Eka Budianta*

Eka Budianta*

Memasuki 2017 saya disibukkan oleh kelapa sawit Elaeis guineensis. Ada permintaan menyunting Visi Sawit Indonesia 2045, ada album foto harmoni di perkebunan sawit, kalender sawit, komik sawit, bahkan permainan kartu sawit.  Bermacam-macam. Pekerjaan melukis dan mewarnai rahasia kelapa sawit kakek pun ada. Melihat “serbuan” informasi seputar kelapa sawit, berbagai protes pun muncul.

Bagaimana gajah yang mati keracunan di kebun sawit Sumatera? Bagaimana orangutan yang terusir akibat pembukaan kelapa sawit di Kalimantan. Ya, bagaimana pembabatan hutan, monokulturisasi tanaman dengan adanya sawit? Bagaimana pula peran sosial, kultural, ekonomi dan edukasinya? Segera kita disadarkan, betapa pentingnya ilmu sawit. Sayangnya, kalau kita mencari informasi dengan kata kunci sawitologi atau sawitonomi, hasilnya nihil.

Belum ada informasi yang cukup untuk membangun negeri kelapa sawit bagi masyarakat kita.  Kebanyakan inovasi yang saya terima justru datang dari industri kelapa sawit Malaysia. Untunglah, baik presiden Republik Indonesia maupun perdana menteri Malaysia, bersepakat memajukan persawitan dunia di kedua negara.  Jangan lupa, perkebunan dan pabrik kelapa sawit berkembang serentak di Nusantara (kepulauan maupun semenanjung) sejak 1910.

Ilmu sawit
Sebelum itu pohon kelapa sawit hanya dipakai peneduh jalan, setelah bibitnya datang ke Kebun Raya Bogor pada 1848. Padahal, sawit adalah tanaman legendaris yang dikenal sejak 3.000 Sebelum Masehi.  Buktinya ada di makam Abydos dari masa-masa Firaun di Mesir. Konon para saudagar Arab berniaga minyak kelapa sawit baik untuk mengolah makanan maupun untuk membuat lilin.

Namun, perkembangannya secara besar-besaran baru mulai pada saat revolusi industri merebak di Eropa sedikit di atas 300 tahun lalu. Jadi pantaslah kalau perkebunan kelapa sawit di Malaysia dipelopori oleh pekebun Inggris, sedangkan di Indonesia oleh pekebun Belanda. Hal itu yang berlarut-larut sampai sekarang, sehingga kelapa sawit seolah-olah merupakan monopoli pekebun raksasa.

Kepemilikan kebun kelapa sawit saat ini masih didominasi oleh perkebunan swasta besar.  Tidak jarang terdengar celatukan bahwa sebelas konglomerat kelapa sawit lebih kaya daripada sekian juta petani sawit di desa-desa. Namun, Visi Sawit 2045 mencanangkan kepemilikan akan berimbang menjadi 50 persen sawit rakyat, 45 persen sawit swasta, dan 5 persen sawit negara.

Baca juga:  Raja Jamur Pereda Gula

Situasi di lapangan, tentu bergantung pada dinamika ekonomi dan pelaksanaan regulasi.  Yang terang, Indonesia sudah telanjur menjadi penghasil sawit terbesar di muka Bumi, dengan kebun berjuta hektare. Stabilitas harga sawit ditentukan oleh kenaikan konsumsi dunia. Mohon dicatat, konsumen tetap memegang peranan.

Dalam hal kelapa sawit, rasanya tak akan berkurang apalagi pemakaian minyak untuk industri, terutama biodiesel, dan bahan pelumas mesin berat. Yang lebih berpengaruh pada penghasilan dari kelapa sawit adalah inovasi berbagai proses produksi dan pemanfaatan produk sampingannya.  Kelapa sawit membuka rahasia ilmu pengetahuan, mulai dari konservasi lahan, pengelolaan tanah, hidrologi, penanaman, perawatan, pemanenan hingga pengolahan hasilnya.  Dari sisi keilmuan itu sesungguhnya bisa dibentuk akademi khusus persawitan.

Multiguna
Kelapa sawit ternyata tanaman yang murah hati. Dalam kunjungan ke kebun kelapa sawit milik keluarga Alisjahbana di Bengkulu, saya diberi tahu bahwa kelapa sawit memberi penghasilan paling besar dibandingkan dengan pohon-pohon lain yang tumbuh di dunia. Bayangkan, hanya perlu 3 tahun untuk membesarkan kelapa sawit berbuah.  Selanjutnya tinggal panen sampai 25 tahun berikutnya.

Almarhum Iskandar Alisjahbana, pelopor teknopreneur Indonesia membangun perkebunan kelapa sawit jauh-jauh hari sebelum banyak industri besar merambah berbagai daerah.  Dia juga menciptakan inovasi untuk pengangkut hasil panen dan penangkal hama dengan kumbang sengat predator hama kelapa sawit.  Jangan heran kalau di sela kelapa sawit ditanami kembang flamboyan yang mengundang serangga predator dan kerbau pengangkut panen.
Sekarang inovasi kelapa sawit semakin jauh, baik langkah-langkah mekanisasi maupun pengelolaan limbahnya. Malaysia, Indonesia, Brasil, Kostarika, dan penghasil kelapa sawit lain mematenkan alat penuai yang membuat panen kelapa sawit lebih efsien.

Adapun percobaan dan percontohan penggunaan cangkang buah sawit untuk material bangunan bahkan tumbuh di sekolah-sekolah menengah.  Jangan heran bila menemukan cangkang kelapa sawit untuk dinding dan ubin rumah. Padahal, pemanfaatan limbah kelapa sawit satu generasi yang silam baru sebatas pada peruntukan pupuk serta pakan ternak.  Sekarang limbah sawit dikonversi menjadi bioenergi, termasuk tenaga listrik yang terbarukan.

Indonesian Sustainable Palm Oil menetapkan kelapa sawit sebagai produk berkelanjutan.

Indonesian Sustainable Palm Oil menetapkan kelapa sawit sebagai produk berkelanjutan.

Motorisasi, mekanisasi, bahkan robotisasi dan pemakaian drone untuk mengelola kebun kelapa sawit menjadi keniscayaan.  Mengapa modernisasi ini mendesak?  Sebab pada awalnya susah mencari tenaga kerja muda untuk mengelola kebun di tengah hutan. Apalagi perlu tenaga fisik yang besar, keberanian, dan daya tahan menghadapi bermacam tantangan alam. Namun, dengan mesin-mesin petik ringan, sekarang ibu-ibu dan tenaga lansia pun bisa ikut berperan.

Baca juga:  Elok Nian Bintang Kaktus

Lingkungan
Tiga tantangan yang harus dijawab adalah peran kelapa sawit untuk manusia (people); untuk bisnis (profit), dan untuk lingkugan (planet).  Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, Dr Bayu Krisnamurthi meringkasnya dengan sederhana.  Katanya, sesuai dengan Visi Sawit Indonesia 2045, hanya produk sawit berkelanjutan yang boleh dikembangkan.  Ketentuan mengenai perkebunan dan proses produksi yang berkelanjutan itu termaktub dalam ISPO – Indonesian Sustainable Palm Oil.

Program ISPO mengikuti kaidah pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa.  Namun, pelaksanaannya di lapangan memerlukan pengawalan dan perhatian berbagai pihak.  Jangan heran kalau kelapa sawit menjadi komoditas agrikultur dan agribisnis yang melibatkan delapan kementerian. Bukan hanya pertanian, kehutanan, perdagangan, lingkungan hidup, tapi juga keuangan, kementerian dalam negeri, bahkan pendidikan.

Khusus untuk lingkungan, perkebunan kelapa sawit masih dituntut untuk membuktikan peranan aktifnya.  Pertama dalam hal mencegah kebakaran hutan. Pembukaan dan pengelolaan kebun yang intensif tentu akan melindungi kawasan dari kobaran api.  Pada gilirannya tanaman juga menjadi benteng serapan air hujan dan mencegah terjadinya banjir serta tanah lonsor. Manajemen pemangkasan dan perlindungan tanah tentu diarahkan untuk meningkatkan kesuburan lahan.

Terakhir, kalau profit– keuntungan ekonomi terjamin besar, program-program konservasi tanaman langka, satwa yang dilindungi dan habitat khusus pun harus semakin baik.  Itulah yang diharapkan terlaksana dengan baik, termasuk adanya perkebunan sawit yang menangkarkan harimau di Sumatera Barat.  Semoga gajah dan urangutan pun bisa hidup sejah tera, terjamin dalam perlindungan, berkat pengelolaan lingkungan yang optimal. ***

*) Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktivis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d