Menampung, mengolah, dan mengonsumsi air hujan menjadi gaya hidup sebagian orang. Berikut pendapat para ahli.

Keberadaan air sangat dibutuhkan manusia.

Keberadaan air sangat dibutuhkan manusia.

Air mutlak diperlukan untuk menopang tubuh manusia. Apalagi sebagian besar tubuh manusia terdiri dari air. Begitu pula dengan organ vital manusia yang mengandung banyak air seperti otak yang menyimpan air 80,5%; ginjal (82,7%), darah (90,7%), dan tulang (13%). Lantaran manusia sangat membutuhkan, pasokan air menjadi isu penting di dunia internasional.

Badan Kesehatan Dunia melansir sejumlah negara di Afrika mengalami krisis air dan kesulitan mendapatkan air bersih. Sejak 20 tahun terakhir, wabah kekeringan menyebabkan banyak sumber air mengering. Ironisnya ketika hujan deras banyak anggota masyarakat abai. Curah hujan di Indonesia juga tinggi, yakni 2.000 mm per tahun. Sayangnya, selama ini air hujan banyak yang terbuang percuma.

Mereka membiarkan hujan mengguyur dan menjadi limpasan. Padahal, kita dapat memanen air hujan dan mengolahnya untuk kesehatan. Pemanfaatan air hujan menjadi air minum tentu sebuah langkah bijak. Panen air hujan bisa dilakukan setiap saat selama musim hujan. Proses pengolahannya mudah dan murah.

Trubus Edisi Juli 2018 Highrest.pdfProf. Dr. Ir. Rindit Pambayun,
MP, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (Patpi) dan Kepala Pusat Penelitian Pangan Universitas
Sriwijaya

Semua air aman dikonsumsi asalkan tidak mengandung patogen, logam berat, dan senyawa toksik. Pemanfaatan air hujan merupakan langkah bagus karena air hujan adalah air murni. Namun, untuk konsumsi sehari-hari tubuh tetap membutuhkan air yang mengandung mineral. Bicara soal pemanfaatan air, termasuk air basa, tergantung peruntukannya untuk minuman harian, terapi, atau tujuan lain.

Setiap kali tubuh menerima makanan maka lambung memiliki mekanisme sendiri untuk menurunkan pH menjadi 2. Suasana asam di dalam lambung menyebabkan patogen yang terbawa makanan pun mati. Apabila pH di lambung lebih dari 2 maka akan banyak patogen yang lolos sehingga membahayakan tubuh. Suasana asam pada lambung juga berguna untuk mengaktifkan enzim tertentu yang memiliki pH optimum, salah satunya pepsinogen.

Baca juga:  Wortel Mutu Prima

Pepsinogen aktif jika lambung memiliki pH 2. Dengan begitu sang enzim bisa memecah protein menjadi asam amino sehingga mampu diserap tubuh dengan baik. Setiap hari lambung juga bekerja mengolah air yang kita minum dengan pH 7 atau netral. Konsumsi air alkali setiap hari dengan pH 10 atau 13 memperberat kerja lambung. Sebagai gambaran lambung dengan beban kerja normal mampu bertahan hingga 80 tahun. Namun, karena kerjanya terlalu berat bisa jadi hanya bertahan 60 tahun.

Dalam konteks ini maka konsumsi air ber-pH tinggi untuk minum sehari-hari kurang tepat, kecuali untuk tujuan tertentu, misalnya terapi atau tujuan lain. Pengolahan air menjadi air basa bisa menggunakan berbagai cara baik teknologi sederhana maupun mutakhir. Yang penting jangan ada kontaminan apa pun.

Trubus Edisi Juli 2018 Highrest.pdfSugianto Notowibowo, Apt,
Apoteker alumnus Universitas Indonesia

Pemanfaatan air hujan untuk konsumsi merupakan sebuah terobosan yang patut diapresiasi. Selama ini masyarakat belum memanfaatkan air hujan yang sangat melimpah. Masyarakat bisa menampung dengan cuma-cuma untuk dimanfaatkan sehari-hari atau untuk tujuan kesehatan. Air hujan merupakan air paling murni karena didapat dari laut, dedaunan, dan segala uap air yang ada di darat.

Air hujan bisa juga dibilang air akua distilasi lantaran tidak mengandung mineral. Berbeda dengan air tanah maupun air sumur yang banyak mengandung mineral. Ada anggapan yang beredar di masyarakat bahwa air hujan kurang bagus lantaran tercemar polusi, bahkan sampai ada yang menyebut hujan asam. Masyarakat tidak perlu risau karena pemetaan air hujan di beberapa lokasi di tanah air tidak ada air hujan yang ber-pH ekstrem asam.

Proses ionisasi bisa dilakukan untuk mengolah air hujan menjadi air basa maupun asam. Air disebut alkali jika berada pada kisaran pH lebih dari 7—14. Sementara air disebut asam jika memiliki pH 0—7. Air dengan pH 8,5—9,5 cocok untuk terapi kesehatan. Sebaiknya pasien mengonsumsi air basa secara perlahan mulai dari pH 8,5 lalu sekitar 1—2 pekan naik ke pH 9.

Baca juga:  Legit Robusta Kelas Dunia

Hal itu bertujuan untuk menghindari efek detoksifikasi yang berlebihan. Juga memberikan kesempatan pada tubuh untuk beradaptasi. Namun, bukan berarti air asam tidak bermanfaat. Sugianto menuturkan sejatinya yang perlu dijaga adalah keseimbangan asam basa. Tubuh memiliki mekanisme tersendiri untuk mengendalikan keseimbangan asam basa darah yakni melalui ginjal, sistem peyangga pH alias buffer, dan respirasi.

Belakangan, kaum urban gemar menyantap makanan cepat saji lantaran kesibukan sehari-hari. Begitupula dengan minuman. Mereka lebih menyukai minuman ringan maupun berenergi. Padahal, keduanya mengandung asam tinggi sehingga keasaman tubuh meningkat. Kondisi itu bisa diatasi dengan mengonsumsi air alkali untuk membantu menjaga keseimbangan asam basa tubuh.

Trubus Edisi Juli 2018 Highrest.pdfdr. Zaenal Gani
dokter dan herbalis di Malang, Jawa Timur alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Pemanfaatan air basa untuk konsumsi sudah ada sejak puluhan tahun silam. Namun, Zaenal Gani belum pernah menganjurkan maupun meresepkan kepada pasien. Konsumsi air basa sebaiknya memperhatikan kondisi tubuh, khususnya pH darah dan lambung. Oleh karena itu, perlu ada diagnosis dan dasar ilmiah terlebih dahulu. Pasien yang memiliki pH darah normal dan cenderung basa tentu kurang bijak jika mengonsumsi air ber-pH tinggi. Namun, bagi pasien yang mempunyai pH cenderung asam bisa saja mengonsumsi air basa.

Trubus Edisi Juli 2018 Highrest.pdfWahyu Suprapto
Herbalis di Kota Batu, Jawa Timur

Pemanfaatan air hujan untuk konsumsi harus memperhatikan kebersihannya. Tampung air hujan dengan perlakuan yang tepat sehingga bebas dari pencemaran. Wahyu belum pernah mengonsumsi air terionisasi baik yang berasal dari air hujan maupun air tanah. Selama ini konsumsi air biasa sudah mencukupi kebutuhan ion tubuh. Sering kali masyarakat mengonsumsi air yang diklaim mengandung banyak ion yang berguna bagi tubuh. Padahal, belum tentu tubuh membutuhkannya. Jangan sampai justru ion yang masuk ke dalam tubuh berlebihan. (Andari Titisari/Peliput: Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d