Tanam sorgum rapat demi panen berlipat

Tanam sorgum rapat demi panen berlipat

Senyum tersungging di wajah Sarjiyo dan rekan-rekan anggota Kelompok Tani Bismo. Mereka baru memanen sorgum di lahan bersama seluas 5 ha. Harap mafhum, mereka memperoleh 45 ton sorgum dari 5 ha lahan. Itu setara 9 ton sorgum per ha. Umumnya, sehektar tanaman Sorghum bicolor itu hanya menghasilkan 3 ton bulir. Dengan harga jual Rp1.500 per kg, omzet Sarjiyo dan rekan-rekan Rp67,5-juta. Hasil itu sekaligus membungkam komentar miring yang terlontar dari rekan dan beberapa petugas dari dinas setempat. Maklum, penanaman setahun sebelumnya gagal total. Saat itu, petani menanam sorgum di lahan 20 ha yang terletak 5 km dari lahan Sarjiyo.

Penanaman yang didampingi Dinas Pertanian Kabupaten Bantul itu gagal panen lantaran petani tidak memahami pedoman budidaya tanaman kerabat tebu itu. “Penanaman yang didampingi dinas saja gagal, apalagi penanaman mandiri oleh petani,” tutur Sarjiyo menirukan cemoohan yang ia terima ketika mulai menanam sorgum. Untunglah, Sarjiyo memilih menutup telinga dan fokus pada budidaya sorgum.

“Dengan jajar legowo, setiap satu hektar lahan menghasilkan 9 ton sorgum,” kata Sarjiyo

“Dengan jajar legowo, setiap satu hektar lahan
menghasilkan 9 ton sorgum,” kata Sarjiyo

Pupuk

Mengapa Sarjiyo bersikeras menanam sorgum? “Perawatan mudah, irit pupuk dan air, dan sekali tanam bisa panen berkali-kali,” kata petani di Bantul, Yogyakarta. Sarjiyo dan rekan tidak sendiri menanam sorgum. “Saat ini daerah kami menjadi tempat percobaan pengembangan sorgum,” katanya. Namun, petani rata-rata hanya mampu memanen 3 ton per ha.

Kegagalan itu tidak membuat Sarjiyo dan rekan kapok. Pada pertengahan 2013, mereka menanam lagi dengan bimbingan lembaga swadaya masyarakat Sorgum Agro Riset dan Inovasi (SARI). “Untuk meningkatkan produksi, kami mengubah cara tanam,” kata Sumadi, teknisi budidaya sorgum SARI.

Baca juga:  Mawar Bau Usir Kanker Usus

Mereka menananam sorgum rapat dengan pola jajar legowo alias jarwo. Dua baris tanaman berjarak 20 antarbaris. Setiap 2 baris terpisah interval 60 cm (lihat infografis). Sebelum tanam, mereka membersihkan lahan dengan menyemprotkan 10 liter herbisida lalu membenamkan 25 ton pupuk kandang untuk 5 ha lahan. Selang sepekan, mereka menugal tanah untuk lubang tanam sedalam 5—10 cm lalu memasukkan 3—4 benih sorgum per lubang. “Tujuannya menekan kematian bibit sekaligus mengendalikan pertumbuhan gulma,” kata Sarjiyo. Dengan cara itu, mereka memerlukan 50 kg benih untuk 5 ha lahan.

Ketika tanaman berumur 20 hari setelah tanam (hst), mereka mengocorkan 1 ton pupuk campuran Urea dan Phonska dengan rasio 1:1. Selang 10 hari, yaitu pada 30 hst, mereka melakukan penjarangan. Pada 45 hst, Sarjiyo kembali memupuk dengan campuran dan dosis sama, tetapi kali ini aplikasinya dengan cara ditebar.

Untuk mengendalikan serangan burung, mereka memasang boneka pengusir burung dan melakukan piket harian sejak pagi hingga sore. Pada 60—70 hst, bulir-bulir sorgum mulai bermunculan. Sorgum siap panen saat berumur 90 hst.

Menurut Sarjiyo biaya pemberantasan gulma Rp700.000, sedangkan pupuk kandang Rp10-juta. Biaya pemupukan 1 dan 2 masing-masing Rp2-juta, sementara biaya pengairan mencapai Rp4-juta. Plus tenaga kerja dan sewa lahan, biaya total mencapai Rp60-juta untuk 5 ha lahan. Artinya dalam 90 hari, mereka memperoleh margin Rp7,5-juta untuk 5 ha lahan atau Rp2,5-juta per ha. Laba mereka sebetulnya lebih besar jika panen tepat waktu pada umur 90 hari.

Sayang, karena menanti kunjungan seorang pejabat ibukota—yang akhirnya gagal berkunjung—panen ditunda sebulan hingga 120 hst. Kualitas bulir pun anjlok sehingga harganya Rp1.500. “Kalau panen tepat waktu, kami bisa memperoleh harga lebih tinggi, Rp2.500 per kg,” kata Sarjiyo.  Potensi penghasilan yang raib akibat penundaan itu mencapai Rp9-juta alias Rp1,2-juta per ha. Sejatinya Sarjiyo dan rekan-rekan bisa meraup laba Rp3,7 per ha dalam 90 hari.

Baca juga:  Pujian untuk Billi

Optimal

Perekayasa madya bahan bakar nabati, Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi, Serpong, Dr Ir Arif Yudiarto, menuturkan selama ini cara tanam jajar legowo banyak digunakan oleh petani padi untuk meningkatkan produksi hingga 3—4 kali lipat. “Logikanya cara itu pun bisa diterapkan pada sorgum. Populasi tanaman banyak, jadi produksi meningkat,” katanya. Dengan jajar legowo populasi menjadi 200.000. Adapun pada penanaman konvensional populasi hanya 35.700.

Pada jajar legowo tanaman  mendapat sinar matahari secara merata sehingga proses fotosintesis sempurna. Efek lain, penyerapan pupuk dan air oleh tanaman pun lebih optimal. Keruan saja produktivitas meningkat.

Menurut Arif, sorgum dapat  dimanfaatkan mulai dari biji, daun, hingga batang. Sayang, masyarakat belum begitu mengenal sorgum sehingga harga sorgum di pasar masih rendah dibanding padi atau jagung. “Oleh karena itu dibutuhkan berbagai upaya untuk mengenalkan sorgum dengan berbagai keunggulannya pada masyarakat,” kata Arif. Harapannya tentu untuk menambah nilai jual sorgum. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d