567_89Kemayoran, Jakarta Pusat pada Januari 2017 adalah kota yang sibuk. Apartemen belasan lantai berdiri menjulang dan jalan raya lebar bekas landas pacu pesawat terbang ramai oleh lalu lalang kendaraan. Arena Pekan Raya Jakarta yang menjadi tempat rutin peringatan ulang tahun Jakarta pun berada di Kemayoran. Namun, dahulu tempat itu riuh oleh deru mesin pesawat yang mendarat atau lepas landas. Ketika transportasi udara mulai menghubungkan dunia pada 1934, penerbangan komersial reguler menghubungkan Indonesia dan Australia.

Padi asal Kemayoran,  Jakarta Pusat, berangka tahun 1904.

Padi asal Kemayoran, Jakarta Pusat, berangka tahun 1904.

Sebuah bandara internasional dengan 2 landas pacu berdiri di sana. Bandara itu menjadi saksi perebutan kekuasaan dalam Perang Dunia 2 pada 1940—1945. Namun, sebelum ada bandara, Kemayoran adalah lumbung pangan bagi warga Jakarta. Wajah Kemayoran pada era itu masih hijau. Itu terbukti melalui spesimen padi yang dikumpulkan pada 21 Agustus 1904 oleh Cornelis Andries Backer, ahli Botani dari Belanda. Meski berumur 112 tahun, bentuk tanaman padi itu masih bisa dikenali.

Awetan kering anggrek Gramatophyllum speciosum, inzet Gramatophyllum berbunga di alam.

Awetan kering anggrek Gramatophyllum speciosum, inzet Gramatophyllum berbunga di alam.

Daun, batang, dan malai gabah yang belum berisi penuh masih utuh. Spesimen itu melekat di selembar kertas putih berukuran 29 cm x 41 cm. Jalinan benang menahan awetan padi kering itu agar melekat di kertas. Spesimen berumur 113 tahun itu tersimpan dalam ruang koleksi kering Herbarium Bogoriense, Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi LIPI di Cibinong Science Center, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Awetan padi itu hanya satu dari 936.915 koleksi tanaman di sana.

Spesimen Asplenium caudatum, koleksi tertua di Herbarium Bogoriense.

Spesimen Asplenium caudatum, koleksi tertua di Herbarium Bogoriense.

Masih ada simpanan yang berumur lebih tua daripada padi asal Kemayoran itu. Koleksi tertua di sana adalah tumbuhan paku Asplenium caudatum yang diarsipkan oleh naturalis Amerika Serikat, Thomas Horsfield. Berbeda dengan awetan padi yang mempunyai tanggal jelas, spesimen paku itu hanya merujuk rentang 1802—1818. “Rentang itu menyatakan waktu Thomas Horsfield berada di Jawa,” kata Kepala sub Bidang Pengelolaan Koleksi Herbarium Bogoriense, Dr Atik Retnowati SP MSc.

Spesimen anggrek tanah Spathoglottis plicata dari tahun 1929.

Spesimen anggrek tanah Spathoglottis plicata dari tahun 1929.

Keterangan yang terlampir menyebutkan bahwa tumbuhan paku kering itu sebelumnya koleksi Museum British di London, Inggris. Museum itu menyimpan ratusan ribu artefak, termasuk spesimen tanaman kering yang berasal dari berbagai negara. Dalam buletin dwibulanan Torreya edisi Januari—Februari 1942, tertulis bahwa Horsfield mengumpulkan berbagai tanaman dari Jawa sebagai bentuk ketertarikannya terhadap tanaman obat.

Teknisi herbarium mengganti herbarium sheet spesimen-spesimen lama.

Teknisi herbarium mengganti herbarium sheet spesimen-spesimen lama.

Buletin berisi berita dan catatan Botani itu mencatat bahwa Thomas Horsfield tiba di Batavia (Jakarta saat itu) pada 1801 dan mulai mengumpulkan awetan tanaman setahun berikutnya. Pada 1811, Jawa diserahkan kepada Inggris sehingga hasil pekerjaan Horsfield pun dibawa ke London. Pada 1816 Inggris mengembalikan Jawa kepada Belanda dan 2 tahun berikutnya, Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles kembali ke Inggris.

Rafflesia kian terancam alihfungsi lahan.

Rafflesia kian terancam alihfungsi lahan.

Raffles lantas mengangkat Horsfield sebagai kurator Museum Britannica. Pergantian kekuasaan yang berturut-turut dan perpindahan dalam waktu singkat itulah yang memicu kekisruhan pencatatan. Menurut Atik pencatatan untuk spesimen duplikat biasanya hanya berupa rentang tahun, yang menggambarkan waktu ketika pencatatnya berada di suatu tempat. Inventarisasi koleksi Herbarium Bogoriense tersusun secara alfabetis berdasarkan famili.

Buah kemukus Piper cubeba segar, inzet Awetan kemukus basah.

Buah kemukus Piper cubeba segar, inzet Awetan kemukus basah.

Kadang satu spesies tanaman ada beberapa spesimen yang berbeda tempat asalnya. Itu sebabnya Yayah Robiah, teknisi koleksi herbarium, selalu menanyakan lokasi asal tanaman yang akan dicari. “Spesies padi saja berasal dari beberapa tempat, antara lain Jakarta, Banten, Cirebon, dan Purwokerto,” kata Yayah. Padi putih, merah, maupun hitam, tersimpan dalam bentuk spesimen di herbarium itu.

Baca juga:  Inovasi Agar Harga Terkendali

Spesimen terpenting di herbarium itu dinamakan spesimen tipe, yang tersimpan dalam ruang terpisah. Spesimen tipe adalah spesimen yang menjadi dasar pemberian nama ilmiah sekaligus untuk mengecek spesimen lain yang diduga sejenis. “Mudahnya begini, tanaman kunyit yang bernama Curcuma longa adalah yang spesimennya tersimpan di herbarium. Tanaman lain bisa diberi nama sama kalau menunjukkan ciri yang sama dengan spesimen tipe itu,” kata Atik Retnowati.

Ruangan berisi 17.100 spesimen tipe itulah yang membuat Herbarium Bogoriense kerap didatangi peneliti dari seluruh penjuru dunia. Penyimpanan di herbarium tidak hanya berbentuk spesimen kering. Atik dan Yayah mengajak Trubus menuruni tangga ke ruang penyimpanan di lantai dasar. Yayah menuju ruangan berpintu logam bercat abu-abu dan menarik pintu setinggi 2,5 m itu. Semburan hawa sejuk pendingin ruangan terasa kontras dengan udara Cibinong yang terik selewat tengah hari.

Dr Atik Retnowati SP MSc, kepala sub Bidang Pengelolaan Koleksi Herbarium.

Dr Atik Retnowati SP MSc, kepala sub Bidang Pengelolaan Koleksi Herbarium.

Pengelola spesiemen mempertahankan suhu ruangan penyimpanan itu 20—25°C. Tujuannya menghambat pertumbuhan cendawan atau serangga perusak. “Ini ruang karpologi untuk menyimpan spesimen berbentuk biji,” kata master Biologi alumnus San Fransisco State University Amerika Serikat, itu. Perempuan berusia 40 tahun itu lantas membuka lemari berisi tanaman anggota famili Myristicaceae dan mengambil bungkusan plastik transparan. “Penyimpanannya cukup dibungkus plastik karena ukuran biji relatif besar,” kata Atik Retnowati.

Itu berbeda karena di lemari sebelahnya, biji tersimpan dalam botol berdinding dan bertutup kaca berukuran diameter 1,5 cm setinggi 10 cm. Di dalamnya, tersimpan biji tanaman Indigofera trifoliata. Meskipun berkerabat dekat dengan tarum, suplemen kambing perah indigofera I. trita, jenis trifoliata memicu keguguran pada mamalia. Itu sebabnya di beberapa wilayah di India, daun itu digunakan untuk kontrasepsi.

Nepenthes neoguineensis di Papua pada Desember 2007.

Nepenthes neoguineensis di Papua pada Desember 2007.

Di lemari lain, tergantung tandan kering bunga jantan dan betina tanaman palem berangka tahun 1910. Bunga tanaman palem asal benua Afrika itu diambil dari tanaman yang tumbuh di Kebun Raya Bogor. Pohon palem spesies Raphia hookeri itu salah satu anggota genus Raphia yang serat pelepahnya amat kuat. Masyarakat lazim memanfaatkannya untuk membuat tali, topi, tas, baju, bahkan karpet. Dari nama genus itulah kata rafia digunakan untuk menyebut tali rafia.

Baca juga:  Herbal Penyambung Nyawa

Sekarang salah kaprah menyebut rafia identik dengan tali plastik. Masyarakat Indonesia melupakan rafia asli dari tanaman Raphia hookeri. Namun, masyarakat di beberapa negara Afrika masih menggunakan pelepah palem Raphia dalam kehidupan sehari-hari mereka sampai saat ini. Raymond Gentil Elenga dari Universite Marien Ngouabi, Kongo, menyebutkan bahwa secara tradisional masyarakat Kongo menyerut pelepah dengan pisau untuk mendapatkan serat.

Dalam laporan penelitian “Thin Layer Drying of Raffia Textilis Fiber”, Elenga menjelaskan, serutan-serutan itu lantas dipintal menjadi lembaran kain, karpet, atau tali. Pelepah utuh juga digunakan sebagai atap rumah. Dalam pendahuluan, Elenga menyatakan bahwa serat rafia itu tergolong serat alam berkekuatan tinggi sehingga tetap digunakan sampai sekarang meskipun serat sintetis murah dan mudah didapat.

Spesimen N. neoguineensis asal Papua Nugini, September 1927.

Spesimen N. neoguineensis asal Papua Nugini, September 1927.

Berikutnya Atik mengajak Trubus memasuki ruangan lain berisi lemari dan rak berisi botol-botol besar. “Ini penyimpanan koleksi basah, untuk menyimpan bunga atau buah,” kata ibu 2 anak itu. Spesimen direndam dalam larutan etanol 90% untuk mengawetkan bentuknya. Etanol mencegah cendawan atau serangga hinggap dan merusak spesimen berharga itu. Dengan demikian koleksi beragam tanaman pun awet.

Di Herbarium Bogoriense juga tersimpan spesimen tanaman yang semakin langka dijumpai. Salah satunya, bunga kebanggaan Indonesia Rafflesia arnoldi. “Yang terkenal memang spesies itu karena ukurannya paling besar. Padahal genus Rafflesia mempunyai banyak anggota yang semuanya memerlukan pohon inang untuk hidup,” kata Atik. Rafflesia menumpang hidup hanya di tanaman liana jenis Tetrastigma sp.

Liana memerlukan tanaman tegak untuk memperoleh cukup sinar matahari. Semakin sehat liana, semakin baik Rafflesia yang menumpang hidup. Pisang pun mendapat tempat di Herbarium Bogoriense. Salah satunya pisang liar Musa acuminata. Menurut peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr Andria Agusta, pisang liar itu memang tidak bisa dimakan karena bijinya sangat banyak. Namun, pisang liar relatif toleran serangan layu fusarium alias penyakit panama.

Amorphophalus dulu lazim menjadi pangan alternatif, tapi kini semakin langka.

Amorphophalus dulu lazim menjadi pangan alternatif, tapi kini semakin langka.

“Layu fusarium menjadi penyakit serius, banyak kebun pisang di Amerika selatan hancur terkena fusarium,” tutur Andria. Itu sebabnya pisang liar itu menjadi koleksi berharga untuk mengembangkan pisang toleran fusarium. Bagi periset, kehadiran herbarium vital lantaran menjadi “bank” sekaligus perpustakaan. Menurut periset bidang Botani Puslit Biologi, Prof Dr Tukirin Partomihardjo, peneliti biasa menyerahkan kepada herbarium tanaman yang baru mereka temui dalam ekspedisi penelitian.

Kelak kalau mereka memerlukan bantuan identifikasi tanaman asing, herbarium pun menyediakan tanaman contoh yang bisa menjadi acuan baku. Bagi masyarakat umum, keberadaan herbarium juga tidak bisa dianggap remeh. Apalagi di era sekarang informasi yang kurang tepat bebas berseliweran antarponsel. Andria mencontohkan, “Banyak masyarakat bingung dengan daun insulin,” kata alumnus Jurusan Kimia Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, itu.

Padahal daun insulin merujuk kepada lebih dari satu tanaman, yang semuanya berkhasiat membantu pemulihan diabetes mellitus. Untungnya kini banyak lembaga pemerintah maupun swasta membuat herbarium sendiri. “Bahkan kampus-kampus yang memiliki jurusan Biologi pun mulai membuat herbarium di kampus masing-masing,” kata Atik Retnowati. Baginya itu fenomena yang baik.

Semakin banyak orang yang tahu, semakin banyak pula yang peduli. Indonesia sohor sebagai negara megabiodiversitas nomor dua setelah Brasil. Menurut data Himpunan Pemerhati Lingkungan Hidup Indonesia (HPLI), setidaknya 113.000 jenis tanaman tumbuh di Indonesia. Sebagian mungkin telah punah. Itulah sebabnya membangkitkan kesadaran bahwa keanekaragaman hayati di alam harus dilestarikan sebuah keharusan. Suatu saat tanaman itu bisa memberikan manfaat besar bagi manusia. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d