Seri Walet (208): Riuh Berubah Senyap 1
Rumah walet berderet di jalan utama hingga gang kecil, tetapi sepi cericit walet

Rumah walet berderet di jalan utama hingga gang kecil, tetapi sepi cericit walet

Menyusuri kejayaan walet masa lalu di Lubukpakam.

Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 ketika Trubus tiba di Lubukpakam, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Warga kota baru saja beranjak dari rumah masing-masing untuk memulai aktivitas. Jalanan masih lengang. Kendaraan bermotor hanya sedikit yang melintas. Hiruk pikuk lalu lintas di ibukota kapubaten itu belum terasa. Suasana pagi itu justru ramai oleh bunyi tweeter pemanggil walet yang terdengar sangat nyaring hingga radius 100 m.

Di sepanjang jalan utama memang berjejer gedung-gedung walet. Bagi pelancong atau pendatang mungkin tidak menyangka bila bangunan 4—5 lantai itu tempat tinggal si liur emas. Musababnya, dinding luar bagian depan bangunan itu berlapis keramik. Tembok bangunan tampil menarik dengan warna-warna menyala. Di setiap lantai terdapat jendela kaca besar berbingkai kayu aneka bentuk. Sekilas memang mirip hunian biasa.

Kosong
Meski suara tweeter terdengar di sepanjang jalan, hanya beberapa ekor walet yang terbang melintasi langit kota. Menurut Ali Rahman, warga setempat, biasanya setiap pagi ia melihat walet-walet berhamburan ke luar sarang. Suaranya riuh. “Malahan kalau sore langit penuh sesak oleh gerombolan walet yang pulang kandang,” ujar Rahman. Namun, sudah dua tahun terakhir pemandangan itu hilang.

Pembakaran hutan membuat udara tercemar sehingga walet tidak betah

Pembakaran hutan membuat udara tercemar sehingga walet tidak betah

Trubus yang menyusuri ruas jalan hingga 1 km menjumpai beberapa bangunan walet kosong. Posisinya tepat di pinggir jalan hanya dipisahkan trotoar. Ukuran bangunan beragam, rata-rata 40 m2 hingga 90 m2 dan terdiri atas 2—5 lantai. Di setiap lantai terdapat lubang udara berdiameter 10 cm. Bagian atap bangunan walet beragam. Sebagian ada yang datar, tetapi ada pula yang memiliki bangunan kecil sebagai rumah monyet untuk keluar masuk burung.

Baca juga:  Kelor: Pohon Ajaib Panasea

Pintu masuk itu berukuran 2 kali lebih besar daripada pintu masuk bangunan walet di Jawa. Rata-rata ukuran lubang masuk di Jawa 90 cm x 30 cm. Setiap bangunan dilengkapi dengan tweeter pemanggil walet. Jejak si liur emas juga terlihat hingga jalan-jalan kecil. Bangunan tampak megah, tetapi kosong. Yang tersisa hanya cericit dari pengeras suara.

Arief Budiman, praktikus walet di Kendal, Jawa Tengah, menuturkan kondisi serupa pernah ia jumpai di Ketapang, Kalimantan Barat. “Saat diusut ternyata pemilik menerapkan cara panen buang telur,” katanya. Mereka memanen sarang saat telur belum menetas. Harga jual sarang hasil panen buang telur memang cukup tinggi sebab sarang bersih, bebas cairan, dan kotoran.

Di Kalimantan Tengah, seorang pengusaha juga harus menelan pil pahit lantaran hasil panen merosot drastis. Padahal, gedung-gedung lain justru panen melimpah. Arief menuturkan cara itu menjadi bumerang bagi pemilik. Pengelolaan panen yang kurang bijak itu baru dirasakan dampaknya 7 tahun kemudian. “Yang tersisa hanya walet-walet tua sebab tidak ada regenerasi,” kata Arief. Selain buang telur, panen dengan cara rampasan yakni panen sebelum walet bertelur pun bisa mengancam regenerasi walet. “Panen seharusnya dilakukan menunggu anak walet belajar terbang,” ujarnya.

Kini hanya segelintir walet yang terbang di langit kota Lubukpakam

Kini hanya segelintir walet yang terbang di langit kota Lubukpakam

Duduk perkara
Konsultan walet di Kelapagading, Jakarta Utara, Harry K Nugroho menuturkan Lubukpakam memang sohor sebagai sentra walet. Namun, pertumbuhan gedung walet yang sangat cepat tidak diimbangi dengan penambahan populasi walet. Sejumlah bangunan malah kurang cermat memperhatikan tingkat kenyamanan. Gurihnya bisnis sarang walet membuat investor berbondong-bondong membangun rumah walet tanpa memperhatikan bentuk dan posisi bangunan yang tepat.

Tren yang muncul sejak akhir 1990-an itu membuat investor tak segan mengeluarkan modal demi membangun gedung walet nan tinggi. Padahal, ukuran bangunan tidak menjamin populasi walet meningkat. Faktor lain yang menjadi pemicu populasi walet semakin turun yakni maraknya pembakaran hutan. Cemaran asap membuat udara kotor dan tidak sehat.

Baca juga:  Kopi Darat Komunitas Hidroponik

Harry menuturkan walet menyukai lingkungan yang bersih dan kaya makanan seperti habitat aslinya. “Bila tempat hidup tidak mendukung maka walet akan bermigrasi ke tempat aman,” ujar Harry. Tempat baru yang memiliki kualitas udara bersih dan pakan alami melimpah membuat walet tertarik untuk datang, menetap, dan berkembang biak. Sarang yang dihasilkan pun lebih bersih.

Harga jual sarang yang menurun sejak 2011 semakin memperparah keadaan. Banyak pengusaha yang malas merawat rumah walet. “Sebagian menganggap mengelola rumah walet sudah tidak menguntungkan lagi,” kata Harry. Padahal, dengan turunnya harga justru pengusaha diuntungkan sebab tidak muncul pesaing baru. Saat harga turun, pengusaha yang menginvestasikan untuk membangun rumah walet baru sangat sedikit. (Andari Titisari/Peliput: Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *