Bunga turi Sesbania grandiflora salah satu sayuran lokal potensial.

Bunga turi Sesbania grandiflora salah satu sayuran lokal potensial.

Keragaman sayuran lokal amat tinggi sebagai sumber mikronutrisi sekaligus peluang bisnis.

Ikan kembung goreng, tumis pakis Diplazium esculentum, dan beberapa lembar daun mangkokan Polyscias scutellaria terhidang di meja makan. Sebuah keluarga di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, lahap menyantap seluruh sajian. Masyarakat awam kerap menganggap daun pakis dan mangkokan hanya tanaman bernilai ekonomi rendah. Namun, bagi keluarga kecil itu kedua sayuran itu sumber nutrisi.

Dalam sepiring tumis pakis terdapat kalsium, fosfor, dan vitamin C. Adapun daun mangkokan mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, dan polifenol. Keduanya merupakan jenis sayuran indigenous atau sayuran lokal yang dikonsumsi masyarakat turun-temurun. Sayuran indigenous atau sayuran asli merupakan tanaman asli suatu daerah atau ekosistem tertentu di Indonesia.

Peria merupakan sayuran indigenous yang sudah dibudidayakan intensif dan berhasil masuk pasar modern.

Peria merupakan sayuran indigenous yang sudah dibudidayakan intensif dan berhasil masuk pasar modern.

Ragam jenis
Indonesia memiliki koleksi sayuran asli yang sangat melimpah. Setiap daerah memiliki kekhasan sayuran asli yang berbeda. Warga Provinsi Jawa Barat, misalnya, akrab dengan berbagai menu masakan berbahan sayuran lokal seperti daun kelor Moringa oleifera, takokak Solanum torvum, daun jambu mete Anacardium occidentale, pucuk mengkudu Morinda citrifolia, dan daun labu siam Sechium edule.

Sementara masyarakat Provinsi Jawa Tengah kerap mengonsumsi bunga turi Sesbania grandiflora dan daun kacang panjang Vigna unguiculata. Lain halnya dengan sayuran asli bagi masyarakat Kalimantan, lazimnya tumbuh di hutan dan wilayah dekat perairan. Warga Provinsi Kalimantan Selatan menyantap genjer Limnocharis flava, kangkung air Ipomoea aquatica, kalakai Stechnolaena palustris, dan supan-supan Neptunia oleracea.

Keripik berbahan daun torbangun.

Keripik berbahan daun torbangun.

Mereka juga mengonsumsi sulur keladi Colocasia esculenta dan batang talipuk Nymphae pubescens. Adapun warga Kalimantan Tengah memanfaatkan rebung bambu Bambusa spp., tunas akar ilalang Imperata cylindrica serta tanaman anggota keluarga Zingiberaceae seperti Alpinia spp, Nicolaia speciosa, dan Kaempferia spp. Sayuran asli itu banyak terdapat di hutan sekunder di sekitar perkampungan Dayak Kenyah.

Baca juga:  Olah Sampah untuk Pupuk

Pada umumnya sayuran indigenous tumbuh liar di pekarangan, hutan atau di sepanjang sungai. Masyarakat setempat lantas mengumpulkan sayuran itu untuk dikonsumsi sehari-hari. Cara pengolahannya bermacam-macam antara lain kukus, rebus, goreng, atau konsumsi segar. Masyarakat Sumatera Utara mengolah torbangun Coleus amboinicus, menjadi campuran masakan bumbu kare santan.

Kelor biasanya tumbuh alami di pekarangan dan kebun.

Kelor biasanya tumbuh alami di pekarangan dan kebun.

Kadang-kadang merek ajuga mengukus torbangun untuk lalapan maupun menggoreng menjadi keripik. Contoh lain daun ginseng jawa atau kolesom yang diolah menjadi tumisan. Sayangnya, masyarakat hanya memanfaatkan sayuran asli dalam jumlah sedikit dan tidak berkelanjutan. Selama ini pemanfaatan sayuran asli masih sedikit. Itu karena kurangnya informasi mengenai sayuran eksotis itu.

Padahal, sayuran asli andal meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Sebut saja torbangun yang mampu meningkatkan air susu ibu (ASI), menyembuhkan sariawan, flu, reumatik, dan sakit kepala. Torbangun mengandung beberapa senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid, saponin, tannin, dan flavonoid.

Pekarangan
Sayuran lain, kangkung air mengandung bioaktif alkaloid, steroid, fenol, dan hidrokuinon. Ada pula daun ginseng jawa atau kolesom Talinum paniculatum yang mengandung antioksidan melimpah sehingga mampu membentengi tubuh dari radikal bebas. Atau yang paling akrab dengan kehidupan sehari-hari yakni daun singkong Manihot esculenta. Daun tanaman anggota keluarga Euphorbiaceae itu merupakan sumber vitamin A dan C.

Masyarakat Jawa Barat kerap memanfaatkan takokak sebagai lalapan.

Masyarakat Jawa Barat kerap memanfaatkan takokak sebagai lalapan.

Dalam 100 gram daun singkong terdapat setidaknya 11.000 IU vitamin A dan 275 mg vitamin C. Jumlah itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 100 gram buah pepaya yang mengandung 1094 IU vitamin A dan 61 mg vitamin C. Yang menarik masyarakat membudidayakan beberapa jenis sayuran asli seperti kenikir, kemangi, kangkung air, dan singkong secara intensif.

Baca juga:  Pamelo Pamer Buah

Beberapa jenis bahkan berhasil memasuki pasar modern. Harga jualnya berkali lipat dibandingkan dengan harga di pasar tradisional. Peria, misalnya, dibanderol hingga Rp19.800 per kg. Padahal, harga peria di pasar tradisional hanya Rp5.000. Sayangnya, pasokan sayuran lokal itu masih sedikit di pasaran. Oleh karena itu, perlu usaha meningkatkan produksi untuk membantu pemenuhan gizi masyarakat.

Pasalnya, konsumsi pangan keluarga di Indonesia masih fokus pada karbohidrat. Mereka belum begitu memperhatikan kecukupan kebutuhan mikronutrisi seperti vitamin dan mineral. Padahal, mikronutrisi berperan untuk memastikan agar semua sistem dalam tubuh manusia berjalan normal. Kekurangan mikronutrisi memicu masalah kesehatan serius. Selayaknya masyarakat mengonsumsi gizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Sayuran torbangun mengandung beberapa senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid, saponin, tanin, dan flavonoid.

Sayuran torbangun mengandung beberapa senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid, saponin, tanin, dan flavonoid.

Setiap orang sebaiknya menyantap pangan beragam yang mengandung kalori, protein, vitamin, dan mineral. Salah satu bahan pangan sumber mikronutrisi tentu saja sayuran. Konsumsi sayuran segar maupun olahan secara rutin mampu memperbaiki kekurangan mikronutrisi di dalam tubuh. Menghadirkan sayuran dalam menu makanan keluarga sehari-hari sangat penting. Manfaat lainnya sayuran mengandung fitokimia yang menghalau penyakit.

Penanaman sayuran asli di pekarangan upaya pelestarian tanaman lokal yang terancam punah akibat alih fungsi lahan. Apalagi selama ini masyarakat menganggap sayuran asli hanya sebagai sayuran minor. Pekarangan menjadi solusi sumber pangan yang murah, beragam, dan mudah didapat. Budidaya sayuran dengan memanfaatkan lahan pekarangan seluas 35 m² saja dapat menghasilkan sayuran rata-rata 750 gram setiap hari. (Paramyta Nila Permanasari, S.P., M.Si., Dosen Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian., Universitas Brawijaya)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d