Rafflesia arnoldii kembali mekar di sebuah hutan  di Provinsi Bengkulu. Untuk kali pertama bunga raksasa itu terdiri atas enam perigon atau kelopak bunga, lazimnya hanya lima kelopak

Rafflesia arnoldii kembali mekar di sebuah hutan di Provinsi Bengkulu. Untuk kali pertama bunga raksasa itu terdiri atas enam perigon atau kelopak bunga, lazimnya hanya lima kelopak

Bersakit-sakit dahulu, melihat elok Rafflesia kemudian. Itulah penumpang tiga mobil yang berhenti di dekat tikungan pada sebuah siang yang cerah. Para penumpang mobil itu berpakaian necis, sepatu pantofel, berjalan menuju hutan di Provinsi Bengkulu. Jalan masuk ke hutan jelas tak ramah, berupa tanah setapak yang naik-turun. Apalagi semalam hujan deras mengguyur Bengkulu menyebabkan jalan kian licin. Batang rotan penuh duri menjulur ke sana ke mari berpeluang melukai.  Namun, mereka tak hirau, sepatu belepotan tanah, keringat mengucur deras, dan napas tersengal.

Mereka bersusah-payah demi melihat keelokan bunga ajaib: Rafflesia arnoldii. Ajaib karena bunga sekedei—nama lokal rafflesia di Kepahiang—itu tanpa daun sehingga seakan-akan tiba-tiba saja mekar. Rafflesia arnoldii bagai magnet yang menarik hasrat para pengunjung untuk melihat keelokannya. Bunga terbesar di dunia yang mekar pada awal Maret 2014 itu juga unik karena terdiri atas enam perigon atau kelopak. Yang sudah-sudah Rafflesia arnoldii mekar terdiri  atas lima perigon.

Bunga Rafflesia zollingeriana endemik di Kabupaten Jember, Jawa Timur

Bunga Rafflesia zollingeriana endemik di Kabupaten Jember, Jawa Timur

Ahli rafflesia dari Universitas Bengkulu Ir Agus Susatya MS PhD mengatakan bahwa boleh jadi itulah Rafflesia arnoldii pertama yang mekar dengan enam kelopak. Peneliti lain, Dra Sofi Mursidawati dari Kebun Raya Bogor-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), berpendapat serupa. “Saya baru pertama kali melihat Rafflesia arnoldii  berkelopak enam,” kata peneliti rafflesia sejak 2004 itu. Agus Susatya mengatakan, pada spesies lain seperti Rafflesia manillana dan R. cantleyi  memang pernah mekar dengan enam kelopak.

Itu membuat keunikan rafflesia makin tinggi. Mengapa enam kelopak? “Belum ada yang meneliti masalah ini. Secara teori, munculnya enam kelopak jarang terjadi dan wajar saja.  Diduga enam kelopak merupakan akibat proses genetika, mutasi contohnya,” ujar alumnus Michigan State University itu. Rafflesia itu tumbuh di lahan miring. Di sekitar tempat tumbuh sekedei itu beberapa pohon pasang dan medang Phoebe sp menjulang dengan kanopi rapat sehingga meneduhkan. Liana Tetrastigma sp yang menjadi inang rafflesia merambati pohon-pohon itu.

Bonggol Rafflesia zollingeriana tumbuh di Taman Nasional Merubetiri, Kabupaten Jember, Jawa Timur

Bonggol Rafflesia zollingeriana tumbuh di Taman Nasional Merubetiri, Kabupaten Jember, Jawa Timur

Ketua Lembaga Peduli Puspa Langka dan Lingkungan, Holidin, memagari Rafflesia arnoldii itu dengan bambu. Ia dan rekan-rekannya pula yang memandu para pengunjung untuk menyaksikan kemolekan bunga berdiameter 75 cm itu. Penelusuran sekedei berlanjut ke lokasi lain melalui jalan yang naik dan turun. Hanya berselang 15 menit,  Holidin menemukan enam Rafflesia arnoldii yang masih kuncup. Bentuknya membulat seperti kubis, terutama bunga terbesar berdiameter 20-an cm. Sementara bunga kuncup terkecil di lokasi itu berukuran sebesar telur puyuh. Menurut Holidin yang 16 tahun terakhir “merawat” rafflesia sp, bunga terbesar itu terus tumbuh. Diameter Rafflesia arnoldii terbesar yang pernah mekar mencapai  110 cm.

Holidin memperkirakan bunga itu mekar penuh tiga bulan mendatang atau Juni 2014. Sejak muncul bakal bunga hingga mekar sempurna tanaman parasit  itu memerlukan waktu 12 bulan. Ketika ukuran maksimal, bunga pun mekar. Pada pembukaan kelopak  pertama biasanya terdengar bunyi “kreek ….” Setelah itu kelopak kedua menyusul dan seterusnya hingga perigon kelima. Interval mekarnya kelopak beragam, biasanya antara 2—3 jam. Menurut Agus Susatya rafflesia sp terbuka secara sekuensial atau satu-per satu dari atas.

Ir Agus Susatya MSc PhD salah satu penemu Rafflesia bengkuluensis pada 2010. Tampak di depan Agus Susatya R. bengkulensis berukuran lebih kecil daripada R. arnoldii

Ir Agus Susatya MSc PhD salah satu penemu Rafflesia bengkuluensis pada 2010. Tampak di depan Agus Susatya R. bengkulensis berukuran lebih kecil daripada R. arnoldii

Bunga anggota famili Rafflesiaceae itu mekar sempurna pada hari ke-2 atau ke-3.  “Dalam proses membukanya kelopak boleh jadi dipicu oleh faktor eksternal seperti intensitas cahaya, kelembapan, suhu, serta faktor internal yakni fisiologi bunga dan hormon,” ujar dosen Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu, itu. Pada hari berikutnya bunga mulai membusuk yang ditandai munculnya warna hitam.  Beragam serangga seperti lalat tampak beterbangan menyentuh mahkota bunga atau ramenta alias organ mirip rambut halus di dalam cekungan bunga.

Baca juga:  Budidaya Tumpangsari

Di hutan itu setidaknya terdapat tiga titik tumbuh Rafflesia arnoldii. Titik tumbuh ketiga berada di lokasi miring. Bunga-bunga di titik tumbuh ketiga juga masih kuncup dan bakal mekar 3—4 bulan mendatang. Pada saat bersamaan, spesies lain, Rafflesia bengkulensis juga tengah mekar di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Salah satu penemu dan pemberi nama spesies itu adalah Agus Susatya yang mengamati sosok itu pada 2000—2005.  Doktor alumnus Universitas Kebangsaan Malaysia itu mengatakan  Rafflesia bengkulensis lebih pucat.

Daun muda Tetrastigma sp, tanaman inang  rafflesia tumbuh di sebuah hutan di Provinsi Bengkulu

Daun muda Tetrastigma sp, tanaman inang rafflesia tumbuh di sebuah hutan di Provinsi Bengkulu

Pembeda lainnya, jenis dan ukuran ramenta. Ramenta R. bengkuluensis bertipe tuberkel,  ukuran kecil kurang dari 5 mm, R. arnoldii bertipe filiform atau lebih dari 5 mm. Ukuran R. bengkuluensis juga lebih kecil, berdiameter 40—55 cm. Menurut Agus Susatya lokasi pertumbuhan R. bengkuluensis lebih dekat ke arah pantai. Sebarannya di bawah 200 m di atas permukaan laut (dpl), sedangkan arnoldii lebih ke arah pegunungan, berkisar 400—6.000 m dpl. Kedua segedi—nama lokal rafflesia di Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu—itu  tumbuh di kawasan hutan, hutan sekunder,  dan ladang penduduk.

Sebetulnya ukuran dan penampilan luar R. bengkuluensis sangat mirip R. patma yang tumbuh di Pangandaran, Provinsi Jawa Barat dan Nusakambangan, Jawa Tengah.  Oleh karena itu semula ahli rafflesia dunia menyebutkan bunga yang mirip itu sebagai R. patma. “Tapi pada saat saya cek untuk bahan desertasi, morfologi berbeda dengan arnoldii, terutama ramenta,” kata Susatya. Ia menyematkan nama bengkulensis pada spesies itu untuk menghargai provinsi di barat Sumatera itu sebagai lokasi ditemukannya rafflesia untuk pertama kali pada 1818.

Bunga raksasa itu pertama kali ditemukan oleh Gubernur Jenderal Bencoolen alias Bengkulu Sir Thomas Stamford Raffles dan pencinta alam dr Joseph Arnold, di Pulau Lebar, Bengkulu Selatan. Botanis Robert Brown (1773—1858) mengabadikan nama kedua penemu itu untuk menyebut spesies bunga terbesar Rafflesia arnoldii. Menjelang pukul 14.00 Trubus keluar hutan di Bengkulu dan kembali ke hutan yang lain sejam berselang.  Penelusuran di lokasi lain menemukan R. arnoldii berukuran lebih kecil, diameter 55 cm.

Sejak muncul bonggol hingga mekar, rafflesia perlu waktu 12 bulan. Sejak mekar sempurna, ia bertahan selama 7 hari

Sejak muncul bonggol hingga mekar, rafflesia perlu waktu 12 bulan. Sejak mekar sempurna, ia bertahan selama 7 hari

Sayangnya, sosok sekedei itu tak sempurna akibat sebuah kelopak tidak mekar optimal. Kelopak ke-3 belum membuka sempurna.  Dampaknya menghalangi kelopak terakhir tidak bisa membuka. “Lagi pula jika dalam satu-dua hari dia belum membuka, maka perigon itu mulai membusuk dan kehilangan energi untuk membuka,” kata ahli sekedei kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, 16 Agustus 1961 itu. Holidin menduga terhambatnya perigon atau kelopak membuka akibat bunga terinjak babi hutan ketika masih kuncup.

Baca juga:  Potensi Bisnis Tanaman Hias

Namun, Agus Susatya menyangsikan analisis itu. “Kalau terinjak babi, bisa dipastikan bunga tidak mekar, karena bunga akan hancur,” kata Agus Susatya yang junga menemukan Rafflesia lawangensis pada 2010 bersama dua rekannya: Arianto dan Mat Saleh. Di dua lokasi berbeda Trubus menemukan dua bunga kuncup berdiameter 30-an cm yang rusak. Bunga gagal mekar itu berwarna hitam. Sofi Mursidawati mengatakan penyebab tidak berkembangnya sekedei sangat kompleks, tetapi faktor utama ada pada tanaman inang.

Bonggol Rafflesia arnoldii menghitam setelah gagal mekar

Bonggol Rafflesia arnoldii menghitam setelah gagal mekar

Kelopak Rafflesia arnoldi tidak mekar sempurna akibat pasokan nutrisi dari tanaman inang tidak mencukupi. Padahal, sekedei yang mekar membutuhkan banyak energi. Sayangnya, tanaman tanpa klorofil itu tak mampu menyediakan nutrisi. Ia mendapat pasokan nutrisi dari tanaman inang Tetrastigma sp.  “Ia hanya mengambil dari tanaman inangnya, semakin bagus nutrisi pada tanaman inang, maka akan bagus pula pertumbuhan Rafflesia arnoldi,” kata alumnus University of Western, Australia, itu.

Perumpamaan sederhana, Rafflesia sp indekos  di rumah Tetrastigma sp.  Ketika induk semang tak mempunyai makanan, maka rafflesia pun menuai ajal. “Apa yang terjadi pada tanaman inang akan mempengaruhi rafflesia. Jika tanaman inang kurang air, misalnya, pertumbuhan rafflesia bisa mandek,” kata Mursidawati. Uniknya rafflesia hanya cocok tumbuh dengan tanaman inang Tetrastigma sp. Sementara dengan spesies inang lain, sekedei tak mampu tumbuh.

Sebuah kelopak Rafflesia arnoldii gagal mekar akibat pasokan nutrisi dari tanaman inang tidak memadai

Sebuah kelopak Rafflesia arnoldii gagal mekar akibat pasokan nutrisi dari tanaman inang tidak memadai

Indonesia mempunyai 13 spesies—10 di antaranya tumbuh di Sumatera—dari total 27 jenis rafflesia di dunia. Bunga-bunga sekedei itu merupakan parasit sempurna. Karena, “Tidak punya daun tidak punya batang, maka hidupnya tergantung pada inang Tetrastigma. Rafflesia memperoleh nutrisi melalui jaringan yang berfungsi seperti akar atau haustorium,” kata Agus Susatya. R arnoldii,  R. bengkulensis, dan  R. lawangensis hanya beberapa spesies rafflesia. Dua yang disebut pertama merupakan jenis baru hasil temuan Agus Susatya masing-masing pada 2005 dan 2010.

Satu lagi jenis terbaru lainnya adalah Rafflesia maejerii hasil temuan pada 2010. Selain itu Indonesia juga mempunyai R. zollingeriana. Beberapa tahun sebelum penelusuran sekedei di Bengkulu, Trubus juga menemukan jenis itu di Blok Krecek, Taman Nasional Meru Betiri, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Ketika penelusuran, bunga belum mekar, masih berupa bonggol yang membulat. Sosok R. zollingeriana mirip R. bengkuluensis. Menurut Agus Susatya habitatnya juga mirip, yakni di dekat  pantai.

Dra Sofi Mursidawati, peneliti Rafflesia sp dari Kebun Raya Bogor

Dra Sofi Mursidawati, peneliti Rafflesia sp dari Kebun Raya Bogor

R. zollingeriana pertama kali ditemukan oleh Koorders  pada 1902 di Puger,  Kabupaten Jember.  Rafflesia endemik itu biasanya tumbuh pada akar dan batang inang Tetrastigma lanceolarium dan Tetrastigma papillosum. Itulah sebabnya hilangnya tanaman inang keruan saja mempengaruhi populasi Rafflesia. Sayang, data populasi rafflesia belum tersedia. Holidin kerap menemukan perusak habitat, inang, bahkan mencacah bunga Rafflesia sp yang tengah mekar.

“Karena ketidaktahuan banyak orang merusak tanaman inang,” kata Holidin. Agus Susatya mengatakan, “Memang benar ada populasi yang dulu dijumpai bunga mekar, sekarang tidak dijumpai. Hal itu karena karena lingkungan, bisa kematian kuncup, atau kematian inang atau kombinasi ketiganya.”  Agus Susatya dan Sofi Mursidawati berpendapat serupa bahwa penyelamatan rafflesia dengan menjaga habitatnya.  “Tentunya juga dengan edukasi masyarakat tentang Rafflesia.  Untuk lokasi yang sudah dikenal perlu adanya manajemen ekosistem yang baik,” kata Agus. Itu bukan sekadar menjaga keelokan sekedei. Namun, kehidupan sekedei memang masih penuh misteri. (Sardi Duryatmo)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d