Sehektar Hanya 6 Jam 1
Kegiatan panen di sehektar lahan memerlukan 30 orang tenaga kerja

Kegiatan panen di sehektar lahan memerlukan 30 orang tenaga kerja

Kombinasi mesin pemotong, perontok, dan pembersih gabah mempercepat proses panen.

Setiap kali panen padi tiba, Hendra Iskandar pusing tujuh keliling. Pasalnya petani di Desa Mekarwangi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, itu harus mencari 30 orang tenaga kerja untuk memanen padi dalam waktu 8 jam. Ia kian sulit mendapat tenaga harian. Maklum, generasi muda enggan terjun ke sawah. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik atau mencari kerja di kota. “Saya harus mencari pekerja hingga ke desa lain,” ujarnya.

Kesulitan itu semakin bertambah jika petani lain panen pada waktu bersamaan. Tenaga kerja pun kian langka. Keruan saja setiap musim panen Hendra terpaksa mempekerjakan tenaga yang sudah sepuh. Akibatnya panen pun membutuhkan waktu lebih lama. Tenaga kerja itu akan ditugaskan untuk memotong, merontokkan, dan membersihkan 7 ton gabah di lahan 1 ha. Hendra membayar upah Rp4,5-juta setiap kali panen. Harap mafhum, upah harian tenaga kerja Rp150.000 per orang. “Kadang mencapai Rp200.000,” kata Hendra.

Mardison STP MSi, perancang mesin indo combine harvester

Mardison STP MSi, perancang mesin indo combine harvester

Tiga fungsi

Masalah itu bukan hanya dialami oleh Hendra, melainkan hampir seluruh petani di tanahair. Langkanya tenaga kerja membuat petani mengeluhkan standar upah yang terus meningkat. Kini kendala itu dapat teratasi berkat mesin panen terobosan terbaru yang dikeluarkan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BB Mektan) Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Menurut Mardison STP MSi, perancang mesin, dengan alat pemanen petani hanya memerlukan 1 tenaga kerja. Kegiatan panen di lahan 1 ha pun selesai dalam 6 jam.

Alat yang selesai dirancang pada Agustus 2013 itu bekerja untuk 3 kegiatan sekaligus, yaitu: memotong, merontokkan, dan membersihkan gabah. “Itu sebabnya alat ini disebut indo combine harvester atau alat panen kombinasi,” ujar Mardison. Di bagian depan bawah mesin itu dilengkapi dengan 18 mata pisau untuk memotong padi. Mesin pemanen itu melaju dengan kecepatan 3 km per jam untuk memotong batang padi. “Petani bisa mengatur ketinggian potong batang padi,” katanya. Umunya, padi dipotong 15—20 cm dari permukaan tanah.

Mesin panen menjadi solusi keterbatasan tenaga kerja

Mesin panen menjadi solusi keterbatasan tenaga kerja

Hasil potongan itu kemudian dikirimkan ke unit perontok. Jeruji dan selinder panjang pada unit itu merontokkan gabah dari malai. Unit perontok memiliki kecepatan putar 800 rotasi per menit (rpm). Malai kosong akan dikeluarkan sementara gabah diproses di unit pembersih. Sistem pembersihan ini membuat gabah bebas dari jerami, daun padi, bahkan padi. Unit pembersih memang dilengkapi dengan ayakan dan blower elektrik. Gabah yang sudah bersih pun akan ditampung menggunakan karung di unit penampung.

Baca juga:  Anggrek Yang Hilang di Lereng Perawan

Tak hanya menyingkat waktu panen dan mengurangi kebutuhan tenaga kerja. Alat pemanen itu juga menghemat biaya. Untuk memanen sehektar sawah, mesin pemanen hanya memerlukkan 15—21 liter solar. Saat ini harga solar nonsubsidi Rp12.500 per liter, maka petani hanya perlu mengeluar-kan Rp187.500—Rp262.500. Bandingkan dengan petani yang menggunakan tenaga kerja manual. Pada kasus Hendra, biaya panen mencapai Rp4,5-juta per ha. Jika menggunakan mesin pemanen tentu Hendra mengirit biaya panen. Itulah sebabnya penggunaan mesin sangat ekonomis.

"Menggunakan mesin untuk kegiatan panen dapat meningkatkan penghasilan petani," kata Dr Ir Astu Unadi MEng kepala BB Mektan

“Menggunakan mesin untuk kegiatan panen dapat meningkatkan penghasilan petani,” kata Dr Ir Astu Unadi MEng kepala BB Mektan

Kehilangan 3%

Penggunaan mesin panen ini juga ternyata dapat menekan angka kehilangan hasil. Harap mafhum tingkat kehilangan hasil saat panen padi relatif tinggi. “Tingkat kehilangan hasil saat perontokan mencapai 13—15%,” ujar Ir Bram Kusbiantoro MS, peneliti pascapanen di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Subang, Jawa Barat. Kehilangan hasil terbanyak memang terjadi saat proses perontokan karena banyaknya gabah yang masih menempel di jerami.

Namun, kehilangan bukan semata-mata terjadi pada proses perontokan, tetapi bisa juga saat pemotongan dan pengayakan. Dengan mesin panen angka kehilangan dapat ditekan hanya 3%. Artinya, jika petani panen 7 ton gabah kering panen (GKP) per ha, gabah yang hilang hanya 210 kg. Bandingkan dengan panen manual yang angka kehilangannya mencapai 910 kg. Ada selisih 700 kg antara panen manual dan dengan mesin.

“Menggunakan mesin untuk kegiatan panen dapat meningkatkan penghasilan petani maupun angka total panen nasional,” ujar Dr Ir Astu Unadi MEng, kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BB Mektan). Sejatinya, mesin panen padi memang bukan hal yang baru. PT Kubota Machinery Indonesia, produsen alat-alat pertanian, pun memproduksi alat serupa pada awal 2013. Perbedaan indo combine harvester dengan alat panen padi lainnya justru terletak pada angka tekanan terhadap tanah (ground pressure) dan lebar kerjanya.

Tingkat kehilangan gabah saat proses pascapanen mencapai 13—15% dari total panen

Tingkat kehilangan gabah saat proses pascapanen mencapai 13—15% dari total panen

Berdasarkan pengalaman petani yang menggunakan mesin panen padi kesulitan mengoperasikannya saat kondisi tanah becek dan menyebabkan roda karet mesin tidak berjalan stabil. Mesin panen yang banyak beredar di pasaran memiliki angka ground pressure di atas 0,2 kg/cm2. Sementara mesin terobosan baru BB Mektan berangka ground pressure hanya 0,13 kg/cm2. Kondisi tanah sawah di Indonesia yang berlumpur tinggi membutuhkan mesin dengan angka ground pressure yang rendah.

Baca juga:  Bikin Mata Lebih Awas

Angka tekanan terhadap tanah yang rendah juga dapat meminimalisir kerusakan lahan akibat penggunaan mesin. Lebar kerja mesin panen itu 120 cm sehingga sangat cocok dengan kepemilikan sawah di Indonesia yang rata-rata di bawah 500 m2 dan berpetak-petak. Mesin berbobot 1.680 kg itu juga mudah dipindahkan dengan bantuan truk kecil atau traktor. Kehadiran mesin pemanen diharapkan dapat menjawab keluhan petani dan juga meningkatkan produksi gabah nasional. (Rizky Fadhilah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *