Label yang dikeluarkan instansi berwenang pemerintahan Tiongkok, wajib terpasang di setiap keping sarang walet.

Label yang dikeluarkan instansi berwenang pemerintahan Tiongkok, wajib terpasang di setiap keping sarang walet.

Para peternak dan pedagang menginginkan sarang walet dari Indonesia singgah kembali di Tiongkok.

Banyak orang memenuhi ruang pertemuan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tiongkok pada 12 Maret 2015. Dalam acara konferensi pers mengenai ekspor sarang burung walet ke Tiongkok itu hadir 50 perwakilan dari berbagai kalangan, pejabat berwenang pemerintahan Tiongkok seperti CAIC (Chinese Academy of Inspection and Quarantine) dan CNCA (Certification and Accreditation Administration of the People’s Republic of China), para importir, serta pedagang sarang walet.

Wartawan dari media cetak dan elektronik setempat turut meliput acara yang digelar seharian penuh itu. Acara itu terselenggara sebagai wujud keseriusan pemerintah Republik Indonesia dan Asosiasi Peternak dan Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI) untuk meyakinkan pemerintahan Tiongkok agar terus membuka keran impor sarang walet dari Indonesia. Pada 2010 ekspor sarang walet Indonesia sempat berhenti karena pemerintah Tiongkok melarang perdagangan liur emas.

Boedi Mranata (kiri) bertindak sebagai panelis dalam konferensi pers di Kedutaan Besar Indonesia di Tiongkok.

Boedi Mranata (kiri) bertindak sebagai panelis dalam konferensi pers di Kedutaan Besar Indonesia di Tiongkok.

Ekspor perdana
Tiongkok menghentikan impor sarang walet karena dianggap mengandung nitrit (NO2) yang melebihi ambang batas sehingga membahayakan kesehatan. Citra sarang walet makin buruk akibat berita negatif yang tersiar di surat kabar dan televisi setempat.

Citra sarang walet yang semula menjadi tambang devisa bagi Indonesia hanyalah tinggal kenangan. Penulis memperkirakan peredaran sarang walet ketika itu hanya tinggal 20%. Itu pun ilegal dengan harga 70% di bawah normal. Titik terang terlihat saat PT Adipurna Mranata Jaya berhasil melakukan ekspor perdana sarang walet ke Tiongkok pada 29 Januari 2015.

Perusahaan yang bergerak di dunia perwaletan sejak 30 tahun silam itu merupakan satu dari tiga perusahaan yang lolos seleksi untuk melakukan ekspor. Perusahaan lain yang lolos adalah PT Esta Indonesia dan PT Surya Aviesta. Pada ekspor perdana itu banyak kendala administrasi dan teknis yang dihadapi. Prosedur ekspor sarang walet ke Tiongkok saat ini panjang dan berbelit. Tujuannya memang bagus, yakni untuk melindungi konsumen dan menjamin keamanan pangan.

Prosedur panjang dan berbelit, tapi ekspor harus tetap dijalankan.

Prosedur panjang dan berbelit, tapi ekspor harus tetap dijalankan.

Syarat detail
Tiongkok dikenal negara yang paling konsisten di dunia dalam mengawasi keamanan pangan. Banyak produsen nakal yang melakukan pemalsuan produk sehingga berbahaya bagi kesehatan mendapat sanksi berat hingga hukuman mati. Maka wajar jika persyaratan izin ekspor sarang walet saat ini superketat. Salah satu bukti kehati-hatian pemerintah Tiongkok dalam perdagangan sarang walet tercermin dalam tracebillity atau tingkat ketelusuran produk yang akan diimpor.

Baca juga:  Setulus Kelinci

Mereka menyaratkan produk yang akan diekspor harus disertai informasi detail tentang lokasi rumah burung, waktu pemanenan, proses pencucian, pemanasan 70°C untuk menghilangkan virus H5N1, pengemasan, dan alat transportasi yang digunakan saat pengiriman. Sarang yang diekspor juga harus berasal dari rumah walet yang telah disurvei instansi berwenang dari Tiongkok. Kadar nitrit (NO2) harus kurang dari 30 ppm.

Sementara bentuk dan ukuran sarang tidak dibatasi. Sarang berbentuk mangkuk hingga sarang sudut dengan beragam ukuran dan berwarna putih boleh diekspor. Oleh sebab itu saat ini di pasaran bisa ditemukan 7—8 kategori kualitas sarang. Sarang yang lolos selanjutnya ditempeli label yang dikeluarkan instansi berwenang dari Tiongkok. Efek prosedur ekspor yang panjang dan membutuhkan waktu lama itu juga berimbas pada naiknya biaya yang mencapai 30—40% dari sebelumnya.

Jumlah ekspor perdana itu juga masih sedikit bila dibandingkan dengan periode sebelum pelarangan ekspor. Sebelumnya Tiongkok menyerap minimal 400 ton sarang walet per tahun. Sebanyak 300 ton di antaranya diimpor dari Indonesia, melalui Hongkong. Menurut para perwakilan 6 perusahaan eksportir—termasuk 3 perusahaan lulus bersyarat yang hadir dalam konferensi pers—target ekspor awal saat ini pasti tidak setinggi angka ekspor 10 tahun silam. Setidaknya saat ini bisa memasok 10% dari jumlah ekspor sebelumnya atau sekitar 30 ton per tahun.

Ekspor meningkat
Itu tak jadi masalah, sebab meski yang melakukan ekspor masih hitungan jari dengan volume terbatas, tapi menjadi sinyal positif terhadap perdagangan sarang walet secara keseluruhan. Kesuksesan menembus langsung pasar Negeri Tirai Bambu itu dinilai praktisi walet sebagai prestasi yang sangat membanggakan dan menggembirakan. Indikasi positif terlihat 3 bulan pascaekspor perdana.

Harga sarang walet meningkat 20% atau 2 kali lipat dibanding pada 2013. Sarang-sarang walet ilegal—dikirim melalui jalur khusus—pun kembali marak diperdagangkan. Artinya, kepercayaan masyarakat Tiongkok terhadap keamanan pangan sarang walet mulai pulih. Seiring berjalannya waktu, para eksportir pun semakin paham cara pengurusan administrasi dan mengatasi hambatan-hambatan teknis saat pengiriman. Kini volume ekspor terus meningkat.

Baca juga:  Benteng Ketika Hujan

Tercatat sejak Januari—Juni 2015, masing-masing eksportir sukses mengirim lebih dari 10 kali dengan jumlah beragam dari puluhan sampai ribuan kilogram sekali kirim. Berdasarkan tren itulah para eksportir merasa optimis target 10% dari total ekspor ke Tiongkok bisa terwujud. Namun, penulis yang juga ketua Bidang Perdagangan APPSWI, bersama Soegeng Rahardjo, duta besar Indonesia untuk Tiongkok, berpendapat ekspor tanpa dibarengi sosialisasi tak bisa berjalan maksimal.

Para pemangku jabatan di instansi yang berwenang di Tiongkok menghadiri konferensi pers.

Para pemangku jabatan di instansi yang berwenang di Tiongkok menghadiri konferensi pers.

Musababnya, meski sudah ratusan tahun mengonsumsi sarang walet, masyarakat Tiongkok masih waswas karena pemberitaan negatif tentang ditemukannya sarang walet yang diproses menggunakan bahan kimia yang kurang aman untuk kesehatan. Itulah sebabnya APPSWI dan Kedutaan Besar Indonesia untuk Tiongkok menyelenggarakan konferensi pers. Dalam konferensi pers itu pertanyaan seputar keamanan mengonsumsi sarang walet banyak dilontarkan para importir dan pedagang asal Tiongkok.

Maklum, selama ini mereka sepenuhnya hanya mendengar pemberitaan yang berkembang di media setempat, tanpa berusaha mencari fakta dari negara asal produk. Untuk melanggengkan kesuksesan ini, penulis sebagai ketua Bidang Perdagangan APPSWI mengajak kepada semua eksportir terpilih, agar konsisten mengikuti aturan ekspor yang sudah disepakati. Menjaga kualitas sarang kunci utama supaya citra sarang walet yang bernilai gizi tinggi tetap terpelihara.

Penulis menghimbau agar para eksportir tidak pernah lelah berpromosi. Ekspor langsung ke negeri konsumen sarang walet terbesar di dunia itu hendaknya dijadikan momentum yang sangat baik untuk mengembalikan perdagangan sarang walet yang tengah lesu. Pemerintah Tiongkok akan terus memantau perdagangan sarang walet. Oleh sebab itu, jika ada butir-butir perjanjian yang dilanggar sebelum berlangsung 3 tahun, maka pintu masuk sarang walet mungkin akan terkunci kembali selamanya. Jika sudah begitu pupuslah impian untuk mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai pemasok terbesar sarang walet ke Negeri Panda. (Dr Dipl-Biol Boedi Mranata, ketua Asosiasi Peternak dan Pedagang Sarang Walet Indonesia)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d