Rumah walet milik Viktor di Kecamatan Sandubuaya, Mataram, Nusa Tenggara Barat

Rumah walet milik Viktor di Kecamatan Sandubuaya, Mataram, Nusa Tenggara Barat

Tiga lampu berdaya 5 watt itu memikat si liur emas sekaligus menjaga bangunan walet dari hama.

Sebuah bangunan walet di Jalan Teguh Faisal, Kecamatan Sandubuaya, Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, itu terlihat berbeda. Pemilik rumah walet mengecat hitam di sekeliling lubang masuk walet berukuran 60 cm x 30 cm. Di setiap sisi sudut atas lubang masuk juga terpasang masing-masing sebuah lampu bohlam 5 watt. Warna bohlam itu kuning muda. Total ada 2 lampu yang dipasang. Itulah satu-satunya rumah walet yang khas di jalan sepanjang 2,8 km.

Persis di tengah lubang masuk bagian bawah terdapat lampu bohlam berdaya serupa. Warna bohlam itu merah. Ketiga lampu terpasang itu membentuk bidang segitiga bila dilihat dari kejauhan. Menurut Viktor, pengelola rumah walet, fungsi lampu-lampu itu untuk memikat walet yang terbang pada saat sore hari. Pada waktu itu ratusan walet terbang berputar-putar di atas langit di Jalan Teguh Faisal.

Lubang masuk walet sebaiknya searah dengan arah terbang walet ketika pulang

Lubang masuk walet sebaiknya searah dengan arah terbang walet ketika pulang

Hama menyingkir

Menurut Viktor, “Lampu akan menyala mulai sore hari sekitar pukul 17.00 dan dipadamkan pada pukul 05.00.” Cara yang ditempuh Viktor itu cukup ampuh memancing walet masuk. Meski tidak dapat menyebutkan jumlah walet masuk, setiap kali panen, pemilik bangunan walet berupa ruko satu lantai itu dapat memetik 0,3-0,5 kg sarang. Jumlah yang cukup besar mengingat rumah walet itu tanpa alat tweeter untuk memikat walet masuk.

Posisi bangunan walet yang tidak searah jalan dengan arah terbang walet menjadi alasan lain pemakaian lampu itu. Harap mafhum posisi lubang masuk walet mengarah ke barat. Padahal walet lazimnya datang dari arah timur. Oleh sebab itu posisi lubang masuk walet menjadi terbalik. “Lampu bohlam itu dipakai untuk memikat walet yang terbang melintas,” ujar Viktor yang menyebutkan pemilihan bohlam kuning dan merah itu karena cahayanya diduga bisa menggoda Collocalia fuciphaga.

Burung hantu salah satu hama walet

Burung hantu salah satu hama walet

Lampu-lampu yang dipasang tanpa penaung itu juga terbukti efektif membuat burung hantu, salah satu hama walet menyingkir. Tyto alba yang bersifat nokturnal alias beraktivitas pada malam hari itu memang tidak menyukai cahaya. “Selama 2 tahun lampu itu dipasang tidak ada seekor pun burung hantu masuk,” kata Viktor. Sejatinya pemakaian lampu bohlam di lubang masuk walet bukan sesuatu yang baru. “Sejak lama lampu telah dipakai, tapi biasanya dipakai lampu bohlam putih,” kata Harry K Nugroho, praktikus walet di Kelapagading, Jakarta Utara.

Baca juga:  Gembili Gempur Kanker

Pemilik Eka Walet Center itu mengungkapkan lampu bohlam berguna pula memikat serangga yang hendak kawin untuk datang. Serangga merupakan pakan alami walet. Sejauh ini belum dijumpai riset yang memperlihatkan kemampuan cahaya berwarna dalam memikat burung. Namun, pada pemeliharaan unggas, cahaya berwarna terbukti memberi pengaruh terhadap konsumsi pakan. Riset Eka Novianto dan rekan dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya di Malang, Jawa Timur, mengunakan lampu bohlam 2,5 watt memperlihatkan warna merah dengan panjang cahaya 680 nanometer dan kuning 550 nanometer dapat meningkatkan konsumsi pakan burung puyuh masing-masing menjadi 23,85 gram/hari dan 22,92 gram per hari.

Lubang masuk

Lampu bohlam di lubang masuk untuk memikat walet yang melintas

Lampu bohlam di lubang masuk untuk memikat walet yang melintas

Posisi lubang masuk walet terbalik seperti dialami Viktor ke depan bakal mengundang masalah. Menurut Arif Budiman, konsultan walet di Kendal, Jawa Tengah, bila posisi pintu  masuk walet  menghadap searah jalan walet pulang, dapat dipastikan walet tidak langsung mendengar suara panggil dari tweeter. Contoh koloni walet yang terbang ke utara, sementara suara panggil juga mengarah ke utara, tidak akan saling bertemu. “Pemakaian suara untuk memancing walet menjadi tidak efektif,” katanya.

Namun bila pemilik menyiasati dengan menyetel volume suara cericit walet kencang-kencang, boleh jadi koloni walet yang terbang memperlambat laju terbang lalu mencari sumber suara. “Dari 10 walet yang mendengar lalu berbelok mencari sumber suara mungkin di bawah separuhnya,” kata Arif. Berikutnya bila lubang masuk walet tidak menghadap arah walet pulang, banyak walet yang tidak mengetahui bangunan itu memiliki lubang masuk. “Walet jadi kebingungan,” tutur Arif.

Kerugian lain si empunya bangunan adalah saat walet muda terbang pertama kali dan kesulitan menjumpai rumah asal saat akan kembali. Mereka akan masuk ke bangunan walet lain. Itulah salah satu biang kerok populasi walet muda menyusut di dalam bangunan. Oleh sebab itu pemasangan lampu bohlam untuk memikat hanya sebuah solusi sementara waktu, sebelum arah lubang masuk sesungguhnya dibuat. Namun untuk mengatasi hama lampu bohlam itu sudah terbukti manjur. (Dian Adijaya Susanto, Kontributor Trubus)

Baca juga:  Akademi Peternak Muda

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d