Serbamesin Untuk Kentang 1
Potensi kerusakan panen kentang menggunakan mesin 1,3%

Potensi kerusakan panen kentang menggunakan mesin 1,3%

Mekanisasi di lahan kentang menghemat 70% biaya tenaga kerja.

Saat musim tanam kentang, Anto, petani di Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, menyisihkan biaya minimal Rp450.000 untuk tenaga tanam. Untuk menanam kentang di lahan sehektar, ia membutuhkan 10-15 tenaga kerja dengan upah Rp45.000-Rp50.000 per orang per hari. Anto mengerahkan tenaga sebanyak itu agar penanaman rampung dalam sehari. “Jika penanaman lebih dari sehari, waktu panen pun berbeda. Biaya membengkak karena tenaga kerja dibayar harian,” ungkap Anto.

Riset Baso Alim, peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan, membuktikan penggunaan mesin tanam menghemat biaya produksi. Dalam riset itu ia menggunakan mesin penanam kentang di 2 tempat, yakni Gowa dan Bantaeng, keduanya di Sulawesi Selatan. “Penggunaan mesin penanam kentang menghemat 70% tenaga kerja,” ujar Baso. Biasanya untuk menanam kentang di lahan 0,5 ha, ia membutuhkan 15 orang; dengan mesin, cukup 2-3 orang.

Mesin penanam kentang berkapasitas kerja 8 jam/ha dan kecepatan 1,7 km/jam

Mesin penanam kentang berkapasitas kerja 8 jam/ha dan kecepatan 1,7 km/jam

Tanpa olah tanah

Baso menggunakan mesin rancangan Dr Teguh Wikan Widodo di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Mesin itu berpenggerak traktor tangan berdaya 6,34 kw dan 2.000 rpm. “Kapasitas kerja 8 jam/ha dengan kecepatan 1,7 km/jam,” ujar Teguh. Mesin berbobot 73 kg itu berukuran panjang 1,14 m, lebar 0,86 m, tinggi 0,83 m. Mesin dilengkapi pembuka dan penutup alur, dudukan pembuka alur, roda penggerak, dan sebuah hopper (penampung benih yang akan ditanam) berkapasitas 35 kg.

Saat menanam, pekerja tinggal memasukkan benih ke hopper kemudian menghidupkan mesin. Saat traktor maju, cawan pengambil benih di dalam hopper akan menjatuhkan benih ke alur tanam. Lalu, alur tanam akan ditutup lagi oleh penutup alur. Dengan mesin itu jarak tanam antarbaris yang dihasilkan 0,3 m dan jarak antarbaris 0,7-0,8 m, sesuai dengan budidaya kentang.

Penggunaan mesin tanam dan panen kentang sebaiknya di lahan datar dan tidak berbatu

Penggunaan mesin tanam dan panen kentang sebaiknya di lahan datar dan tidak berbatu

Dengan mesin itu, petani tak perlu mengolah tanah sebelum penanaman. Lazimnya, pada penanaman kentang petani harus mengolah tanah dan membuat guludan. Artinya selain memangkas kebutuhan tenaga kerja, mesin penanam itu juga menyingkat waktu. Anto sebelumnya juga ingin menggunakan mesin tanam itu. Namun, kondisi lahan kentang yang miring dan berbatu menyulitkan pengoperasiannya.

Baca juga:  Bisnis Opak & Rempah Dari Rumah

Teguh menganjurkan pemakaian mesin di lahan datar dan tidak berbatu. Sebab, “Lahan miring dan berbatu menyulitkan mesin bekerja,” ujar alumnus Tokyo University itu.

Mesin panen

Sebelum membuat mesin penanam pada 2013, Teguh mengembangkan mesin panen kentang pada 2011. Mesin pemanen berkapasitas kerja 7,89 jam per ha dengan efisiensi kerja 58%. Mesin dirancang untuk mamanen satu baris tanaman atau guludan dengan lebar 50 cm dan tinggi guludan 15-20 cm. Jarak antarguludan 20 cm. Daya motor penggerak 8,5 Hp. Kecepatan kerja mesin 1,75 km per jam dan persentase selip 6,7%.

Dr Teguh Wikan Widodo, periset mesin tanam, penen, dan sortir kentang

Dr Teguh Wikan Widodo, periset mesin tanam, penen, dan sortir kentang

Peneliti asal Pati, Jawa Tengah, itu menjelaskan, penggunaan mesin panen kentang itu mengurangi kerusakan akibat pemanenan konvensional. Potensi kerusakan umbi kentang ketika panen konvensional mencapai 30%. “Potensi kerusakan panen kentang menggunakan mesin 1,3%,” ujarnya. Hasil analisis ekonomi penggunaan mesin panen lebih ekonomis. Harga mesin panen Rp30-juta (tidak termasuk traktor tangan) berumur ekonomis 5 tahun. Pencapaian titik impas minimal pemakaian 40,5 ha per tahun.

Adapun pemakaian bahan bakar solar 5,28 liter per ha. Biaya operasional Rp523.000 per ha dan kebutuhan tenaga kerja 3 hari orang kerja (HOK) per ha. Sementara panen manual membutuhkan tenaga kerja 20 HOK per ha dengan biaya Rp800.000 per ha. Artinya, penggunaan mesin pemanen kentang menurunkan biaya hingga 30%.

Sarjimin, petani kentang di Gowa, Sulawesi Selatan, membuktikan penghematan itu. Ia menggunakan mesin pemanen rancangan Teguh di lahan 2.500 m2. Menjelang panen, Sarjimin memangkas batang tanaman kentang. Selang sepuluh hari ia menggunakan alat itu untuk menggali umbi kentang. Pekerja tinggal menjalankan traktor tangan untuk mengeluarkan umbi lantas memungutnya.

Baca juga:  Dua Gelas Susu Sehari

Sarjimin membutuhkan hanya 2-3 orang untuk memanen kentang. “Panen selesai dalam satu jam,” ujar pria asal Pati, Jawa Tengah, itu. Sementara panen kentang manual membutuhkan tenaga kerja 10 orang dan panen selesai selama 8 jam.

Mesin grading kentang memisahkan kentang secara otomatis menjadi empat kelas

Mesin grading kentang memisahkan kentang secara otomatis menjadi empat kelas

Bukan hanya mesin tanam dan panen kentang, Teguh juga merancang mesin sortasi berkapasitas 1.800 kg per jam. Tingkat kesalahan masing-masing kelas mutu umbi kurang dari 8% dan kerusakan kurang dari 1%. Proses seleksi kentang secara manual membutuhkan tenaga kerja 25 HOK per ha dengan rata-rata produksi kentang 15 ton per ha. Biaya sortir manual mencapai Rp46 per kg; dengan mesin, Rp26 per kg. Artinya mesin itu memangkas biaya 43%.

Dengan 2 tenaga kerja, mesin sortasi itu memisahkan kentang menjadi empat kelas. Keempat kelas umbi Solanum tuberosum itu adalah sangat besar jika diameter lebih dari 59 mm; besar (46-59 mm); sedang (33-45 mm); dan kecil (kurang dari 32 mm). Mesin sortir terdiri atas empat meja sortir. kecepatan pipa-pipa sortasi rata-rata 0,3 m/detik. Kentang yang dipilah dimasukkan ke ban berjalan pengumpan yang bergerak di atas pipa dengan jarak tertentu di meja sortasi. Lalu, kentang jatuh ke kotak penampung sesuai ukuran diameternya. (Desi Sayyidati Rahimah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *