580-H028-1

Peranti pengendali hama dan penyakit walet. Aman bagi walet dan sarang karena tanpa pestisida kimia.

Peranti pengendali hama dan penyakit walet. Aman bagi walet dan sarang karena tanpa pestisida kimia.

Peternak walet di Kabupaten Sidendreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan, Darul Mani, pusing tujuh keliling. Produksi sarang walet miliknya turun drastis pada awal 2017. Ia hanya memanen 0,5 kg, lazimnya 1 kg dari bangunan di atas lahan 110 m2. Ia menduga penyebab turunnya hasil panen karena kehilangan 50—100 ekor walet di gedungnya. Jika rata-rata 2 walet menghasilkan 1 sarang dan harga jual per sarang Rp500.000, kerugian Darul Rp12,5 juta—Rp25 juta per sekali panen.

Menurut peternak walet sejak 2013 itu walet kabur karena tidak nyaman akibat cendawan menumpuk di papan sirip. Selain itu meningkatnya populasi semut  si liur emas makin tidak betah. Semut menggerogoti sarang dan menggigit walet. Akibatnya walet pun kabur. Menurut Darul kondisi itu lazim terjadi di setiap gedung. Namun, jika pemilik rumah walet membiarkan kerugian akan terus bertambah, bahkan hingga 100%.

580-H028-2

Iklim mikro dalam rumah walet cocok untuk perkembangan hama dan cendawan.

Bahaya residu

Untuk menanggulangi masalah itu Darul mencoba menyemprotkan pestisida dan fungisida. Hasilnya nihil, meskipun serangga mati. Selang beberapa pekan serangan berulang. “Mungkin karena aplikasi kurang merata hingga ke lubang-lubang kecil,” katanya. Menurut konsultan walet di Jakarta, Harry Wijaya, keadaan rumah walet yang gelap, minim sirkulasi udara, dan lembap cocok untuk tumbuh berbagai hama dan cendawan.

Hama yang menyerang dan menggerogoti sarang di antaranya rayap, kutu, semut, kecoak, cecak, dan tokek. Hewan-hewan itu bisa menggerogoti sarang walet. Adapun jamur biasanya tumbuh di sirip. Dampaknya walet enggan bersarang sehingga produksi sarang anjlok. Jika dibiarkan maka bakal terjadi penurunan produksi hingga 100%. Untuk menanggulanginya peternak walet lazim menggunakan pestisida.

Baca juga:  Luka Bakar Tertutup Teripang

Meski ampuh mengendalikan cendawan, fungisida mengandung alkohol sehingga membuat walet tidak betah. Menurut Harry pemilik rumah walet sebaiknya menerapkan pola budidaya secara sehat tanpa asupan bahan kimia berbahaya. “Sarang walet terkenal dengan makanan sehat, sehingga budidayanya pun harus sehat,” katanya. Harry mengatakan, Indonesia sebagai salah satu produsen sarang walet terbesar di dunia mesti menjaga kualitas sarang.

580-H029-2

Perubahan warna pada sarang, karena sifat sarang yang selalu menyerap zat dari luar.

Harap mafhum Indonesia sempat terkendala ekspor akibat isu nitrit pada sarang. Oleh karena itu, Harry mengimbau agar meninggalkan cara lama menggunakan bahan kimia yang bersifat racun. “Sarang walet bersifat mudah menyerap, jika dalam budidaya menggunakan zat berbahaya bukan tidak mungkin residunya terserap di sarang,” kata pria 48 tahun itu. Sifat sarang walet yang mudah menyerap adalah kerap terjadi perubahan warna sarang. Dampak lain aplikasi racun kimia di gedung walet bisa membuat hama resisten. “Serangga yang tidak mati karena racun kimia anakannya akan bermutasi menjadi lebih adaptif terhadap racun itu. Maka dosis racun pun makin tinggi,” papar Harry. Itulah sebabnya Darul pun meninggalkan pengendalian secara kimiawi. Setahun terakhir, Darul menggunakan pengendalian nonkimiawi. Cara kerja alat pengontrol hama dan cendawan itu menggunakan uap panas.

580-H029-1

Pakar walet asal Jakarta, Harry Wijaya.

Alat aman

Darul memanfaatkan mesin pengendali hama yang terdiri atas tabung berkapasitas 6 liter. Peranti itu itu juga dilengkapi 5 nozel berbeda yang bisa disesuakan dengan keadaan gedung. Peternak sebaiknya menggunakan peranti itu berbarengan dengan perawatan dan panen. Tujuannya menekan piyik agar terhindar embusan uap. Harry mengatakan untuk menggunakan alat itu pemilik rumah walet hanya perlu menambahkan air bersih sebagai bahan baku ke dalam tabung.

Baca juga:  Tempe Atasi Hipertensi

“Pemanasan air hanya perlu waktu sekitar 30 menit, dengan listrik 900 Watt saja sudah bisa diaplikasikan,” kata Harry. Peternak bisa mengatur suhu uap panas itu hingga 200oC. Meski begitu, hama misal  rayap, kutu, semut, kecoak, cecak, dan tokek terkontrol pada suhu 70—100oC. “Karena sudah berbentuk uap panas pasca aplikasi ruangan tidak menjadi basah dan aman karena tanpa bahan kimia,” kata Harry.

Darul mengatakan, “Uap panas bisa membunuh hama dan cendawan.” Menurut Harry alat kreasinya aman baik bagi pengguna, walet, dan kualitas sarang yang dihasilkan. Karena arah uap panas terukur dan tepat sasaran. Harapan Harry peternak walet di tanah air bisa menghasilkan sarang organik. Dengan demikian dunia makin mengakui kualitas sarang walet asal Indonesia. (Muhamad Fajar Ramadhan)

580-H029-3

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d