Seri Walet (205) Tepi Kahayan Sentra Walet 1
Bangunan rumah walet menyerupai benteng terbuat dari beton

Bangunan rumah walet menyerupai benteng terbuat dari beton

Bangunan rumah walet berderet-deret di Pulangpisau, Kalimantan Tengah.

Di sepanjang perjalanan antara Palangkaraya menuju Kabupaten Pulangpisau, Kalimantan Tengah, rumah walet bak cendawan tumbuh pada musim hujan. Kehadiran rumah walet  mudah dijumpai di bagian kanan atau kiri jalan. Bangunannya yang menjulang tinggi dan mencolok mata mudah dikenali di antara rerimbunan pohon yang memenuhi lahan gambut. Letaknya pun dekat, hanya berjarak 10—15 meter dari jalan.

Bangunan fisik rumah walet memang mentereng. Bangunan berbentuk kotak menyerupai gedung menjulang. Kontras dengan rumah tinggal warga sekitar yang rata-rata terbuat dari kayu. Tidak heran wujud rumah walet tidak ubahnya benteng pertahanan. Tinggi bangunan mencapai 15—20 m. Rata-rata bangunan terdiri dari 3—5 lantai. Panjang atau lebar bangunan bervariasi, antara 5—15 meter. Pintu berukuran lebar 1 m dan tinggi 1,5—2 m di bagian bawah gedung menjadi satu-satunya akses menuju ke dalam gedung.

Sawah dan lahan sawit menjadi tempat walet berkumpul mencari pakan

Sawah dan lahan sawit menjadi tempat walet
berkumpul mencari pakan

Fokus

Bagian atap rumah walet juga bervariasi. Ada gedung dengan bagian atas datar tanpa tambahan apa pun. Ada pula gedung walet yang memiliki bangunan kecil di bagian atas sebagai rumah monyet. Sarana pengamanan pun beragam. Sebagian rumah walet dilengkapi dengan kawat berduri di bagian atas. Ada pula yang membiarkan bagian atas gedung tanpa tambahan apa pun.

Sebagai sarana keluar masuk, terdapat pintu di bagian atas gedung.  Berdasarkan pengamatan Trubus, pintu masuk rata-rata berbentuk  kotak dengan ukuran panjang 30—40 cm dan lebar 20—30 cm. Namun, ada pula rumah yang dilengkapi pintu masuk walet berukuran besar dengan lebar 80—100 cm dan tinggi 1—1,5 m. Di beberapa rumah walet dijumpai pintu masuk lebih dari satu.

Baca juga:  Lebih Cepat Duplikasi Ara

Namun, menurut Drs Arief Budiman, konsultan budidaya walet di Kendal, Jawa Tengah, sebaiknya pintu masuk walet hanya satu. “Tujuannya agar walet bisa fokus,” ujar Arief. Jika pintu lebih dari satu, walet akan masuk dari pintu yang satu dan segera keluar dari pintu lain. Arief menyebut gedung walet seperti itu sebagai gedung walet yang bocor.

Rumah walet di Kecamatan Maliku menyatu dengan toko

Rumah walet di Kecamatan Maliku menyatu dengan toko

Terdongkrak

Gereget rumah walet pun masih terasa saat memasuki Kecamatan Maliku, Kabupaten Pulangpisau. Di ibukota kecamatan, Trubus mudah menjumpai bangunan rumah walet yang menjulang. Namun, di sana bangunan rumah walet menyatu dengan toko atau tempat tinggal. Maksudnya, dalam satu gedung yang sama pemilik menggunakan bagian bawah atau lantai 1 sebagai toko atau tempat tinggal, sedangkan bagian atas sebagai rumah walet.

Lantaran dekat dengan pemukiman, suara tweeter pengundang walet pun terpasang pelan nyaris lirih. Dari jarak 5 m, alunan suara tweeter yang terdengar hanya sayup-sayup terdengar. Saat perjalanan beringsut menuju Desa Gandang Barat yang berjarak 12 km dari Maliku, rumah walet masih bisa dijumpai. Bahkan, gedung walet kerap dijadikan sebagai penunjuk arah bagi warga sekitar. Penduduk setempat kerap kali menjelaskan kepada penanya jalan, harus belok kiri, kanan, atau lurus setelah rumah walet.

Pengamatan Mujito, warga Gandang Barat, walet-walet kerap beterbangan di sekitar lahan padi serta lahan kelapa sawit milik warga. “Saat pagi atau sore sering banyak walet beterbangan,” ungkap Mujito. Berlimpahnya sumber pakan menjadi salah satu penyebab walet mudah dijumpai di seputaran Gandang Barat. Menurut Mujito, bagi warga yang mempunyai modal, rumah walet menjadi salah satu sumber pendapatan lain. Ia menuturkan seorang temannya yang mempunyai rumah walet berukuran panjang 13 m, lebar 5 m dan tinggi 15 m berumur 2,5 tahun mampu memanen 1,5—2 kg sarang setiap 28—30 hari.

Baca juga:  Kelezatan Kopi di Atas Kulit

Menjamurnya rumah walet di seputaran Kabupaten Pulangpisau turut mendapat perhatian pemerintah daerah setempat. Sebuah Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2011 pun diluncurkan untuk mengatur retribusi dan tata cara pembangunan rumah walet. Gurihnya rumah walet tidak hanya menambah kocek sang pemilik rumah, harga tanah di seputaran Kabupaten Pulangpisau pun kini turut terdongkrak lantaran maraknya pembangunan rumah walet oleh investor dari luar daerah.  (Faiz Yajri, kontributor Trubus)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *