Sehektar 45 Ton 1
Dengan pupuk hayati 1 tanaman bisa menghasilkan 2—5 kg umbi. Lazimnya 1—2 kg

Dengan pupuk hayati 1 tanaman bisa menghasilkan 2—5 kg umbi. Lazimnya 1—2 kg

Berkat pupuk hayati Nano Wijayanto memanen kentang 45 ton per hektar.

Nano Wijayanto benar-benar semringah. Pekebun kentang di Cipanas, Jawa Barat, itu menuai hasil spektakuler, 45 ton per hektar. Bandingkan dengan pekebun lain yang menanam jenis sama di Pangalengan, Kabupaten Bandung, hanya menuai 25 ton per ha. Kunci produksi tinggi itu lantaran Nano menggunakan pupuk hayati dan pupuk organik, selain pupuk kimia. “Persentasenya 40% pupuk kimia dan 60% pupuk hayati dan organik,” kata alumnus Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, itu.

Untuk satu hektar lahan Nano memberikan 6 liter pupuk hayati, 500 kg pupuk organik, dan 300 kg pupuk kimia sehari sebelum tanam. Nano juga menyemprotkan pupuk hayati setiap pekan. Konsentrasinya 1,5 liter pupuk hayati per 10 liter air. Itu cukup untuk luasan 1 ha. Setiap sekali dalam sepekan pekebun yang membudidayakan kentang sejak Desember 2013 itu juga menyemprotkan pestisida berkonsentrasi 2 cc/liter air. “Pemberian pupuk hayati dan pestisida secara bergantian dengan jarak 2 hari,” ujar Nano.

Produksi kentang 45 ton per hektar setelah menggunakan pupuk hayati

Produksi kentang 45 ton per hektar setelah menggunakan pupuk hayati

Biang hara
Dengan perawatan seperti itu umbi kentang pun berukuran jumbo. Bobotnya 2—5 kg per tanaman. Bandingkan dengan pekebun lain yang menggunakan pupuk organik dan kimia hanya 1—2 kg per tanaman. Pupuk hayati berbeda dengan pupuk organik. Yang disebut terakhir itu sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman atau hewan yang telah melalui proses rekayasa.

Menurut Manajer Pengembangan Bisnis Agro DI Grow, Ir Suhendro Atmaja, pupuk organik buatannya berbahan dasar rumput laut cokelat yang berlimpah nutrisi. Sementara pupuk hayati merupakan pupuk yang berisi spesies-spesies mikrob. Mikrob-mikrob itulah yang berperan sebagai koki penyedia “makanan” bagi tanaman.

Baca juga:  Kilat Kupas Kentang

Umumnya mikrob itu berperan dalam menambat nitrogen, melarutkan fosfat dan kalium. Mikroorganisme yang terdapat pada pupuk hayati menyediakan sumber hara bagi tanaman, merangsang sistem perakaran agar berkembang sempurna, dan memperpanjang umur akar. Dengan begitu tanaman memperoleh nutrisi cukup untuk pertumbuhan generatif dan vegetatif.
Kini petani tak perlu repot meramu pupuk hayati sendiri karena produk pupuk hayati sudah banyak dijual di pasaran. Bahkan beberapa merek pupuk hayati di pasaran mengandung gabungan lebih dari satu mikrob. BIO P 2000 Z, misalnya, yang mengandung 18 bakteri. “Bakteri yang digunakan merupakan hasil kloning sehingga memiliki 2 fungsi sekaligus,” ujar Ir Ali Zum Mashar MS, produsen BIO P 2000 Z.

Ali Zum Mashar memproduksi pupuk hayati yang dicampurkan dengan pupuk organik

Ali Zum Mashar memproduksi pupuk hayati yang dicampurkan dengan pupuk organik

Pilih
Menurut Ali semakin banyak produk pupuk hayati di pasaran, semakin baik bagi petani. Itu karena mereka bisa memilih pupuk yang sesuai dengan lahan dan komoditas yang diusahakan. Namun, “Petani tetap harus berhati-hati dalam memilih produk pupuk hayati,” kata Ali. Petani harus jeli mencari informasi mengenai bukti keampuhan pupuk itu, baik dari brosur dan petani lain. Petani juga harus mencermati legalitas atau izin dari Kementerian Pertanian dengan tercantumnya nomor pendaftaran. Legalitas juga bisa didukung dari lembaga sertifikasi organik.

Dengan penggunaan pupuk hayati yang tepat produksi pun meningkat. Semakin banyaknya petani yang merasakan manfaat penggunaan pupuk hayati membuat permintaan pupuk hayati meningkat. Menurut ahli aplikasi pertanian Bioto Grow, Firman, penjualan Bioto Grow meningkat hingga 580% sejak awal 2014. Sementara Ali Zum Mashar menuturkan penjualan pupuk produksinya meningkat 100% pada 2012—2013. Persentase kenaikan penjualan 50% dialami DI Grow, sedangkan penjualan Grow Quick meningkat hingga 30%.

Baca juga:  Pertemuan Media Biotek

Perkembangan pupuk hayati memang terhitung cepat. Bahkan PT Nusa Berkat Alam telah membuat produk yang menggabungkan pupuk hayati dan organik, Ferre Soil. Pupuk itu mengandung bahan organik yang diperkaya dengan mikrob unggul penyubur yang dapat memperbaiki struktur tanah. Dengan menggunakan Ferre Soil pekebun tidak perlu repot membeli pupuk organik dan pupuk hayati secara terpisah.

Mikroorganisme pada pupuk hayati berfungsi sebagai unsur hara bagi tumbuhan

Mikroorganisme pada pupuk hayati berfungsi sebagai unsur hara bagi tumbuhan

Aplikasi
Dalam pengaplikasian pupuk hayati, petani tetap dapat menggunakan pestisida. Pemberian pestisida dapat dinetralisir dengan penyemprotan pupuk hayati secara rutin seperti yang dilakukan Nano. Dengan begitu, senyawa jahat yang terdapat pada pestisida berubah menjadi makanan untuk tanaman itu sendiri. “Penyemprotan pupuk hayati dapat dilakukan mulai 3 jam setelah pestisida diberikan,” kata Ali. Namun, perlakuan akan berbeda jika petani menggunakan pestisida hayati (biopestisida).

Menurut guru besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Prof Dr Ir Tualar Simarmata MS saat penyemprotan biopestisida sebaiknya tidak terjadi kontak langsung dengan pupuk hayati. “Pestisida berbahan mikrob yang bersifat antagonis sehingga bisa menonaktifkan mikrob pupuk hayati. Dampaknya mikrob dalam pupuk hayati tak bekerja optimal,” kata Tualar. Artinya, antara pemberian pupuk hayati dan biopestisida harus diberikan jeda agar dapat bekerja maksimal.

Selain itu, petani juga harus memperhatikan lingkungan tumbuh yang bervariasi. Musababnya, “Prinsip dasar penggunaan pupuk hayati adalah “beternak” mikrob sehingga langkah pertama adalah memastikan mikrob mampu bertahan hidup dan berkembang biak di lingkungan yang baru,” ujar Tualar. Oleh karena itu petani mesti jeli menggunakan pupuk hayati di lahan yang berbeda-beda (Baca: “Serdadu Kecil Penjaga Lahan” halaman 116). Dengan aplikasi pupuk hayati secara tepat, produksi pun meningkat seperti yang dialami Nano. (Rizky Fadhilah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *