Seri Walet (224): Nestapa Walet Karena Asap 1
Asap dapat memicu walet bermigrasi.

Asap dapat memicu walet bermigrasi.

Bencana kabut asap di Sumatera dan Kalimantan mempengaruhi kehidupan walet.

Matahari bak noktah samar di langit Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Padahal, saat itu jarum jam menunjukkan pukul 12.00. Sinar matahari mestinya deras membanjiri bumi. Namun, sinar matahari kalah oleh tebalnya asap yang mengepung langit. Udara pun terasa gerah dengan hawa panas menyergap kulit. Kabut asap tebal yang melingkupi Pekanbaru diduga akibat kebakaran lahan atau pembakaran lahan secara serampangan.

Tebalnya kabut asap berimbas pada terganggunya aktivitas warga sehari-hari. “Jarak pandang menjadi terbatas, belum lagi bau debu yang menyengat,” ujar Hendra Gunawan, warga Pekanbaru. Jarak pandang hanya berkisar 200—300 m. Kondisi itu membuat warga berhati-hati saat beraktivitas di jalan raya. Aktivitas penerbangan pun lumpuh akibat terbatasnya jarak pandang.

Kebakaran hutan bisa berujung pada anjloknya produksi sarang walet.

Kebakaran hutan bisa berujung pada anjloknya produksi sarang walet.

Sulit pakan
Kondisi udara tidak sehat. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 400, kondisi ideal 0—50. Lima pencemar utama yakni karbon monoksida, nitrogen dioksida, ozon permukaan, sulfur dioksida, dan partikel debu menjadi indikator pencemar udara. Level 400 itu berbahaya dan rentan menyebabkan infeksi saluran pernapasan. Oleh karena itu warga wajib mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah.

Asap tebal juga terlihat saat menyusuri Kabupaten Kampar, Kabupaten Rokanhulu, dan Dumai—semua di Provinsi Riau. Bahkan ISPU Kota Dumai pada pertengahan September 2015 mencapai 965. Kondisi serupa juga dijumpai saat bertandang ke Kabupaten Pelalawan. Pekatnya asap sejatinya turut mengancam keberadaan walet. Menurut Dr Dipl Biol Boedi Mranata, pengusaha walet di Jakarta, tebalnya asap berpotensi mengganggu penglihatan walet saat berburu serangga.

Seperti halnya manusia, kepungan asap membuat jarak pandang Collocalia fuchipaga menjadi pendek dan terbatas. Imbasnya keberadaan serangga yang selama ini merupakan pakan utama walet menjadi tak terlihat. Jika hal itu berlangsung lama, maka dapat menyebabkan walet kelaparan dan bisa berujung kematian. Padahal, Pulau Sumatera dan Kalimantan digadang-gadang menjadi sentra baru pengembangan walet di Nusantara.

Baca juga:  Diskusi Bambu

Pemandangan jejeran rumah walet yang saling berdekatan begitu mudah dijumpai di beberapa daerah di kedua pulau itu. Berkembangnya usaha walet di Pulau Sumatera dan Kalimantan itu tidak terlepas dari menyusutnya daya dukung lingkungan di Pulau Jawa dalam menjamin ketersediaan pakan. Ironisnya, daerah potensial pengembangan walet justru penuh asap.

Paparan asap menyulitkan walet mencari pakan.

Paparan asap menyulitkan walet mencari pakan.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dr Sutopo Purwo Nugroho, hingga 11 September 2015, berdasarkan pantauan satelit Terra dan Aqua, terdapat 575 titik panas di Pulau Sumatera dan 1.312 titik di Kalimantan. Jika dibiarkan kondisi itu bisa menimbulkan petaka. Seiring meningkatnya risiko kematian walet akibat asap, produksi sarang dipastikan anjlok.

Sementara walet yang bertahan hidup akan memilih berpindah tempat atau migrasi. Mereka mencari tempat hidup yang lebih nyaman dan pakan melimpah. “Satu rute migrasi walet dari Sumatera bisa menyasar ke bagian utara Malaysia atau selatan Thailand,” ujar Boedi. Walet dari Kalimantan bisa berpindah tempat ke wilayah Sabah dan Sarawak, Malaysia.

Ekspor
Wilayah Johorbahru, Johor, juga menjadi tujuan migrasi walet dari Indonesia. Budidaya walet di sana berkembang pesat berkat walet yang bermigrasi dari Indonesia. Wilayah relatif bebas asap dengan hamparan sawah dan sumber perairan tawar sebagai sumber pakan berlimpah menjadikan Johorbahru hunian baru bagi walet. Kondisi itu berbanding terbalik dengan kondisi Sumatera dan Kalimantan yang penuh asap.

Kebakaran hutan dan lahan menyebabkan asap menyelimuti sentra-sentra walet.

Kebakaran hutan dan lahan menyebabkan asap menyelimuti sentra-sentra walet.

Menurut Harry K Nugroho dari Eka Walet Center, Kelapagading, Jakarta Utara, lokasi dengan sumber pakan berlimpah menjadi tempat nyaman untuk walet berkembang biak. Harry menuturkan walet mampu terbang sejauh 80 km. Dengan jangkauan jelajah sejauh itu, maka tak mustahil walet bisa berpindah antarnegara mencari kondisi yang lebih nyaman untuk tinggal.

Baca juga:  Strategi Merintis Usaha Sarang Burung Walet

Paparan asap yang terus berulang saat Indonesia membutuhkan banyak pasokan sarang walet berkualitas. Iitu seiring dengan keran ekspor ke Tiongkok yang mulai terbuka. Ekspor sarang walet pada masa mendatang diharapkan mampu mendongkrak devisa nonmigas di tengah ekspor migas yang melempem. Jika kondisi itu terus berlangsung, potensi besar liur emas hanya akan menguap ketika asap yang kian pekat. (Faiz Yajri, kontributor Trubus di Jakarta)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments