Rumah walet biru banyak dijumpai di Desa Tumbangsamba, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah

Rumah walet biru banyak dijumpai di Desa Tumbangsamba, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah

Cuma di jantung Borneo semua rumah walet terbuat dari kayu.

Bangunan tinggi berwarna biru menarik perhatian Harry K Nugroho MBA. Saat itu Hary tengah menyeberangi Sungai Katingan di Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah. Suara cericit burung menemani perjalanan konsultan walet di Kelapagading, Jakarta Utara, itu. Sekali melihat, Hary langsung mengetahui jenis burung itu adalah walet. Di sepanjang jalan menyusuri sungai itu ia melihat walet berseliweran.

Hary mengatakan Collocalia fuchipaga tengah mencari mangsa berupa serangga. Burung kerabat kolibri itu mencari makan hampir seharian dan kembali saat sore. Kehadiran walet meyakinkan Hary bahwa bangunan berwarna biru itu adalah rumah walet. “Ini pertama kali saya melihat rumah walet berwarna biru. Cukup unik,” kata alumnus Oral Roberts University, Oklahoma, Amerika Serikat, itu.

Dari kayu
Sejauh mata memandang Hary mendapati sekitar 50 bangunan serupa. Setelah 25 menit menyusuri sungai Hary tiba di Desa Tumbangsamba, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Sebelumnya ia mesti menempuh perjalanan 3 jam dengan bermobil dari ibukota provinsi Palangkaraya. Hary menjadi tamu undangan di Festival Danau Mare 2014 sekaligus pembicara pada seminar walet.

Ia mengatakan populasi walet di daerah itu masih bagus dan cocok untuk pengembangan. Sebab desa itu berdekatan dengan hutan dan perkebunan. Selain itu lokasi desa berada di tepi sungai sepanjang 650 km itu. Di lingkungan seperti itulah banyak serangga kecil yang menjadi pakan utama alami walet. Dijamin walet tidak kekurangan pakan.

Hary K Nugroho MBA, "Ini pertama kali saya melihat rumah walet berwarna biru."

Hary K Nugroho MBA, “Ini pertama kali saya melihat rumah walet berwarna biru.”

Menurut Hary rumah walet di Kecamatan Katingan Tengah itu mulai berkembang sejak 2011. Saat itu harga walet terkoreksi sehingga bisnis walet mulai bergeliat, terutama di pedalaman. “Itu tandanya bisnis walet masih berprospek,” kata pemilik Eka Walet Center itu. Sebelumnya mayoritas mata pencaharian masyarakat setempat yaitu berkebun, penebang pohon, dan penambang emas. Sejak ada peraturan yang melarang penebangan dan penambangan liar, masyarakat mulai beralih mencari pekerjaan baru.

Baca juga:  Rezeki dari Boneka Tanaman

Salah satu usaha yang tengah berkembang dan ditekuni masyarakat yaitu budidaya walet. Masyarakat lokal membangun rumah walet yang berbeda dari kelaziman. Terutama terkait bahan baku. Lazimnya rumah walet terbuat dari beton. Bangunan dari beton itu bisa ditemui di sentra-sentra walet seperti di Palangkaraya, Sedayu, Provinsi Jawa Timur, dan Cirebon (Jawa Barat). Ada juga yang terbuat dari setengah beton dan kayu.

Trubus pernah menjumpai rumah walet bertipe sama di pedalaman Palembang, Sumatera Selatan. Sementara rumah walet di Katingan seluruhnya terbuat dari kayu. Masyarakat menggunakan kayu ulin dan meranti sebagai bahan baku pembuat rumah walet. Kayu itu dipilih karena bisa bertahan lebih dari 15 tahun. Masyarakat lebih memilih kayu karena harga kayu lebih rendah ketimbang batu bata.

Rumah panggung
Selain itu, “Kayu mudah didapat dan jumlahnya memadai,” kata Hary. Harap mafhum 73,22% dari Kabupaten Katingan berupa hutan sehingga pasokan kayu terjaga. Harga kayu pun lebih murah ketimbang harga di kota besar. Di desa itu harga kayu Rp600.000 per m3, sedangkan di Jakarta mencapai Rp4-juta—5-juta per m3. Ukuran rumah walet pun berbeda.

Di lokasi itu rumah walet berukuran rata-rata 8 m x 6 m. Hary mengatakan ukuran standar rumah walet yaitu 8 m x 8 m. Meskipun begitu ukuran rumah walet bisa berubah sesuai kondisi lingkungan. “Saya membangun rumah walet berukuran 7,5 m x 8 m menyesuaikan luas lahan,” kata Andoy, salah seorang warga. Perbedaan lainnya yaitu rumah walet di Katingan menyerupai rumah panggung.

Hary mengatakan masyarakat di Kelurahan Sambakahayan itu membangun 4 tingkat rumah walet. Tinggi 4 ruangan masing-masing 2,5 m. Pemilik rumah walet membiarkan lantai pertama tanpa dinding sehingga hanya berdiri beberapa tiang penyangga. Itu bertujuan menghindari serangan satwa liar seperti biawak. Lantai 2 dan 3 sebagai ruang sarang, sedangkan lantai 4 sebagai ruang putar.

Dinding rumah walet kayu dilapisi stirofoam dan seng

Dinding rumah walet kayu dilapisi stirofoam dan seng

Di atas lantai 4 terdapat bangunan berukuran 4 m x 4 m dengan lubang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 1 m x 0,5 m. Fungsinya untuk keluar masuk burung anggota keluarga Apodiae itu. Selain kayu, dinding rumah walet dilapisi stirofoam dan seng. Stirofoam berfungsi menahan panas sekaligus menutupi celah yang masih terbuka antarkayu. Seng berada paling luar untuk menangkal sinar matahari.

Baca juga:  Lele: Generasi Kedua Sangkuriang

Masyarakat lokal mengecat seng itu dengan warna biru tanpa alasan jelas. Hary mengatakan pembudidaya walet di tempat itu mencontoh total bangunan walet yang sudah ada sebelumnya. Jagau—salah satu pemilik rumah walet di Katingan—menuturkan ia mencontoh persis rumah walet tetangganya. Tidak heran jika banyak rumah walet serupa tersebar di daerah yang memiliki bandara itu. “Termasuk dinding warna biru karena meniru rumah walet orang lain,” ujar penghobi jalan-jalan itu.

Pemilik lokal
Cat biru tidak berperan menarik walet masuk ke rumah karena burung itu tidak bisa membedakan warna. Lantaran terbuat dari kayu, pembuatan rumah walet pun tergolong cepat yaitu 2 bulan dengan 4 orang tenaga kerja. Berdasarkan pengalaman peternak sebulan setelah rumah jadi walet mulai menghuni tempat itu.

Rumah walet paling tua yang berumur 3 tahun bisa menghasilkan 1.000 sarang atau sekitar 1 kg liur walet. Pembeli dari Banjar dan Sampit datang dan membeli liur emas itu Rp5-juta—Rp6-juta per kg. “Harga sarang walet itu relatif bagus untuk di daerah,” kata Hary. Jagau menghabiskan rata-rata Rp150-juta untuk membangun rumah walet berukuran 8 m x 6 m.

Menurut Hary harga itu relatif murah jika dibandingkan dengan harga di Palangkaraya yang mencapai Rp400-juta. Hampir 90% pemilik rumah walet adalah penduduk setempat. Sisanya pemilik rumah walet berasal dari Banjar, Kalimantan Selatan. Hary mengatakan itu bagus agar perekonomian masyarakat setempat meningkat sehingga makmur dan sejahtera di daerah sendiri. (Riefza Vebriansyah)

 

Cover.pdf

Seluruh rumah walet terbuat dari kayu. Ukuran rumah rata-rata 8 m x 6 m. Rumah berbentuk seperti panggung karena lantai pertama dibiarkan kosong. Hampir semua rumah walet dicat biru.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d