Rasa mangga dan melon berpadu di chupa-chupa. Tekstur daging buah lembut, berair, dan manis.

Greg Hambali mendatangkan chupa-chupa dari Tingomaria, Peru

Greg Hambali mendatangkan chupa-chupa
dari Tingomaria, Peru

Gregori Garnadi Hambali melintasi pasar Tingomaria, Provinsi Huanuco, Peru, pada Mei 2009. Pandangan mata ahli buah di Bogor, Jawa Barat, itu tertuju buah eksotis seukuran kepalan tangan orang dewasa. Kulit buahnya cokelat kusam dengan cuping di pangkal buah. Sepintas mirip buah aren, tapi saat pedagang membelah, daging buahnya jingga terang dengan biji putih. Gregori mencicipinya, tekstur daging buahnya lembut, berair tapi tak berserat,

“Rasanya seperti perpaduan mangga dan melon,” kata Greg. Masyarakat Peru menyebut buah itu chupa-chupa. Menurut Greg, buah itu adalah buah paling enak di negara Peru. Itu bukan pertama kalinya pakar Botani alumnus Birmingham University, Inggris, itu mencicipi chupa-chupa. Setahun sebelum ke Peru, Greg merasakan kelezatan chupa-chupa di kebun Jack Craig, kolektor buah asal Amerika yang memiliki kebun buah di Wonosobo, Jawa Tengah. “Rasanya persis seperti yang saya rasakan waktu di Wonosobo,” ujarnya.

Tumbuh di Bogor

Setelah mencicip beberapa buah, Greg membeli 20 buah. Greg membawa biji-biji ke tanahair. Dalam perjalanan pulang, biji telah berkecambah. Itulah sebabnya Greg langsung menyemai biji-biji itu dan 12 di antaranya tumbuh sehat di Baranangsiang, Kota Bogor, Jawa Barat. Greg menanam tanaman anggota famili Malvaceae itu tersebar di kebun koleksi. Di daerah berketinggian 250 meter di atas permukaan laut itu, chupa-chupa mulai memunculkan bunga saat berumur 3,5 tahun sejak tanam dari biji.

Chupa-chupa mulai berbunga di Bogor umur 3,5 tahun

Chupa-chupa mulai berbunga di Bogor umur
3,5 tahun

Di Bogor pohon berbunga pada Oktober—Desember, sedangkan di Brasil pada Agustus—November dan buahnya matang saat Februari—Mei. Sementara di Florida, Amerika Serikat, bunga chupa-chupa mekar pada tengah musim dingin dan matang pada November. Buah akan tetap menempel di pohon sampai membusuk. Itulah sebabnya jika tidak dipetik, buah-buahan itu menjadi santapan kelelawar dan kera setelah matang pohon.

Baca juga:  Telomoyo Kembali Hijau

Buah yang telah matang memiliki ciri-ciri pada permukaan kulit luar di bagian pangkal buah muncul lingkaran berwarna jingga kusam. “Waktu masak buah bervariasi dari 6—8 bulan sejak bunga,” kata Greg. Ia mengamati sosok buah di kebunnya dan menemukan tiga varian berbeda. Itu terjadi karena saat membeli di pasar Tingomaria, Greg membelinya dari beberapa penjual. “Para penjual bisa jadi memanen buahnya dari pohon yang berbeda-beda,” kata Greg.

Varian pertama memiliki bentuk buah bulat agak pipih. Tipe kedua berbentuk bulat seperti bola tenis, sementara tipe ketiga bulat memanjang. Menurut Greg yang paling manis yang berbentuk bulat memanjang. Varian itulah yang nantinya akan dikembangkan dalam jumlah yang lebih banyak. Greg memperbanyak chupa-chupa melalui semai biji dan sambung pucuk. Kini, chupa-chupa di kebun Greg sudah setinggi 4—6 meter.

Cabang lima

Menurut ahli buah di Miami, Florida, Julia F Morton, dalam “Fruit Warm Climates” tanaman chupa-chupa bercirikan pohon tegak dengan ketinggian di hutan liar mencapai 40—45 meter, sementara di lahan budidaya tak lebih dari 12 meter. Daunnya berbentuk jantung dengan panjang dan lebar kurang lebih sama, 15—30 cm. Itulah sebabnya, Alexander van Humbolt dan Aimé Bonpland memberi nama ilmiah chupa chupa Quararibea cordata. Cordiata berarti jantung.

534_ 39-2

Chupa-chupa matang ditandai munculnya warna jingga kusam di pangkal buah

Buah kerabat waru dan kembang sepatu itu sohor sebagai sawo brasil. Keruan saja, chupa-chupa bukan keluarga sawo. Sementara bunganya terdiri 5 petal dan berumah satu. Penyerbukan biasa dibantu burung kolibri atau lebah.

Ahli buah dari Taman Wisata Buah Mekarsari, Dr Ir Reza Tirtawinata, menuturkan chupa-chupa memiliki keunggulan pada daging buahnya yang berwarna jingga sehingga menarik untuk dikoleksi. Namun, soal rasa, menurut Reza sedikit tanggung. “Rasa manisnya ada, gurihnya juga ada tapi sedikit-sedikit. Dan tidak memiliki rasa khas sehingga tidak meninggalkan kesan,” kata Reza.

Baca juga:  Hijaukan Hutan Muria

Berbeda halnya dengan rasa buah-buahan lain yang berkembang di Indonesia seperti manggis atau bahkan durian yang memiliki citarasa khas dan membuat konsumen ingin membelinya kembali. Namun, kedatangan chupa-chupa di Indonesia, menurut Reza dapat menambah keragaman buah di tanah air. “Chupa-chupa tidak ditemui di Asia apalagi di Indonesia,” kata Reza.

Gizi Chupa-chupa

Gizi Chupa-chupa

Agus Lazarus, pehobi sekaligus penangkar buah-buahan eksotis di Bogor Jawa Barat, juga tertarik mengoleksi chupa-chupa lantaran bentuknya yang unik. “Saya belum pernah melihat sebelumnya,” kata lelaki yang juga mengoleksi buah-buahan eksotis di kediamannya seperti abiu, biriba, dan miracle fruit itu. Agus mendapat pohon chupa-chupa dari Greg Hambali dalam bentuk bibit sambung setinggi 1 meter. “Chupa-chupa layak dikoleksi karena tidak ada di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Julia, chupa-chupa akan tumbuh optimal di daerah yang memiliki sinar matahari penuh dengan kelembapan tinggi. Chupa-chupa tersebar di negara-negara Amerika tengah seperti Peru, Kolombia, dan Brasil. Serangan hama yang lazim yaitu lalat buah. Menurut Julian, di Amerika Selatan banyak dijumpai buah yang terserang lalat buah dengan kemunculan larva di dalam daging buah. Lalat buah menyerang buah dengan meletakkan telur lalu menetas di dalam daging buah, kemudian telur itu berkembang menjadi larva dan memakan buah. (Bondan Setyawan)

 

FOTO:

  1. Chupa-chupa buah terenak di Peru
  2. Chupa-chupa mulai berbunga di Bogor umur 3,5 tahun
  3. Chupa-chupa matang ditandai munculnya warna jingga kusam di pangkal buah
  4. Greg Hambali mendatangkan chupa-chupa dari Tingomaria, Peru

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d