Sepanjang Jalan Penuh Aral 1
Dayat Yayat harga ulat hongkong melorot dari Rp41.000 menjadi Rp29.000/kg di Bandung, Jawa Barat, karena kelebihan pasokan

Dayat Yayat harga ulat hongkong melorot dari Rp41.000 menjadi Rp29.000/kg di Bandung, Jawa Barat, karena kelebihan pasokan

Meski menjanjikan keuntungan tinggi, bukan berarti peternak ulat hongkong melenggang tanpa aral. Beragam hambatan menghadang. Hary pernah rugi Rp50-juta karena bibit mati akibat cuaca ekstrem. Hujan 3 hari berturut-turut disertai angin sehingga kotak berisi ulat terkena air dan gagal panen. Ulat hongkong berumur 2 pekan pasti mati jika terkena air hujan. Saat itu ia baru 7 bulan beternak ulat hongkong.

Untuk mengatasi itu cuaca ekstrem itu Hary memperbaiki dinding ruangan dan memastikan tidak ada celah air masuk. Tantangan lain kehadiran serangga seperti kumbang kecil yang memangsa telur dan pakan. “Serangan serangga itu bisa mengkibatkan semua telur gagal menetas karena ludes dimangsa,” kata Hary. Domo juga mendapati semacam kutu di dalam wadah berisi ulat hongkong.

Kehadiran serangga kecil berwarna hitam itu merugikan karena ia mengonsumsi pakan ulat hongkong. Jika tidak segara ditangani pertumbuhan ulat terganggu karena kutu mengonsumsi jatah pakan untuk ulat. Untuk mengatasinya, pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, itu mengambil kutu, mencampurnya dengan air, lalu memberikan ke ikan sebagai pakan.

Menurut Hary modal awal beternak ulat hongkong relatif besar. Saat memulai beternak ia menghabiskan Rp30-juta. Itu untuk menyewa tempat, membuat kotak, rak, pakan, dan pekerja serta bibit. Meski demikian bukan berarti peternak bermodal kecil tidak bisa beternak ulat hongkong. Dengan modal Rp2,5-juta Narli bisa beternak ulat hongkong. Modal itu untuk membuat satu rak berukuran 120 cm x 60 cm dan 36 kotak berukuran 50 cm x 50 cm x 7 cm.

Kini modal itu kembali saat ia panen yang ke-8 kali. Cara lain menyiasati modal yaitu bermitra dengan peternak besar. Keuntungan bermitra jaminan pasar pasti dari plasma inti. Untuk pemasaran relatif mudah terutama di daerah-daerah dengan produsen ulat hongkong terbatas seperti di Bogor, Jawa Barat. Daimin menawarkan ulat hongkong ke toko penjual burung berkicau dan mancing di sekitar tempat produksi di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Riefza Vebriansyah)

Baca juga:  Babak Baru Tanam Tin

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments