Beras organik salah satu bahan pangan organik dengan permintaan pasar tinggi.

Beras organik salah satu bahan pangan organik dengan permintaan pasar tinggi.

Upaya membangun kesadaran masyarakat untuk memproduksi dan mengonsumsi pangan sehat.

Hampir setiap akhir pekan Tuti Fakih sibuk berkeliling membuka lapak di pusat perbelanjaan di seantero Jakarta. Ia menjajakan madu berlabel Madu Kebonjeruk yang merupakan usaha keluarganya. Penjualan di pusat-pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta itu menghasilkan omzet menggiurkan. Penyelenggaraan di 1 tempat selama 2 hari memberikan omzet hingga Rp10-juta.

Dua tahun terakhir rutin mengikuti pameran, perempuan 57 tahun itu merasakan kenaikan permintaan. Dahulu ia hanya mengandalkan penjualan daring, kini pasarnya meluas kepada pengunjung pusat perbelanjaan. “Banyak pembeli yang baru pertama kali membeli mengirim pesan singkat untuk meminta kiriman,” kata Tuti. Ia bergabung bersama 41 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lain dalam Komunitas Organik Indonesia (KOI).

Melonjak
Anggota KOI terdiri atas pengusaha mikro, kecil, dan menengah serta para penggiat organik. Pendiri dan ketua KOI, Christopher Emille Jayanata, membentuk komunitas itu sebagai kepedulian terhadap kualitas hidup masyarakat Indonesia dari apa yang mereka makan, lakukan, dan rasakan. Melalui KOI ia berharap produsen organik, unit kegiatan masyarakat, dan penggiat organik dapat saling berkomunikasi.

Pengunjung antusias berbelanja produk organik.

Pengunjung antusias berbelanja produk organik.

Emille membentuk KOI pada 2007 dengan menggalang 5 UMKM yang bergerak di bidang organik. Seiring waktu, jumlah anggota semakin meningkat sehingga pada 2011 untuk pertama kalinya KOI menyelenggarakan pameran dengan 45 UMKM peserta dari seluruh Indonesia.

Kini jumlah anggota KOI mencapai 700 UMKM dari seluruh Indonesia, antara lain dari Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Denpasar. Kegiatan rutin mingguan mereka adalah pameran setiap akhir pekan di pusat-pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta. Setiap 3 bulan, KOI membuat acara bertajuk “Lokal untuk Lokal”, sementara pameran besar diadakan setahun sekali.

Baca juga:  Tingkatkan Produksi Pangan

Menurut Emille anggota sangat antusias mengikuti kegiatan KOI. Setiap akhir pekan, jumlah pelapak mencapai 30—40 UMKM, sedangkan untuk pameran besar dapat mencapai lebih dari 200 peserta. “Di daerah lain juga ada pameran namun belum sesering Jakarta,” kata Emille. Jargon KOI adalah “Organic, Green, and Healthy”. Organik artinya produksi bahan mentah seperti beras, buah, sayuran, atau bebas antibiotik, pestisida, atau bahan kimia sintetis lain.

Bahkan KOI menekankan pemanenan atau penyembelihan pun menggunakan cara yang baik. Green atau hijau merujuk kepada simbol ramah lingkungan, artinya proses produksinya hemat sumber daya atau minim limbah yang membebani lingkungan. Healthy atau sehat diaplikasikan dalam produk makanan dan olahan.

Christoper Emille Jayanata ketua umum Komunitas Organik Indonesia.

Christoper Emille Jayanata ketua umum Komunitas Organik Indonesia.

Ketat
Berbagai produk olahan seperti selai, kopi, atau jamu harus memenuhi persyaratan tanpa 4P1G, yaitu tanpa penyedap, perisa atau pewangi, tanpa pengawet, tanpa pewarna atau pemanis buatan, dan non-GMO atau tanpa rekayasa genetika. Sementara itu produk bukan makanan seperti perawatan tubuh harus bebas dari bahan kimia seperti sodium lauryl sulfate, polietilena glikol, dan polipropilena glikol yang membahayakan kesehatan.

Sebagai “penjaga gawang” peraturan itu, KOI membentuk dewan White Flower Label (WFL) yang beranggota 11 orang. Tugas dewan WFL adalah menjaga dan menjamin kualitas para anggota KOI agar tetap dipercaya konsumen. “Semua produk anggota KOI dikoreksi oleh WFL,” kata Emille. Ketatnya peraturan itu dirasakan produsen perawatan kulit organik Skin Dewi, Caesario Steven.

Menurut Caesario WFL sangat ketat menyeleksi produk anggota KOI. Mereka benar-benar meneliti proses dan bahan baku produk sehingga calon anggota harus mendapat lolos sertifikasi WFL sebelum menjadi anggota. Itu cara menjaga keotentikan produk-produk anggota KOI sehingga konsumen terhindar dari risiko membeli produk abal-abal. Maklum, harga produk-produk organik relatif mahal ketimbang produk konvensional.

Pameran salah satu upaya untuk memperkenalkan gaya hidup sehat dengan produk organik kepada khalayak luas.

Pameran salah satu upaya untuk memperkenalkan gaya hidup sehat dengan produk organik kepada khalayak luas.

“Itu tidak menyurutkan minat konsumen untuk membeli,” kata Steven. Emille mengakui tingginya harga produk organik itu masih menjadi pekerjaan rumah. Oleh karena itu, KOI juga bertujuan mengedukasi masyarakat untuk menggunakan dan mengonsumsi produk organik. Pertambahan konsumen bisa menekan ongkos produksi, yang menjadi komponen terbesar biaya budidaya organik. Dengan penurunan ongkos produksi, harga bisa lebih murah sehingga bisa menjangkau pasar yang lebih luas.

Baca juga:  Sirsak Pendamping Kemoterapi

Komunitas Organik Indonesia tidak sekadar mewadahi produk makanan atau toiletris. Pengembang properti peduli lingkungan yang menanami lahan marginal dengan tanaman produktif juga dapat bergabung dalam KOI. “Organik juga tentang hati dan pikiran,­ itu sebabnya produk kerajinan tangan yang dihasilkan sebagai penyaluran hobi untuk melepas stres dan berbasis bahan organik juga dapat masuk menjadi anggota KOI,” kata Emille. (Muhammad Awaluddin)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d