Seronok Gincu Baru 1
Bunga lipstik mahligai memiliki bibir mahkota melipat ke luar hasil radiasi sinar gamma pada A. pulcher

Bunga lipstik mahligai memiliki bibir mahkota melipat ke luar hasil radiasi sinar gamma pada A. pulcher

Lurik dan mahligai bunga lipstik teranyar.

Garis panjang di permukaan bunga lipstik itu mengingatkan pada sebuah merek permen belang di pasaran. Warnanya hitam pekat kontras dengan warna bunga yang merah menyala. Lazimnya bunga lipstik tidak bercorak. Pantas, jika sang penyilang, Dr Sri Rahayu, peneliti di Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menjuluki lurik pada silangannya. Lurik lahir dari silangan antara induk jantan Aeschynanthus tricolor dengan induk betina A. radicans. Keduanya merupakan koleksi Kebun Raya Bogor sejak 1994.

Induk jantan memiliki sosok bunga cenderung lebih kecil. Mahkota bunga pendek bergaris hitam samar dengan kelopak berbentuk mangkuk merah. Sementara induk betina bermahkota panjang tanpa garis dengan kelopak lonjong hijau. “Lurik mewarisi keunggulan masing-masing induk,” ujar Sri Rahayu. Garis hitam adalah warisan sang ayah, sedangkan sosok panjang diperoleh dari ibu.

Bunga lipstik soedjana kassan bercorak lurik varietas anyar dari Kebun Raya Bogor

Bunga lipstik soedjana kassan bercorak lurik varietas anyar dari Kebun Raya Bogor

Soekka
Rahayu menuturkan varian anyar lipstik tergolong sulit didapat, sebab harus tersedia dua bunga yang mekar serempak dari spesies berbeda. “Kami belum menguasai teknik penyimpanan polen bunga lipstik jadi persilangan dilakukan dengan menggunakan dua bunga yang matang bersamaan,” katanya. Ia membidani lahirnya lurik pada 2001. Ketika itu A. tricolor dan A. radicans tengah mekar.

Pengelola Laboratorium Treub di Kebun Raya Bogor (KRB) itu menyilangkan 10 pasang bunga lipstik. Namun, hanya sepasang yang mampu bertahan menjadi buah matang. Rahayu lantas menyemai biji buah itu pada media campuran serbuk sabut kelapa dan cacahan pakis dengan perbandingan 2 : 1. Dari ratusan biji yang disemai itu hanya ada satu kecambah bertahan hidup. “Maklum, biji lipstik sangat kecil dan rentan mati,” kata Rahayu. Ketika kecambah yang tersisa itu sudah berukuran 10 cm, Rahayu memindahnya pada media tanam baru berupa campuran cacahan pakis dan serbuk sabut kelapa dengan perbandingan 2:1.

Tetua jantan A. tricolor memiliki corak lurik, tetapi ukuran tabung pendek

Tetua jantan A. tricolor memiliki corak lurik, tetapi ukuran tabung pendek

Tanaman berbunga pertama kali pada 2006. Kelopak bunga dan mahkota bunga berbentuk tabung masing-masing sepanjang 2 cm dan 5 cm, sedangkan diameter 1,5 cm dan 1,7 cm. Warna bunga merah tua. Pada bagian luar terdapat pola garis hitam dan berbulu halus. Malai bunga muncul di ketiak daun. Umumnya malai bunga lipstik muncul di ujung percabangan.

Baca juga:  Kampiun Bermodal Nongnong

Setiap malai terdiri atas 2—4 bunga dan tahan hingga 2 minggu setelah mekar. “Lurik mekar lebih lama dibanding kedua induknya yang hanya mampu bertahan sepekan saja,” kata Rahayu. Corak bunga lurik yang mencolok itu kontras dengan untaian daun nan hijau. Bentuk daun elips dengan pangkal membulat dan ujung runcing. Rahayu menuturkan lurik sudah melalui serangkaian uji coba meliputi unsur kebaruan, unik, seragam, dan stabil.

Lurik mendapat sertifikat perlindungan varietas tanaman dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian, Kementerian Pertanian, pada Desember 2011. Sejatinya nama resmi si bunga lurik itu yakni soedjana kassan disingkat soekka. “Saya menyematkan nama itu sebagai pernghargaan kepada Soedjana Kassan sebagai pimpinan Kebun Raya Bogor pertama dari tanahair,” kata Rahayu.

Dr Sri Rahayu, peneliti dari Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI - Sosok A. pulcher

Dr Sri Rahayu, peneliti dari Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI
– Sosok A. pulcher

Mahligai
Menurut Ir Deborah Herlina Adriani MS, peneliti tanaman hias di Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), Cipanas, Jawa Barat, kekuatan aeschynanthus ada pada sosok bunganya. “Yang dinikmati utama adalah bunganya. Sebab, bentuk daun aeschynanthus cenderung sama,” katanya. Ia menuturkan bunga lipstik yang bagus adalah bunga muncul di sekujur tangkai tak kenal musim.

Soekka alias lurik berbunga sepanjang tahun, tetapi bunga raya berlangsung pada Februari—Mei. Perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara vegetatif. Selain melakukan persilangan, Rahayu juga menggunakan teknik radiasi untuk mendapatkan jenis baru lebih cepat. “Jika periset menyilangkan atau melakukan hibridisasi butuh waktu bertahun-tahun sebab menunggu tanaman berbuah,” katanya. Doktor Genetika Konservasi, alumnus Institut Pertanian Bogor itu, menembakkan sinar gamma ke titik tumbuh setek batang A. pulcher sepanjang 10 cm. Ia mencoba 4 perlakuan dengan dosis berbeda.

Sosok A. pulcher

Sosok A. pulcher

Pada masing-masing dosis tidak semua tanaman dapat tumbuh. Hanya 50% yang bertahan hidup dan berbunga. Dari tanaman yang berbunga itu, Rahayu memilih tanaman yang memiliki keunikan menonjol, misal warna atau bentuk bunga. “Penembakan sinar gamma mengubah susunan gen tanaman sehingga menghasilkan tanaman baru dengan berbagai keragaman,” katanya. Dari seleksi itu, ia mendapatkan mahligai, mutasi pulcher yang memiliki bibir mahkota melipat ke luar. Kini, mahligai sedang melalui serangkaian uji sebelum dilepas sebagai varietas baru.

Baca juga:  Hari Pangan Sedunia ke-36: Ajang Pameran Produk Unggul

Di tanahair, bunga lipstik memang bukan komoditas tanaman hias utama. Menurut Ricky Hadimulya, penangkar tanaman hias di Bogor, Jawa Barat, umumnya bunga lipstik sebagai tanaman gantung di gazebo atau dekorasi ruangan. “Tanaman itu tidak boleh terkena sinar matahari langsung sebab daun bisa terbakar,” katanya. Ia menuturkan bunga lipstik paling pas dirawat di dataran menengah ke atas. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *