Kebun krisan Junaidi Ketaren tanpa greenhouse dan lampu

Kebun krisan Junaidi Ketaren tanpa greenhouse dan lampu

Menanam tanpa lampu dan greenhouse, menghasilkan krisan berkualitas super.

Pemandangan tak biasa tampak di kebun krisan milik Juanidi Ketaren. Ribuan seruni alias krisan bermekaran di lahan 5.000 m2. Uniknya di kebun yang terletak di Kutagadung, Kecamantan Berastagi, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, itu tak terlihat lampu-lampu yang menyinari tanaman saat malam hari. Selain itu krisan juga tumbuh tanpa bangunan greenhouse sebagai rumah tanam seruni.

“Krisan itu tetap tumbuh subur dan cantik meski tanpa lampu dan greenhouse,” ujar pekebun krisan sejak 2000 itu. Ia membudidayakan krisan tanpa lampu dan greenhouse itu sejak 14 tahun silam. Hingga kini ia telah 21 kali panen bunga potong itu dengan kualitas tinggi hingga 75%. Ia panen 100.000 tangkai krisan dalam 6 bulan. Sebanyak 75.000 tangkai di antaranya termasuk kualitas super.

Tekwa kuning tetap cantik dan subur meski tanpa greenhouse

Tekwa kuning tetap cantik dan subur meski tanpa greenhouse

Awet
Ciri krisan bermutu super adalah daun segar, bunga segar dan bersih, dan diameter bunga cukup besar 4—7 cm. Harga krisan super di Berastagi berkisar antara Rp1.500—Rp3.000 per tangkai, sementara kualitas biasa hanya separuh harga super. Junaidi memasarkan melalui para pengepul krisan di Berastagi. Selain itu kesegaran krisan hasil budidaya di kebun Junaidi mampu bertahan hingga 14 hari pascapetik, sementara jenis lain hanya 7—10 hari pascapetik.

Junaidi membudidayakan dua jenis krisan, tekwa kuning dan tekwa putih salju. Menurut Junaidi pasar krisan di Berastagi menghendaki krisan berwarna kuning dan putih dibanding warna lain. “Penggunaan krisan kuning mencapai 35%, putih 35%, merah 10%, sisanya beragam warna seperti merah muda dan jingga,” ujarnya. Ia memperoleh bibit secara turun-temurun dari orang tuanya.

Baca juga:  Krisan Tumbuh Tanpa Tanah

Menurut pengawas kultivar dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) IV Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, Arnold Simatupang, dua krisan itu varietas lokal di Berastagi. Asal-muasal krisan itu dari kolonial Belanda saat menjajah Indonesia. “Dua varietas itu akan segera dilepas menjadi krisan unggulan nasional,” ujar Arnold.

Tekwa putih salju awet hingga 14 hari pascapetik

Tekwa putih salju awet hingga 14 hari pascapetik

Pemulia krisan di Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), Prof Dr Budi Marwoto, mengatakan dua krisan itu masuk Indonesia pada 1940 dan para petani membudidayakannya pada 1960. “Krisan itu sudah adaptif dengan lingkungan di Indonesia karena terus-menerus ditanam petani secara turun-temurun,” ujar Budi.

Petani di Berastagi menanam krisan tanpa lampu dan greenhouse sejak 1960-an. Menurut Prof Dr Budi Marwoto, budidaya krisan di Indonesia lazimnya menggunakan greenhouse untuk menahan pengaruh lingkungan ekstrem yang membuat tanaman tak sehat. “Pengaruh itu bisa berupa curah hujan yang tinggi sehingga membuat tanaman rentan busuk dan serangan hama serta penyakit yang lebih ganas,” ujar Budi.

Sementara lampu berfungsi untuk menambah panjang hari agar kebutuhan cahaya tanaman terpenuhi sehingga tanaman berproduksi optimal. Krisan memerlukan panjang penyinaran rata-rata 14—16 jam per hari. Pada umumnya petani menyalakan lampu sejak pukul 18.30—21.30 selama budidaya krisan. Maka wajar para petani krisan rela merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk membangun rumah tanam seruni.

Krisan kerap menjadi bagian dalam rangkaian bunga

Krisan kerap menjadi bagian dalam rangkaian bunga

Hemat
Tiadanya greenhouse dan lampu menyebabkan biaya produksi krisan di lahan Junaidi relatif rendah dibanding petani lain yang menggunakan kedua perlengkapan itu. Sebagai gambaran untuk membuat greenhouse berukuran 18 m x 15 m, dengan rangka kombinasi bambu dan kayu beratap plastik ultraviolet, para petani menginvestasikan Rp15-juta. “Bangunan itu hanya bisa bertahan selama 5 tahun,” kata petani krisan sejak 2000 itu.

Baca juga:  Berkibar Lewat Industri Benih

Jika dalam lima tahun Junaidi mampu 7 kali budidaya krisan, maka biaya penyusutan mencapai Rp2.144.000 per sekali penanaman. Adapun untuk lampu LED, petani di lahan 5.000 m2 seperti Junaidi memerlukan 825 buah yang mampu bertahan rata-rata 15 tahun. Biaya pembelian sebuah lampu saat ini Rp100.000. Dengan demikian penghematan lampu per sekali penanaman Rp2.230.000.

Junaidi Ketaren mendapat bibit krisan tekwa warisan dari orang tuanya

Junaidi Ketaren mendapat bibit krisan tekwa warisan dari orang tuanya

Penanaman krisan model Junaidi terbukti efisien. Menurut Budi Marwoto para petani krisan lain memungkinkan mengadopsi inovasi itu. Syaratnya varietas yang digunakan adalah krisan lokal dan teknik budidaya juga harus intensif, terutama pencegahan hama dan penyakit. Mengapa krisan di lahan Juanidi tetap berkembang optimal meski tanpa lampu dan greenhouse? Arnold mengatakan bahwa varietas lokal itu memang tahan banting terhadap cuaca, iklim, dan hama penyakit. Namun teknik budidayanya juga harus intensif.

Junaidi Ketaren memang membudidayakan krisan itu secara intensif. Petani berusia 38 tahun itu menanam krisan pada Juli—November setiap tahun. Ia hanya 3 kali membudidayakan tanaman anggota famili Asteraceae itu per 2 tahun. Sebagai tanaman sela, ia memanfaatkan selada. (Bondan Setyawan)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d