juga berdaging kering, manis, lembut, dan creamy.

Bedanya seringkali durian musangking yang dihasilkan dari kebun tidak seragam karena kendala cuaca. Misal, karena sebelum dipetik, turun hujan. Buah musangking juga kerap mangkak atau keras bila kondisi tanah kurang air. “Pengalaman saya durian ochee lebih stabil terhadap perubahan cuaca,” kata Chong. Pekebun lain di Balik Pulau, yakni Teik Hock Ooi sepakat dengan ucapan Chong. Menurutnya, hampir 90% buah ochee tergolong kategori grade A alias berkualitas sangat baik. Sebaliknya, pada musangking komposisinya bisa hanya 50% grade A, sisanya grade B.

Baca juga:  Jurus Urus Gabus

Menurut Lutfi ochee bukan tanpa kelemahan. Ia agak kurang tahan terhadap kanker batang Phythopthora sp. Oleh karena itu pekebun yang berniat menanam ochee harus mencegah penyakit maut durian itu berkembangbiak di kebun. Contohnya dengan menghindari kondisi tanah dan di tajuk lembap atau jenuh air. Beruntung, topografi di Balik Pulau yang miring membuat air hujan atau irigasi cepat terbuang sehingga tanaman cukup air tetapi kondisi tanah tidak jenuh air.

Suasana kebun durian, dikelola mengikuti kehendak alam dengan perawatan terbaik

Suasana kebun durian, dikelola mengikuti kehendak alam dengan perawatan terbaik

Menurut Nody Fajar, pekebun durian skala komersial di Balik Pulau juga berbeda dengan di tanahair. Mereka mengebunkan durian mengikuti kehendak alam. Maksudnya, kondisi kebun dibiarkan heterogen tanpa varietas dominan seperti kebun durian di kampung-kampung tapi dirawat benar dengan pemberian air yang teratur. Jarak tanam pun dibiarkan alami tanpa ukuran kaku seperti kebun durian komersial di tanahair.

Posisi kebun durian di tepi pantai pun menguntungkan. “Angin dari Selat Malaka ke daratan membawa beragam mineral yang dibutuhkan tanaman. Pengaruhnya hampir semua durian di sini citarasa umami,” kata Lutfi. Artinya terdapat rasa gurih.

Yang juga menarik, menurut Lutfi, pekebun di Pulau Pinang masih tetap menanam durian dari biji sebagai bentuk seleksi alam swadaya pekebun. Misal, dari durian juara dipilih biji dari buah terbaik lalu ditanam. Ketika tanaman berbuah bila dirasa kualitasnya setara atau lebih baik, mereka lantas menyertakan durian itu di ajang kontes. Dengan teknik sederhana itu durian baru hampir selalu muncul setiap tahun dari tangan dingin para pekebun. (Destika Cahyana, peneliti di Kementerian Pertanian, mahasiswa Pascasarjana di Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Chiba, Jepang)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *