Tenaga surya di rumah walet berkembang di daerah yang minim sumber listrik

Tenaga surya di rumah walet berkembang di daerah yang minim sumber listrik

Menggabungkan sistem audio dan memerangkap sinar matahari solusi rumah walet di daerah tanpa listrik.

Membangun rumah walet di daerah terpencil bagai pisau bermata dua. Di satu sisi menjanjikan keuntungan tinggi lantaran belum adanya pesaing, tetapi di sisi lain kerap muncul hambatan dalam penyediaan sarana dan prasarana budidaya. “Penyebabnya apa lagi kalau bukan infrastruktur daerah yang serba terbatas, sehingga proses pembuatannya lebih lama,” ujar Philip Yamin.

Itu pula yang kerap menghantui Philip Yamin saat hendak mendirikan rumah walet di pedalaman Kalimantan 10 tahun silam. Salah satu sarana penting itu adalah listrik. “Listrik digunakan untuk menghidupkan audio sistem, penerangan, dan pengisian air,” ujar konsultan walet di Kalideres, Jakarta Barat, itu. Namun, memasang instalasi listrik untuk rumah walet barunya itu terlalu merepotkan, lantaran Perusahaan Listrik Negara (PLN) belum masuk ke wilayah itu.

Suara tweeter magnet lebih kuat dalam memikat walet

Suara tweeter magnet lebih kuat dalam memikat walet

Tenaga surya
Menurut Yamin, “Proses pemasangan instalasi listrik pasti sangat mahal karena belum ada jaringan di area itu. Penjagaan dan pembayaran tagihan juga susah karena saya tinggal di Jakarta.” Beragam kendala itu membuat Yamin berpikir keras mencari jalan keluar. Akhirnya pria yang menekuni dunia walet sejak usia 19 tahun itu menemukan ide menggunakan panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik di rumah waletnya.

“Teknologi tenaga surya bukan barang baru di dunia walet, tetapi jarang ditemui cara penggunaan yang benar,” ujarnya. Ia mencontohkan, panel surya dengan voltase hingga 60 watt, karena keinginan sang pemilik untuk menggunakan berbagai keperluan, maka pemakaiannya bisa melebihi kapasitas sehingga alat menjadi rusak. Menurut Philip kekeliruan itu karena dua faktor.

Pertama pengguna tidak memperhitungkan kebutuhan listriknya terlebih dahulu. Kedua, karena pengguna memaksakan panel surya bekerja lebih tinggi daripada kapasitas sesungguhnya. “Petunjuk pengaturan menjadi sangat penting dan batasan kapasitas menjadi aturan yang baku dan tidak boleh dilanggar sedikitpun,” ujarnya. Philip menyarankan untuk menggunakan solar system yang sepaket dengan sistem audio.

Baca juga:  Vanili dari Sabut

Ia mengombinasikan dua perangkat itu untuk memenuhi kebutuhannya dan para mitranya. Philip Yamin menggabungkan panel tenaga surya buatan pabrik dan audio yang ia rancang sendiri. Pengusaha walet itu sanggup membuat perangkat audio dengan kemampuan menghasilkan 100 tweeter, 2 kanal, dan 1 suara hanya dengan panel surya berdaya 60 watt. Biayanya juga tak terlalu tinggi, Rp4-juta belum termasuk baterai.

Bandingkan dengan merangkai sendiri biaya investasi awal bisa mencapai mencapai Rp15-juta. (Baca: Rumah Walet Tenaga Surya, Trubus Feburari 2011). Meski berkualitas tinggi dan bisa tahan hingga 20 tahun, penggunaan perangkat itu sedikit mubazir. “Kemampuan perangkat bernilai Rp4-juta-an itu cukup untuk rumah walet di daerah-daerah yang masih baru atau biasa disebut pioner,” ujar ayah satu anak itu.

Philip Yamin mengombinasikan instalasi listrik tenaga surya di rumah walet dengan sistem audio

Philip Yamin mengombinasikan instalasi listrik tenaga surya di rumah walet dengan sistem audio

Pelosok
Tweeter atau kicauan yang biasanya digunakan di daerah pioner adalah piezo. Menurut Philip ada dua kelompok tweeter atau kicauan untuk pemikat walet yaitu suara piezo dan magnet. “Suara magnet lebih kuat dalam memikat walet sehingga membutuhkan watt lebih tinggi,” katanya. Suara magnet cocok untuk lokasi-lokasi yang sudah banyak berdiri bangunan walet.

Sementara untuk daerah baru atau pioner, tweeter piezo sudah cukup. “Untuk menghemat penggunaan listrik, rumah walet di daerah baru sudah cukup menggunakan suara piezo yang lebih kecil kebutuhan listriknya,” ujar Philip. Dengan volume maksimal, kebutuhan listrik tweeter keramik piezo hanya 0,0075 watt per buah. Bandingkan dengan tweeter magnet yang mencapai 14 watt.

Pengaturan instalasi audio dan sistem solar juga perlu memperhatikan kekuatan suara. Satuan suara biasa disebut desibel. “Semakin tinggi desibel, maka semakin tinggi pula daya wattnya,” ujar Philip. Begitu pula dengan panjang pendeknya instalasi kabel. “Semakin panjang kabel, otomatis wattnya juga lebih tinggi,” katanya.

Baca juga:  Pemanggil Walet Tahan Lama

Listrik yang berasal dari panel surya dan aki sebaiknya hanya digunakan untuk peralatan elektronik yang arusnya searah atau DC (direct current). Banyak pemain menggunakan peralatan elektronik berarus bolak-balik AC (alternating current). Untuk menyiasati hal itu perlu memasang inverter—alat yang mengkonversikan DC menjadi AC.

Maka penggabungan audio dan sistem solar atau panel surya harus memperhatikan banyak hal. “Namun yang terpenting kita harus tahu terlebih dahulu berapa daya listrik yang kita butuhkan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa tujuan penggunaan panel surya hanya untuk penyedia listrik bagi kebutuhan budidaya walet di daerah-daerah pelosok.

Panel surya berdaya 60 watt bisa hidupi 100 tweeter

Panel surya berdaya 60 watt bisa hidupi 100 tweeter

Tambah produksi?
Harry K Nugroho MBA, konsultan walet di Kelapagading, Jakarta Utara, mengungkapkan hal senada. Penggunaan sistem solar cocok untuk daerah-daerah yang terbatas listriknya dan teknologi itu hanya sebagai penyedia listrik pengganti PLN, sehingga tidak berpengaruh langsung terhadap produksi sarang walet. “Solar sistem cocok untuk daerah-daerah pelosok seperti di kebun kelapa sawit dan rawa-rawa di pedalaman Kalimantan yang belum tersentuh listrik,” ujarnya.

Menurut Dr Arief Budiman, konsultan walet di Kendal, Jawa Tengah, perawatan sistem belum familiar di Indonesia sehingga membutuhkan pengetahuan terlebih dahulu. Selain itu penempatan audio harus diperhatikan. “Hindari meletakkan audio sistem di tempat lembap dan panas,” ujar Arief Budiman. Menurut Philip, paket sistem solar dan audio berkembang di tiap-tiap pelosok daerah seperti Sumatera, Kalimantan, Lombok, dan Sulawesi.

Menurut Philip, penggunaan sistem solar sepaket dengan audio di daerah pelosok mempercepat peternak walet menghasilkan sarang lantaran lebih cepat berdiri dan beroperasi. “Saat menemukan daerah baru dan prospeknya bagus, rumah walet harus segera berdiri dan beroperasi. Jika tidak, kesempatan menjadi pioner hilang karena pemilik modal besar akan segera tahu daerah baru itu dan lebih cepat membangun rumah walet,” ujar Philip.

Menurut Philip Yamin semakin cepat beroperasi, persaingan lebih kecil sementara investasi petani walet lebih cepat kembali. Oleh karena itu, penggunaan perangkat solar sistem dan audio sudah sangat tepat untuk rumah walet di pelosok daerah yang akan menjadi pioner. (Bondan Setyawan)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d