Sayuran Microgreens : Si Kecil Berfaedah Besar 1
Kepadatan nutrisi microgreens lebih tinggi ketimbang sayuran dewasa.

Kepadatan nutrisi microgreens lebih tinggi ketimbang sayuran dewasa.

Kecil ukurannya, tapi besar manfaatnya. Itulah microgreens dan sprouts.

Agung Nugroho lahap menikmati salad yang tersaji di atas meja. “Citarasa salad ini khas, gurih, dan renyah,” kata Agung. Salad yang Agung buat sedikit berbeda dari makanan serupa. Taburan kecambah menghias bagian atas salad yang berisi selada, bawang bombay, dan basil itu. Penggemar salad di tanahair masih asing menggunakan kecambah sebagai pelengkap salad.

Agung mengatakan topping—bahan makanan dalam jumlah sedikit yang diletakkan di atas salad—yang lazim digunakan antara lain roti, keju, dan kacang. Saat itu Agung menambahkan kecambah alfalfa pada saladnya. Itu kali pertama Agung menyantap salad beserta kecambah. Sebutan populer kecambah yang Agung santap yakni microgreens dan sprouts.

Menjaga kelembapan benih kunci sukses membudidayakan sprouts.

Menjaga kelembapan benih kunci sukses membudidayakan sprouts.

Air bersih
Menurut produsen sayuran organik di Bandung, Soeparwan Soeleman, microgreens adalah tanaman yang berumur tiga pekan atau kurang dan memiliki satu atau dua daun sejati. Sementara sprouts yaitu biji yang baru tumbuh selama tujuh hari atau kurang dan belum memiliki daun pertama (daun keping biji atau kotiledon). “Itu bukan definisi baku microgreens dan sprouts. Yang pasti kategori microgreens umumnya mengacu pada tanaman usia 3 pekan atau kurang,” kata Soeparwan.

Pendiri PT Famili Ekokultura dengan brandnya FAM Organic dan famO itu menuturkan microgreens dan sprouts komoditas baru di tanahair. Kebanyakan masyarakat hanya mengenal kecambah tauge. Saat ini konsumen microgreens dan sprouts lazimnya kalangan menengah ke atas yang mengetahui nutrisi kedua kecambah itu. Agung mengenal sprouts dan microgreens pada 2014.

Saat itu ia menelusuri dunia maya untuk mencari menu-menu baru untuk restoran miliknya. Ia tertarik membudidayakan kedua kecambah itu karena di Indonesia masih jarang yang memproduksinya. “Selain itu untuk pembeda salad bikinan saya dengan tempat lain,” kata pria yang juga pekebun hidroponik itu. Konsumen menyambut positif kehadiran sprouts dan microgreens pada salad kreasi Agung.

Soeparwan Soeleman menyediakan microgreens dan sprouts dalam bentuk benih dan siap santap.

Soeparwan Soeleman menyediakan microgreens dan sprouts dalam bentuk benih dan siap santap.

Ia menuturkan membudidayakan sprouts dan microgreens berbeda. Mula-mula Agung memasukkan 2 g benih ke dalam wadah seperti botol minuman. Ia lalu memasukkan air ke dalam botol itu. “Tinggi air 3 kali lipat dari tinggi benih,” kata pria kelahiran Sleman, Yogyakarta, itu. Artinya jika tinggi benih dalam botol 1 cm, maka air yang ditambahkan mesti setinggi 3 cm.

Baca juga:  Salah Kaprah Bunga Bangkai

Setelah itu Agung mengganti air hingga tiga kali. Hari berikutnya hingga panen ia mengganti air dua kali sehari. Agung hanya memanfaatkan air berteknologi reverse osmosis (RO) sebagai media. Sebelumnya Agung mendiamkan air di pojok ruangan semalaman agar tercapai suhu 18—25ºC. Agung memanen sprouts saat tanaman berumur 5—7 hari setelah tanam dengan mencabut semua bagian sprouts utuh yang panjangnya sekitar 5 cm.

Sinar matahari
Untuk microgreen Agung menggunakan kapas dakron sebagai media tanam. Awalnya ia membersihkan wadah tanam berbentuk persegi panjang dari plastik berukuran 20 cm x 8 cm. “Wadah itu juga lazim digunakan untuk menyemai benih sayuran hidroponik,” kata ayah satu anak itu. Kemudian ia meletakkan kapas dakron seukuran wadah yang sudah dicelup ke dalam air. Selanjutnya pria 34 tahun itu menebar dan meratakan segenggam tangan benih microgreens di atas media. Agung menempatkan microgreens di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung.

Agung Nugroho tertarik membudidayakan microgreens dan sprouts sebagai pembeda pada salad buatannya.

Agung Nugroho tertarik membudidayakan microgreens dan sprouts sebagai pembeda pada salad buatannya.

Penyiraman microgreens dengan cara menyemprotkan air bersih dua kali sehari hingga media tampak lembap. Hindari terlalu banyak air pada wadah karena berpotensi busuk akibat tumbuhnya cendawan. Selang 1—2 pekan Agung memanen microgreens. Caranya ia memangkas batang yang tingginya 1 cm dari permukaan media. Selesai panen, Agung meletakkan kecambah di lemari pendingin tempat sayur. Tujuannya menjaga kesegaran microgreens dan sprouts hingga siap dikonsumsi.

Menurut Agung kendala utama membudidayakan microgreens dan sprouts yakni ketersediaan benih. Ia masih mengandalkan benih impor untuk memproduksi sprout. Agung membeli secara daring (online) atau melalui teman. Ia tidak menggunakan benih sayuran yang beredar di pasaran karena khawatir mengandung bahan kimia.
Harga benih pun masih relatif mahal. Agung merogoh kocek Rp380.000 per 18 g benih alfalfa untuk sprout. Sementara untuk microgreens ia memanfaatkan benih dari sayuran hidroponik

Microgreens lazim digunakan sebagai topping salad.

Microgreens lazim digunakan sebagai topping salad.

Pemanfaatan luas
Hasil riset Zhenlei Xiao dan rekan dari Departemen Nutrisi dan Pangan, University of Maryland, Amerika Serikat, menunjukkan kepadatan nutrisi microgreens lebih tinggi ketimbang sayuran dewasa. Zhenlei meneliti kandungan asam askorbat, karotenoid, pilokuinon, dan tokoferol dalam 25 microgreen komersial. Hasil penelitian yang termaktub dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry itu mengungkapkan kandungan asam askorbat, karotenoid, filokuinon, dan tokoferol paling tinggi masing-masing terdapat pada kol merah, cilantro, bayam merah, dan daikon hijau.

Baca juga:  Budidaya Microgreens Di Dalam Ruangan

Peneliti utama di Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan Kementerian Kesehatan Bogor, Prof Dr Mien Karmini MS, mengatakan pada umumnya kecambah mengandung vitamin dan mineral. “Kecambah bagus untuk kesehatan reproduksi karena banyak mengandung vitamin E,” kata Mien. Pemanfaatan microgreens dan sprouts beragam.

“Restoran menengah ke atas menggunakan kecambah itu sebagai hiasan dan campuran pada salad,” kata Soeparwan. Kedua kecambah itu juga bisa dijadikan camilan dan isi sandwich. Alumnus Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung itu menyarankan agar microgreens dan sprouts dikonsumsi mentah. Musababnya pengolahan berpotensi mengurangi bahkan menghilangkan nutrisi. “Kecuali kecambah kacang hijau atau kedelai yang bisa digunakan untuk makanan panas seperti rawon,” kata pria berumur 57 tahun itu.

Menurut Soeparwan semua tanaman bisa dijadikan microgreens atau sprouts. Terutama tanaman berbiji kecil seperti brokoli, lobak merah atau hijau, dan kol merah serta basil. Biji sprouts bisa dibuat microgreens. Begitu pun sebaliknya, biji microgreens bisa dijadikan sprouts. Citarasa microgreens dan sprouts persis seperti tanaman dewasa, tapi lebih lembut. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *