Sarang walet berkualitas ekspor siap kirim ke Tiongkok

Sarang walet berkualitas ekspor siap kirim ke Tiongkok

Indonesia kembali mengekspor langsung sarang walet ke Tiongkok.

Ir Banun Harpini MSc berjalan menuju sebuah kardus cokelat berukuran 50 cm x 50 cm. Tangan kanan kepala Badan Karantina Pertanian itu memegang sebuah stiker bertuliskan “inspected”. Ia segera menempelkan stiker itu di atas kardus cokelat berisi sarang walet. “Ini momen baik menjelang ulang tahun ke-65 hubungan diplomatik antara Indonesia dan Tiongkok pada 13 April 2015 mendatang,” ucap Banun.

Itulah ekspor perdana sarang walet ke Tiongkok, negara konsumen terbesar. Disebut perdana karena sejak 2010 pemerintah negeri Tirai Bambu itu mulai mempersulit impor sarang walet dari tanah air. Pemicunya antara lain karena sarang walet asal Malaysia dan Indonesia ditengarai mengandung nitrit (NO2) yang membahayakan kesehatan (baca “Sarang Tersandung Nitrit” Trubus edisi Maret 2012 halaman 32—33).

Ir Banun Harpini MSc (memegang stiker) didampingi Dr Dipl Biol Boedi Mranata (ketiga dari kanan) saat menyegel kardus berisi sarang walet siap ekspor

Ir Banun Harpini MSc (memegang stiker) didampingi Dr Dipl Biol Boedi Mranata (ketiga dari kanan) saat menyegel kardus berisi sarang walet siap ekspor

Ekspor langsung
Menurut Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Peternak dan Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI), Dr Dipl-Biol Boedi Mranata, ekspor pada 29 Januari 2015 itu juga kali pertama dilakukan secara langsung dari Indonesia ke Tiongkok.

Boedi mengatakan ekspor sarang walet itu sinyal bagus bagi dunia walet Indonesia. “Diperkirakan akan ada kenaikan harga sekitar 30—50% dari harga sekarang. Namun, akan sulit untuk mencapai harga seperti pada awal 2010,” katanya. Sebelum 2010, harga sarang walet berkualitas mencapai Rp15-juta—Rp16-juta per kg.

Ketika larangan ekspor berlaku, harga turun menjadi Rp5-juta—Rp6-juta per kg. Namun, pada Februari 2015 harga walet berkualitas beranjak naik menjadi Rp9-juta per kg. Prediksi Boedi ternyata benar. Sebab, pada Oktober 2013 ia menduga bakal terjadi kenaikan harga sarang walet pada 2015 (baca “Prediksi 2015 Harga Naik” Trubus edisi Oktober 2013 hal 34—35). Ekspor perdana dan langsung ini berkat perjuangan yang panjang dan memakan waktu 5 tahun yang diawali inisiatif Boedi Mranata.

Pihak-pihak yang terlibat dalam acara ekspor perdana langsung sarang walet ke Tiongkok

Pihak-pihak yang terlibat dalam acara ekspor perdana langsung sarang walet ke Tiongkok

Boedi sangat prihatin melihat kondisi ekspor sarang walet Indonesia yang sejak 2010 mulai turun drastis sekitar 20%. Kemudian pada 2012 rumah-rumah walet ditelantarkan karena harga sarangnya sangat murah hanya tinggal 30%. Dampaknya banyak peternak dan tempat pemrosesan sarang bangkrut serta mengalami kerugian besar.

Baca juga:  Khasiat Jempolan Jahe

Untuk menghadapi situasi sulit itu pihak APPSWI yang diwakili oleh Boedi, bekerja sama dengan pihak antara lain Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Kehutanan berusaha menembus hambatan ekspor ini ke Tiongkok yang merupakan konsumen terbesar sarang walet.

Lulus uji
Perjuangan yang sangat lama ini awalnya dilakukan oleh Boedi dengan menemui Menteri Perdagangan Indonesia (Mari Elka Pangestu) dan Menteri Perdagangan Tiongkok (Chen Deming) di Yogyakarta pada 3 April 2010 dalam acara The Joint Commision on Economic,Trade, and Technical Cooperation antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Tiongkok. Pada acara itu, Boedi menemui dan mendiskusikan langsung dengan Chen Deming tentang kesulitan ekspor walet langsung dari Indonesia. Selanjutnya Mari Elka Pangestu meminta Chen Deming agar sarang walet Indonesia bisa segera diekspor langsung ke Tiongkok.

Ketika itu Chen Deming menyatakan, pada prinsipnya pihaknya setuju dan akan mengirim petugas General Administration of Quality Supervision, Inspection, and Quarantine (AQSIQ) untuk menindaklanjuti permasalahan itu. Kemudian pada 16—23 Mei 2010, datanglah 4 petugas AQSIQ dari Tiongkok. Mereka memeriksa beberapa rumah walet dan tempat pemrosesan sarang walet di Sumatera dan Jawa.

Menurut Boedi, Indonesia pada awalnya tidak bisa mengekspor sarang walet langsung karena isu flu burung (H-5-N1). Indonesia masih tercatat sebagai negara endemis flu burung di WHO Geneva. “Isu virus H-5N1 sangat merugikan bisnis walet Indonesia,” kata Boedi yang juga presiden direktur PT Adipurna Mranata Jaya.
Menurut Boedi, Pemerintah Tiongkok mempersyaratkan semua sarang walet dipanaskan pada suhu 700C selama 3,5 detik dengan oven sebelum diekspor supaya bebas virus flu burung.

Selain isu flu burung (H-5N1), sarang walet Indonesia juga terkena dampaknya isu nitrit. Dari kunjungan ke rumah walet dan tempat pemrosesan sarang walet, petugas AQSIQ mengeluarkan beberapa ketentuan agar Indonesia bisa mengekspor langsung komoditas itu. Ketentuannya antara lain standar batas maksimum nitrit 30 ppm.

Menteri Pertanian Indonesia Suswono, Boedi Mranata, dan Menteri AQSIQ (Zhi Shuping) (dari kiri) di Beijing, 24 April 2014

Menteri Pertanian Indonesia Suswono, Boedi Mranata, dan Menteri AQSIQ (Zhi Shuping) (dari kiri) di Beijing, 24 April 2014

Ketelusuran
Selanjutnya Suswono sebagai Menteri Pertanian Republik Indonesia dan Mr. Zhi Shuping sebagai Menteri Administrasi Umum Pengawasan Mutu, Inspeksi dan Karantina Tiongkok (AQSIQ), menandatangani protokol tentang Persyaratan Higenitas, Karantina, dan Pemeriksaan untuk Importasi Produk Sarang Burung Walet dari Indonesia ke Tiongkok pada 24 April 2012 di Beijing.

Baca juga:  Laba Pembesaran Gabus

Sebagai pengecekan terhadap 8 perusahaan eksportir yang dicalonkan dari pemerintah Indonesia, datanglah 4 petugas dari Certification and Accreditation Administration of the People’s Republic of China (CNCA) pada tanggal 12—23 Januari 2014. Selanjutnya berdasarkan hasil survey, hasil penilaian terhadap 8 perusahaan tersebut diumumkan pada tanggal 9 Oktober 2014. Perusahaan yang lulus uji yaitu PT Adipurna Mranata Jaya, PT Esta Indonesia, dan PT Surya Aviesta. Adapun tiga perusahaan lain lulus bersyarat dan dua perusahaan tidak lulus.

Pemerintah negeri Tiongkok dengan lebih dari 1-miliar penduduk itu juga menginginkan informasi lengkap mengenai asal sarang walet yang diekspor (ketelusuran/tracebility). Syarat ketelusuran itu dimulai dari perusahaan produsen atau pengekspor sarang walet yang telah memenuhi persyaratan pemerintah Indonesia dan CNCA. Setiap perusahaan harus memiliki data lengkap mengenai rumah walet tempat sarang dihasilkan, tempat proses sarang dan prosedur kerjanya, serta nama importir sarang di Tiongkok.

Setiap sarang yang diekspor diberi label khusus berupa QR Code yang bisa dibaca menggunakan telepon pintar sehingga bisa ditelusur dari mana sarang tersebut berasal.

Intinya bila terjadi kasus yang membahayakan konsumen, Tiongkok dapat menelusuri mulai dari importir, eksportir, prosesing sarang, hingga ke rumah waletnya. Konsultan walet di Jakarta, Hary K Nugroho MBA, mengatakan ekspor itu menunjukkan sarang walet Indonesia dipercaya dan diterima dunia Internasional. Hary berharap pada masa mendatang ekspor sarang ke Tiongkok bisa lancar dan harga meningkat kembali. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d