Seri Walet (204) Plat Aluminium Lebih Praktis 1
Walet menyukai bersarang di sudut karena sudut yang terbuka lebih sempit sehingga merasa lebih aman dan terlindung

Walet menyukai bersarang di sudut karena sudut yang terbuka lebih sempit sehingga merasa lebih aman dan terlindung

Bermaksud memperoleh harga tinggi, Supardi justru repot membersihkan sarang walet.

upardi berupaya mencegah terbentuknya sarang sudut dengan memasang kayu siku di setiap sudut sirip. Harap mafhum, harga sarang sudut memang relatif rendah dibanding sarang mangkuk. Sebagai perbandingan  harga sarang mangkuk kualitas A Rp14-juta per kg, sarang sudut hanya Rp7-juta pada 2009. “Di saat harga normal, sarang sudut hanya setengahnya,” kata pengusaha walet di Kalimantan Tengah itu.

Bagi rumah walet yang baru dihuni jumlah sarang sudut memang banyak. Musababnya burung walet menyukai bagian sudut yang terbentuk antara sirip dan dinding atau pertemuan sirip dengan sirip. Liur walet lebih mudah menempel di bagian sudut karena dudukan sarang memiliki 2 sisi. Sementara bila bersarang di tengah sirip dudukan hanya 1 sisi.

Pemasangan plat tigkatkan kualitas sarang

Pemasangan plat tigkatkan kualitas sarang

Aluminium siku

Walet lebih suka membuat sarang di sudut juga karena merasa lebih aman. Musababnya sudut bidang yang terbuka hanya 90, beda dengan di tengah sirip dengan sudut terbuka 180. Dengan sudut bidang yang terbuka lebih sempit, maka walet merasa lebih terlindung saat mendiami sarang. Lantaran itu banyak pemilik rumah walet memasang sirip tambahan yang melintang sehingga jumlah sudut bertambah. “Langit-langit yang bentuknya garis-garis, menjadi kotak-kotak,” kata Supardi.

Supardi mencoba mengatasi sarang sudut itu dengan memasang kayu siku. Tujuannya untuk memperoleh sarang banci alias sarang yang bentuknya di antara sarang mangkuk dan sarang sudut. Harga sarang banci lazimnya 85% dari harga sarang mangkuk saat normal. Namun, apa lacur saat panen kayu siku malah gampang rusak karena ikut terdongkel. Sarang yang dipanen pun kotor karena lapisan kayu banyak menempel.

Baca juga:  Terbukti Antikolesterol

“Awalnya ide itu bermanfaat, tapi lama-kelamaan kayu siku gampang rusak saat panen. Sarang pun kotor oleh lapisan kayu yang terbawa,” kata pemilik Jakarta Walet Centre, Harsanto, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Membuat kayu siku yang berukuran pas pun di Kalimantan sulit sehingga butuh tukang berpengalaman. Beda dengan di Pulau Jawa yang memiliki banyak tukang berkualitas. Terlebih jumlah kayu di Kalimantan semakin menipis sehingga lebih sulit diperoleh.  Menurut praktikus walet di Palembang, Sumatera Selatan, Albert Edison, pada masa lalu siasat mengatasi sarang sudut menjadi sarang banci banyak dilakukan karena harga terdongkrak secara nyata.

Harga sarang sudut  (kiri) hanya 50% dari sarang mangkok,  harga sarang banci (kanan) 85%

Harga sarang sudut (kiri) hanya 50% dari sarang mangkok, harga sarang banci (kanan) 85%

Namun, sejak 2—3 tahun silam banyak pemilik rumah walet berhenti mengakali sarang sudut karena harga sarang walet jatuh di kisaran Rp5-juta sekilogram.  “Sekarang selisihnya nggak banyak, malah merepotkan dan tidak berguna,” kata Albert. Beda harga paling hanya ratusan ribu karena sarang sudut dan sarang banci digolongkan sarang patahan besar.

Menurut Harsanto belakangan harga sarang mangkuk mulai merangkak naik ke angka Rp7-juta per kg. Meski menjelang Imlek sempat turun menjadi Rp6-juta, tetapi diperkirakan bakal naik lagi setelah Imlek. “Bila harga kembali mendekati normal, upaya meminimalkan sarang sudut bakal menguntungkan,” kata Asan, panggilan Harsanto. Ia mencontohkan, pada akhir tahun—ketika harga sarang mangkuk Rp7-juta—maka harga sarang sudut cuma Rp5-juta, tapi sarang banci mendekati angka Rp6-juta per kg.

Banyak pemilik rumah walet membuat sirip melintang sehingga sudut yang terbentuk lebih banyak

Banyak pemilik rumah walet membuat sirip melintang sehingga sudut yang terbentuk lebih banyak

Momentum tepat          

Upaya mengurangi jumlah sarang sudut mesti dipersiapkan sejak sekarang. “Kelak di saat harga kembali normal, sarang sudut sudah bersalin rupa menjadi sarang banci,” katanya. Syaratnya, menurut Harsanto, mesti memilih cara yang tidak merepotkan. Misalnya dengan menggunakan plat alumunium yang sudah dirancang khusus agar memasangnya mudah.  Kini pengusaha walet tak perlu repot, papan siku dapat diganti dengan alumunium siku.

Baca juga:  Bayu Ari Sidi: Laba Manis Jambu Madu

Disebut khusus karena 2 tepi plat memilik sudut yang tepat—45—sehingga dapat dipasang kokoh tanpa mudah goyang. Sarang yang menempel di plat alumunium juga bersih saat dipanen karena lapisan plat tidak ngelotok saat sarang dicongkel. Menurut Harsanto, papan plat alumunium dirancang khusus dengan ukuran 12 cm x 12 cm. Di setiap tepinya ada bahan tambahan bersudut 45 sehingga dapat dipasang dengan tepat dan kokoh di sirip kayu atau sirip alumunium.

Plat ukuran 12 cm x 12 cm dirancang khusus sehingga mudah dipasang di sudut secara kokoh

Plat ukuran 12 cm x 12 cm dirancang khusus sehingga mudah dipasang di sudut secara kokoh

Selain itu plat juga gampang dipasang karena cukup dibor dan dipasak dengan baut. “Tidak perlu tukang khusus karena ukuran sudah pas dan bersiku,” kata Harsanto. Sejatinya plat alumunium merupakan perkembangan lebih lanjut dari teknologi kawat parabola. Sebelumnya, pemilik rumah walet yang kerepotan dengan kayu siku memasang kawat parabola sebagai gantinya. Sarang yang dipanen dari kawat parabola memang lebih bersih. Namun, kawat parabola gampang copot dan rusak saat panen sarang. “Plat alumunium mengatasi kelemahan kayu siku dan kawat parabola sekaligus,” kata Asan.

Menurut Supardi, plat alumunium cocok jadi alternatif pemilik rumah walet bila harga terjangkau. “Minimal biaya yang dikeluarkan setara dengan pembuatan kayu siku dan pemasangan. Seandainya lebih mahal pun tidak terlalu jauh,” kata Supardi. Penelusuran Trubus, harga plat alumunium di beberapa penyedia berkisar Rp5.000—Rp10.000 per buah sehingga terjangkau karena biaya pasang menjadi murah. (Ridha YK, kontributor Trubus)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments