Sebelum Adopsi Pussy Liar 1
drh Dharmajono DVM, kucing steril lebih tenang

drh Dharmajono DVM, kucing steril lebih tenang

Linda Riana kerap mendapat  “bingkisan” berupa anak kucing di depan pintu rumahnya di Kota Depok, Jawa Barat. Ia tak tahu pengirimnya.  “Yang jelas pengirimnya tahu saya memelihara banyak kucing,” ujarnya.  Linda mengadopsi kucing liar hingga pernah mencapai 38 ekor termasuk titipan rekan sesama penyuka kucing. Soal gemar mengadopsi kucing liar, Linda tak sendiri. Komunitas Garda Satwa semakin gencar menyuarakan perlindungan kucing liar. Mereka menyuarakan kampanye adopsi kucing melalui tempat penampungan, klinik hewan, maupun mengambil hewan liar di jalanan ketimbang membeli kucing di petshop atau cattery.

Pengelola penampungan kucing mengenakan biaya tertentu atau justru gratis bagi calon pengadopsi. Di Garda Satwa, calon pengadopsi kucing, hanya perlu mengisi formulir dan menjalani wawancara agar pengelola yakin hewan yang akan diadopsi mendapatkan perlakuan baik di rumah barunya.

Pemilik Pejaten Shelter, dr Susana Somali, SPKK, menyarankan, “Pilih kucing yang sudah steril. Sterilisasi tidak jahat, itu salah satu bentuk kontrol populasi selain suntik mati,” tambahnya. Selain kucing tertolong, juga memudahkan calon pengadopsi merawat satwa klangenan itu. Usai pengebirian, perilaku kucing jantan berubah. Kebiasaan membuat tanda dengan berurine di sembarang tempat dapat berkurang. Mereka tidak bereaksi dengan aksi tebar feromon betina ketika musim berahi.

Menurut dokter hewan di Ragunan, Jakarta Selatan, drh Dharmajono DVM,  kucing steril lebih tenang dan tidak gampang sakit. “Kastrasi pada jantan dan ovariohisterektomi pada betina membuat mereka tidak lagi menghasilkan anak. Dengan sterilisasi itu, hormon yang mempengaruhi perilaku agresif kucing jantan pun tidak lagi dihasilkan,” kata lulusan Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor itu. Sterilisasi berperan mencegah populasi bertambah di luar kontrol.

Baca juga:  Juniperus Kampiun

Sebelum adopsi, Dharmajono mengingatkan perlunya pertimbangan matang. “Persetujuan keluarga dan orang terdekat menjadi pertimbangan pertama sebelum adopsi,” tutur Dharmajono. Menyukai saja tidak cukup. Anggota keluarga yang alergi bulu kucing, misalnya, bakal menjadi kendala kehadiran Felis silvestris catus di rumah.

Soal perawatan standar, kucing ras berbeda kebutuhan dengan kucing kampung. Bulu panjang kucing ras mudah rontok bila perawatan kurang tepat. Artinya menambah pekerjaan membersihkan bulu yang menempel di sofa atau karpet. Kucing liar di penampungan hewan kebanyakan jenis kucing kampung yang perawatannya lebih mudah. Namun, kucing kampung sekalipun perlu diajak berinteraksi dan dijaga kebersihannya. Intinya apa pun pilihannya,  calon pengadopsi perlu meluangkan waktu untuk merawat si manis. “Hewan peliharaan tidak hanya untuk menjaga rumah dan hiburan. Mereka membutuhkan kasih sayang,” kata artis Davina Veronica, salah satu pendiri Garda Satwa.

Calon pengadopsi juga perlu menyiapkan dana perawatan. Linda yang kini memelihara 10 kucing liar, memerlukan 20 kg pakan setara Rp400.000 per bulan. Biaya itu tergolong murah karena Linda melakukan perawatan standar. Ia tidak menggunakan bak pasir dan perlengkapannya untuk kebutuhan kucing buang air.

Linda mengatakan,  “Halaman cukup luas. Kucing dibebaskan berkeliaran, hanya wadah makan dan minum yang ditempatkan khusus.” Untuk tempat istirahat, Linda membiarkan jendela terbuka agar kucing-kucingnya leluasa keluar masuk rumah. Biaya tambahan utama lainnya untuk vaksin dan obat. Harga vaksin Rp125.000—Rp150.000 per dosis tergantung jenisnya. Vaksin penting yang perlu diberikan adalah panleukopenia, calcivirus, clamydiosis, dan vaksin rabies.

Setelah itu, tahun-tahun berikutnya ketika kucing bertambah dewasa, keempat vaksin dapat diberikan bersamaan. Pemberian vaksin bertujuan agar kucing tidak membawa penyakit berbahaya pada manusia. Bagaimana dengan toksoplasma? “Toksoplasma penyebabnya bukan virus. Saat ini belum ada vaksin toksoplasma untuk kucing,” ungkap Dharmajono. Cek kesehatan berkala setiap 6—8 bulan dianjurkan sebagai deteksi dini.

Baca juga:  Kakao: Panen Besar Usai Pangkas

Selain virus dan toksoplasma, ancaman datang dari parasit baik endoparasit seperti cacing dan ektoparasit antara lain cendawan dan kutu. Saran Dharmajono, berikan obat cacing 3 bulan sekali dan usahakan kebersihan tubuh kucing terjaga. Kebutuhan dana obat dan vaksin diakui Linda cukup tinggi. Untuk sterilisasi saja butuh biaya Rp100.000—Rp150.000 per ekor. “Kadang ikut sterilisasi gratis atau mendapat tambahan obat dari teman-teman sesama pencinta kucing,” katanya.

Adopsi kucing liar yang kemudian disterilkan menjadi pilihan bijak pencinta kucing untuk membantu kesejahteraan hewan itu sekaligus sebagai kontrol populasi. Kucing memiliki harapan hidup sekitar 15—20 tahun. Keputusan adopsi berarti siap merelakan waktu sebanyak itu untuk menghabiskan waktu merawat pussy. “Sabar, telaten, dan konsisten,” tegas Linda. Sekali berkomitmen, pengadopsi memikul tanggung jawab selama hidup kucing. (Kiki Rizkika/Peliput: Lutfi Kurniawan)

Kebutuhan si Manis

Jenis ras atau bukan, kebutuhan kucing beragam. Meski tidak semuanya wajib dipenuhi, calon adopter perlu tahu apa kebutuhan standar si manis. Keranjang misalnya, meski kebutuhan sekunder tetapi sangat dibutuhkan bila membawa kucing ke klinik untuk berobat atau divaksin. Bila kucing ditempatkan dalam rumah, bak pasir beserta pasirnya wajib tersedia agar kucing tidak buang air di sembarang tempat. Sesuaikan perlengkapan dengan kebutuhan. Selamat mengadopsi kucing!

532_88

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments