Sentra Baru Bawang Merah

Luas areal tanam bawang merah di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mencapai 1.211 hektare.

Luas areal tanam bawang merah di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mencapai 1.211 hektare.

Kabupaten Bojonegoro menjadi sentra baru bawang merah di Provinsi Jawa Timur.

Saat musim kemarau, Suparman berganti profesi. Petani padi di Desa Pajeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, itu meninggalkan sawah. Ia merantau ke kota untuk berdagang atau menjadi buruh paruh waktu. Harap mafhum, saat kemarau ia tak bisa menanam padi di sawah. Air tidak cukup untuk mengairi sawah.

Ia lebih memilih menyewakan lahan seluas 5.000 m2 itu kepada para pekebun bawang merah asal Kabupaten Nganjuk yang berbatasan dengan desanya. Namun, sejak 2004 Suparman tak mau lagi hijrah ke kota. Ia juga enggan menyewakan lahannya untuk para pekebun bawang merah. “Setelah saya amati ternyata penghasilan para penyewa lahan dari Nganjuk sangat besar dari hasil panen bawang merah,” ujarnya.

Camat Gondang, Ir Heri Widodo MSi (kedua dari kanan), kini fokus mengembangkan bawang merah sebagai komoditas unggulan.

Camat Gondang, Ir Heri Widodo MSi (kedua dari kanan), kini fokus mengembangkan bawang merah sebagai komoditas unggulan.

Lebih untung
Sejak itu ia mengelola sendiri lahan miliknya dengan menanam bawang merah. Suparman mengebunkan dua jenis varietas bawang merah, yakni bauji dan thailand. Ia menanam kedua varietas itu tergantung musim. Pada musim hujan, yaitu pada Desember, Suparman menanam bawang merah varietas bauji. “Varietas bauji lebih tahan penyakit fusarium yang biasanya menyerang saat musim hujan,” katanya.

Dari lahan 5.000 m2 pria murah senyum itu memanen 5—6 ton umbi bawang merah kering. Produktivitas bauji rata-rata 10—11 ton per ha. Dari jumlah itu ia menyisihkan 500 kg umbi untuk benih. Pada musim hujan biasanya harga bawang merah Allium cepa (Cepa dalam bahasa Latin berarti bawang) relatif mahal. “Harga di tingkat pekebun bisa mencapai Rp18.000—Rp20.000 per kg,” tutur ayah 2 anak itu.

Menurut Kepala Desa Pajeng, Deddy Kristanto, harga bawang merah pada musim hujan lebih mahal karena produksi bawang merah rendah akibat tanaman rentan terkena serangan penyakit. Selain itu beberapa pekebun yang lahannya terbatas dan tidak memiliki modal untuk menyewa lahan di tempat lain biasanya beralih menanam padi untuk memutus siklus hama dan penyakit.

“Jadi saat musim hujan pasokan bawang merah berkurang,” ujarnya. Sementara pada akhir musim hujan dan memasuki kemarau, yaitu pada Juni, Suparman menanam bawang merah varietas thailand. Ia memilih varietas itu karena lebih tahan terhadap kekurangan air dan relatif tahan serangan hama ulat grayak saat kemarau. Dari lahan 5.000 m2 ia memanen 12,5—15 ton umbi bawang merah kering.

Produktivitas varietas Thailand memang tinggi, yakni mencapai 25—30 ton umbi kering per hektar. Karena jumlah produksi pada kemarau relatif lebih tinggi, maka harga jual bawang merah biasanya tak setinggi saat musim hujan. Pada pertengahan September 2015 harga jual bawang merah Rp7.000 per kg. Menurut Suparman harga jual itu masih menguntungkan bagi pekebun.

“Harga minimal yang masih bisa diterima pekebun Rp5.000 per kg,” ujarnya. Suparman mengatakan pendapatan dari berkebun bawang merah lebih tinggi daripada menanam padi.

Tags:
Sedang Mencari Bibit Bunga Untuk taman Anda ?KLIK DISINI
+