Bangunan-bangunan walet di sentra Nagari Ujuanggadiang kian menjamur

Bangunan-bangunan walet di sentra Nagari Ujuanggadiang kian menjamur

Gedung-gedung walet terus bermunculan di sentra Ujuanggadiang, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.

Gedung-gedung walet berdiri di sepanjang jalan utama dan di sekitar pasar Nagari Ujuanggadiang, Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat. Pertumbuhan rumah walet yang amat pesat di daerah berjarak 50 km dari Simpangampek, ibu kota Kabupaten Pasaman Barat, itu menjadi tanda usaha walet dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Di daerah yang dikelilingi kebun kelapa sawit itu ada lebih dari 100 bangunan walet yang sebagian berdiri sejak 35 tahun lalu.

534_ 125-1Bangunan-bangunan walet itu sebelumnya memang terpusat di sekitar pasar Nagari yang merupakan pemukiman warga. Namun, sejak beberapa tahun lalu pembangunan rumah walet menyebar ke lokasi-lokasi baru yang jauh dari pusat pemukiman. Sebagian besar gedung-gedung walet di sana menggunakan rumah monyet di bagian paling atas gedung. Rumah monyet itu menjadi tempat keluar-masuk burung pada sore dan pagi hari.

Terus berkembang

Menurut H. Sahruji, pemilik gedung walet di Jl. Lombok, munculnya bangunan walet di Nagari Ujuanggadiang bermula dari sebuah rumah kayu milik seorang warga yang dimasuki walet. Ketika itu pemilik rumah belum mengetahui nilai ekonomis sarang walet. Oleh karena itu pemilik rumah pun mengusir burung karena dianggap mengganggu. Meski berulang-ulang kali diusir walet tetap kembali datang dan bahkan membuat sarang. Akhirnya pemilik rumah menyerah dan membiarkan burung walet menghuni dan berkembang biak di rumah itu. Sementara pemilik rumah “mengalah” dan berpindah ke rumah lain. Kini bangunan walet terus berkembang.

Ujuanggadiang menjadi sentra penghasil sarang walet sejak puluhan tahun lalu. Kini pembangunan gedung walet menyebar ke wilayah di sekitarnya seperti Nagari Airbangis, Silaping, dan Batahan. Pertumbuhan gedung-gedung baru di Ujuanggadiang dan daerah di sekitarnya amat pesat. Itu karena ditunjang oleh kondisi alam yang potensial sebagai habitat hidup burung walet. Selain itu banyak warga berkeinginan mengikuti jejak pemilik-pemilik gedung lama yang sebagian telah menghasilkan puluhan kilogram sarang walet per panen.

Baca juga:  Aman Awetkan Nira

534_ 125-4Kini harga sarang walet di tingkat petani memang relatif rendah dibandingkan sebelumnya yang mencapai Rp13-juta per kilogram. Namun, itu tidak mematahkan semangat para pemilik gedung baru untuk menekuni bisnis itu. Mereka percaya prospek usaha itu akan cerah dan meningkatkan taraf ekonomi. Itulah sebabnya hingga kini gedung-gedung baru terus bermunculan. Apalagi walet langsung masuk ke gedung-gedung baru. Maklum, di daerah itu populasi walet memang sangat dominan dibanding sriti. Buktinya hampir tidak ditemukan adanya sriti yang bersarang di gedung-gedung baru. Populasi walet melimpah karena kondisi alam di daerah itu yang menjadi makrohabitat amat mendukung. Alam itu menyediakan sumber pakan melimpah.

Kondisi alam Nagari Ujuanggadiang dan sekitarnya berupa hutan, lahan persawahan yang terbentang luas, dan hamparan areal perkebunan kelapa sawit seluas puluhan ribu hektar menjadi makrohabitat yang pas sehingga menjadi sumber pakan melimpah. Banyaknya pabrik pengolahan kelapa sawit yang menghasilkan sisa hasil olahan berupa tandan buah kosong, limbah padat, dan cair juga menjadi salah satu sumber pakan. Penyebaran limbah-limbah itu ke areal perkebunan menjadi media berkembangnya sumber pakan potensial bagi burung walet. Oleh karena itu di wilayah yang berbatasan dengan Samudera Indonesia di sebelah barat itu populasi walet terus meningkat dari tahun ke tahun.

 

Efianto, praktikus walet di Ujuanggadiang, Pasaman Barat, Sumatera Barat

Efianto, praktikus walet di Ujuanggadiang, Pasaman Barat, Sumatera Barat

Bergairah

Hingga saat ini di Nagari Ujuanggadiang terus bermunculan gedung-gedung baru. Bila dibandingkan dengan 2011, pertumbuhannya memang sedikit melambat. Ada beberapa kendala pengembangan walet di Ujuanggadiang. Banyak gedung walet yang tidak menghasilkan sarang seperti yang diharapkan pemiliknya. Hal utama yang menjadi permasalahan adalah masih kurangnya pengetahuan para pemilik gedung walet tentang teknik budidaya walet. Contoh, perawatan gedung, penggunaan peralatan, dan sistem suara di rumah walet kurang mendapat perhatian serius dari pemilik gedung.

Baca juga:  Makin Tua Kian Top

Namun kondisi itu akan berubah pada masa mendatang seiring kesadaran para pemilik gedung mengenai teknik budidaya dan pemeliharaan walet yang kian meningkat. Harga jual sarang walet juga menjadi hambatan lain. Kini harga sarang walet di tingkat petani di titik terendah, yakni Rp3,5-juta—Rp4,5-juta per kg. Meski diprediksi 2 atau 3 tahun mendatang harga akan meningkat, tetapi sulit mencapai harga seperti sebelum 2011. Oleh karena itu asosiasi peternak dan pedagang bersama Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan harus terus berupaya lebih intensif agar Indonesia bisa memenuhi persyaratan-persyaratan ekspor yang diminta pemerintah Cina.

Bila pintu ekspor kembali terbuka, maka harga sarang walet akan naik. Sebab, perdagangan sarang walet ke Tiongkok tidak lagi melalui perantara sebagaimana yang selama ini terjadi. Ketika itulah para pemilik gedung walet di Ujuanggadiang dan daerah lainnya akan kembali bergairah. (Efianto, praktikus walet di Ujuanggadiang, Pasaman Barat, Sumatera Barat)

 

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d