Seri Walet (210): Liur Emas di Antara Riuh 1
Rumah walet di tengah pasar di Desa Kemuning

Rumah walet di tengah pasar di Desa Kemuning

Bangunan di tengah pasar menjadi bangunan walet.

Sebuah bangunan walet bertingkat tiga itu berdiri tegak di atas pasar. Kerumunan walet pun hilir mudik di sekitar bangunan. Rumah walet yang terletak 30 m dari jalanan utama Pasar Kemuning, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, itu digunakan sebagai tempat berjualan di lantai dasar. Keberadaan rumah walet yang menyatu dengan pasar itu memang langka. Selama 3 jam melakukan perjalan dari Pekanbaru menuju Tandun, Kecamatan Tapunghulu, Kabupaten Kampar, tidak ditemukan sama sekali rumah walet di antara perkebunan sawit.

Sepanjang perjalanan hanya terlihat hamparan kebun kelapa sawit dan sesekali truk penuh muatan tandan buah segar (TBS) yang keluar dari kebun sawit. Tidak sulit memang menemukan hamparan ladang kelapa sawit di Bumi Sarimadu—julukan Kabupaten Kampar. Mafhum, Kampar memiliki lahan sawit paling luas di Provinsi Riau. Luasnya mencapai 700.000 ha dari total 2,2-juta lahan sawit di Riau.

Lantai bawah dimanfaatkan untuk aktivitas perdagangan

Lantai bawah dimanfaatkan untuk aktivitas perdagangan

Rumah monyet
Lantai kedua dan ketiga bangunan itu memang khusus digunakan sebagai rumah walet. Sebuah rumah monyet beratap seng terlihat di puncak bangunan. Rumah monyet itu memiliki lubang masuk berukuran 60 cm x 40 cm. Sebab dimanfaatkan untuk berjualan, pemilik gedung tidak bisa menyetel tweeter—suara pemancing walet—dengan volume kencang. Dari jalanan utama, suara tweeter mulai tak terdengar.

Itu bukanlah satu-satunya rumah walet di sana. Sekitar 100 m dari rumah walet itu, terlihat rumah walet 4 tingkat dengan ukuran lebih besar 20 m x 25 m. Konstruksinya pun tak berbeda jauh, di puncak bangunan terdapat rumah monyet.
Di sekitar Pasar Kemuning hanya ada 2 rumah walet. Rumah walet kembali dijumpai saat melintasi Pasar Kasikan. Sebuah gedung tanpa cat berlantai lima dimanfaatkan sebagai rumah walet. Bedanya, pada rumah walet itu lantai pertama dimanfaatkan sebagai toko sementara lantai kedua sebagai rumah tinggal. Bangunan walet di lantai ketiga hingga kelima terlihat unik. Lantaran luasnya hanya setengah ukuran gedung pada lantai kesatu dan kedua.

Gedung perkantoran dan toko pun tidak luput memanfaatkan bagian atas untuk rumah walet

Gedung perkantoran dan toko pun tidak luput memanfaatkan bagian atas untuk rumah walet

Kehadiran kotak sabun—sebutan lain rumah monyet—juga penting karena rumah walet berada di daerah padat bangunan walet. Kotak sabun yang menjulang itu membuat penampilan rumah walet secara keseluruhan menjadi lebih tinggi dibandingkan bangunan lain. Itu akan mempermudah walet muda untuk masuk. Sejauh ini rumah monyet identik dengan bangunan baru. Namun, rumah lama juga bisa dilengkapi rumah monyet di lantai teratas. Syaratnya, kehadiran rumah kubus itu tidak mengganggu lubang masuk yang sudah ada.

Baca juga:  Atasi Bulu Rontok

Menurut Harry K Nugroho konsultan walet di Kelapagading, Jakarta Utara, rumah monyet dapat dianggap sebagai setengah lantai. Artinya bangunan walet 3 lantai dengan sebuah rumah monyet di atasnya, bisa dianggap bangunan walet tiga setengah lantai. “Letak rumah monyet bebas di bagian mana pun di lantai teratas dengan minimal ukuran 4 m x 4 m dan tidak boleh menyamai luas lantai teratas,” kata Harry.

Kebun kelapa sawit yang terhampar lokasi walet berburu pakan

Kebun kelapa sawit yang terhampar lokasi walet berburu pakan

Pasar
Hingga menuju lokasi perkebunan kelapa sawit di Tandun, tidak ada lagi rumah walet lainnya. Ada gula ada semut, ada pasar ada rumah walet. Saat perjalanan kembali dari Tandun, Trubus memutar arah menuju Pekanbaru searah Duri. Di Pasar Flamboyan, Kelurahan Tanjungsait, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, tampak rumah walet bertebaran lebih banyak daripada 2 pasar sebelumnya.

Sebuah rumah walet berlantai 3 berjarak 10 m dari jalanan utama berdiri kokoh dengan rumah monyet di puncak bangunan. Sebab lokasinya di tengah pasar maka lantai dasar sudah tentu digunakan untuk aktivitas perdagangan. Kehadiran rumah walet tampak mencolok karena menjulang tinggi di tengah rimbunan bangunan lain. Itu hanyalah satu dari sekian banyak rumah walet di sekitar Pasar Flamboyan. Pengamatan Trubus total ada 4 rumah walet.

Setiap 100 m kita bisa menemukan rumah walet. Rumah walet 4 lantai mencuat dan sebuah bangunan walet lain dicat dengan warna putih. Tidak jauh dari situ, sebuah bangunan menyerupai kompleks pertokoan pun tidak absen memanfaatkan bagian atas bangunan sebagai rumah walet. Seluruh rumah walet itu terlihat seperti bangunan baru.

Rumah walet lima lantai di Pasar Kasikan

Rumah walet lima lantai di Pasar Kasikan

Pemanfaatan bangunan baru sebagai rumah walet di Pulau Sumatera merupakan hal yang berbeda dengan kebanyakan rumah walet yang ada di Pulau Jawa. Di Jawa, biasanya bangunan walet memanfaatkan bangunan yang sudah ada untuk disulap menjadi tempat yang nyaman bagi walet.

Baca juga:  KULIT PISANG

Menurut Jeffrin Hulawa, warga Pekanbaru, kehadiran rumah walet di tengah pasar memang memiliki alasan sendiri. “Keamanan rumah walet menjadi terjaga sebab berada di tengah keramaian,” ujar Jeffrin. Pemilik rumah tidak perlu secara khusus melakukan langkah pengamanan dibandingkan rumah walet yang berada di tengah perkebunan.

Perawatan yang mudah pun menjadi alasan para pebisnis liur emas itu mendirikan rumah walet di tengah pasar. “Kondisi rumah walet selalu terjaga lantaran kondisi rumah walet selalu terpantau,” katanya. Dengan demikian setiap ada masalah bisa langsung terselesaikan. Di sisi lain pemilik rumah walet tak perlu khawatir tentang sumber pakan. Di belakang pasar-pasar tersebut terhampar rimbunan kebun sawit sebagai sumber pakan. (Faiz Yajri, Kontributor Trubus)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *