Semarak Merah Hari Kudus 1
Kehadiran rangkaian bunga mempercantik meja mimbar

Kehadiran rangkaian bunga mempercantik meja mimbar

Rangkaian anggun dalam kesederhanaan.

Menjelang Natal, Lucia Raras bersama Anastasia Ferwidyasari, Fonda Maria, Yoseph Winada, dan Yohanes Triyono menghias gereja dengan rangkaian bunga. Mereka yang tergabung dalam Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI) cabang Jakarta Selatan itu memanfaatkan materi sederhana dan sarat keanggunan. Raras dan rekan mempercantik ruang Gereja Santo Stefanus, Jakarta Selatan, dengan rangkaian bunga semarak berwarna merah.

Sehelai kelopak bunga mampu memberikan kesan indah. Bagi Lucia Raras setiap materi bunga mengandung pesan di setiap jengkalnya. Aneka bentuk dan warna flora yang terlukis alami menimbulkan kekaguman bagi siapa saja yang memandang. Pada rangkaian bunga itu, “Merah adalah lambang Tuhan yang bersedia mencurahkan darah-Nya bagi umat,” kata Raras.

Rangkaian bunga di gereja mengusung warna merah ketika perayaan Natal

Rangkaian bunga di gereja mengusung warna merah ketika perayaan Natal

Lebih khusyuk
Anastasia Ferwidyasari menuturkan Natal merupakan perayaan iman yang harus diungkapkan dengan sepenuh hati dan jiwa. Oleh karena itu rangkaian bunga yang digunakan juga harus ditujukan untuk memuliakan Tuhan. Dengan begitu, umat yang hadir dapat mengikuti ibadah dengan nyaman dan merasakan kehadiran sang Maha Kuasa.

Raras menuturkan kehadiran bunga juga membantu kekhusyukan doa dan menyelami kebesaran Tuhan. Dalam tradisi Nusantara, bunga menjadi kebutuhan dan dapat dijumpai pada upacara keagamaan dan pernikahan. “Rangkaian bunga merupakan wujud persembahan pada Tuhan,” kata Lucia Raras. Raras merangkai bunga sebagai cara untuk menghadirkan Tuhan agar terasa lebih dekat.

Menurut Anastasia hiasan untuk ruang gereja harus berasal dari materi flora segar sebab diperuntukkan bagi Tuhan. Desain pun harus pas dan serasi dengan ruangan. “Tidak boleh terlalu mewah atau terlalu sederhana,” ujarnya. Idealnya, rangkaian sederhana, tetapi tampak elegan. Dengan sentuhan ilmu merangkai bunga dan kreativitas rangkaian bunga yang diidamkan itu dapat terwujud dengan mudah.

Rangkaian bunga di tepi bangku jemaat mengusung warna dan pola yang senada dengan rangkaian di meja altar dan mimbar

Rangkaian bunga di tepi bangku jemaat mengusung warna dan pola yang senada dengan rangkaian di meja altar dan mimbar

Para perangkai profesional itu menghias ruang gereja berarsitektur rumah adat Jawa Tengah itu dengan materi yang gampang diperoleh antara lain jengger ayam merah, anggrek ‘james story’, mawar merah, hiperikum, ruskus, daun kuping gajah, rumput besi (steel grass), bunga pinus, ranting kering, dan kayu manis. Mereka juga memanfaatkan kastuba yang identik perayaan Natal. Warna daun mudanya merah terang cocok dengan suasana Natal.

Baca juga:  Komitmen Mendampingi Petani

Altar dan mimbar
Para perangkai bunga itu menghias meja altar, meja mimbar, dan bangku umat. Desain untuk meja altar berperan penting dalam sebuah ruang peribadatan. Di sanalah tempat pastor memimpin peribadatan berada dan di meja itu pula benda-benda yang diperlukan dalam proses sakramen ekaristi berada. Perangkai bunga harus teliti meletakkan rangkaiannya sebab kehadiran rangkaian tidak boleh menutupi altar.

Rangkaian bunga mempercantik Gua Maria

Rangkaian bunga mempercantik Gua Maria

Untuk menghias altar, Raras dan rekan membuat rangkaian berbentuk abstrak. Mereka memanfaatkan pot plastik berwarna emas sebagai wadah untuk meletakkan rangkaian. Di dalam pot setinggi 50 cm itu, mereka meletakkan floral foam basah lalu menancapkan kastuba, jengger ayam merah, anggrek ‘james story’, dan mawar merah. Mereka juga menancapkan beberapa helai daun kuping gajah dan rumput besi (steel grass) agar rangkaian tampak segar.

Untuk membuat pola abstrak, mereka memotong ranting kering dan batang kayu manis menjadi seukuran pensil lalu mengikatnya dengan tali menjadi satu. Pola itu lantas diletakkan menggantung di bibir pot dengan posisi bagian runcing berada di bawah. Selanjutnya, mereka meletakkan mawar merah, bunga pinus, dan untaian anggrek ‘james story’ tepat di bagian bawah. Agar keceriaan Natal semakin terasa, mereka menambahkan hiasan berupa bola-bola natal berwarna emas, merah, dan hijau di bawah meja altar.

Lucia Raras (tengah) bersama rekan yang tergabung dalam IPBI cabang Jakarta Selatan yakni Maria Fonda, Yohanes Triyono, Yoseph Winada, dan Anastasia Ferwidyasari (searah jarum jam, red)

Lucia Raras (tengah) bersama rekan yang tergabung dalam IPBI cabang Jakarta Selatan yakni Maria Fonda, Yohanes Triyono, Yoseph Winada, dan Anastasia Ferwidyasari (searah jarum jam, red)

Kepiawaian para perangkai bunga itu juga berhasil mempercantik meja mimbar. Meja tempat pastor membacakan kitab suci itu semakin menawan dengan tampilnya rangkaian bunga yang menghiasi bagian depan. Meski menggunakan materi flora yang sama, rangkaian bunga itu tetap memesona. Setiap materi disusun apik menciptakan keharmonisan.

Baca juga:  Hutan Mini di Rumah Hom

Bangku umat juga semakin cantik dengan hadirnya rangkaian bunga lewat tangan dingin Maria Fonda dan Anastasia Ferwidyasari. Di pinggir bangku itu mereka meletakkan rangkaian dari kumpulan daun andong, kastuba, mawar merah, jengger ayam, dan daun kuping gajah. Tak ketinggalan bola-bola khas natal bewarna emas pun disematkan untuk menyemarakkan rangkaian.

Mereka juga memanfaatkan sentuhan seni merangkai bunga untuk mempercantik gua maria. Gua yang terletak tepat di belakang gereja itu berpadu apik dengan rangkaian yang diletakkan persis di kaki patung Bunda Maria. Rangkaian sederhana itu tampak istimewa meski materi yang digunakan sederhana. Cara membuatnya pun cukup mudah. “Teknik yang digunakan hanya potong, tancap, dan tali,” kata Raras. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *