Pohon gutta perca di kebun PTPN VIII Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Pohon gutta perca di kebun PTPN VIII Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Lempeng bertuliskan “tjipetir” yang menjadi buah bibir itu berasal dari pohon gutta perca.

Langkah Anderi Satya terhenti. Batang pohon sebesar 2 pelukan orang dewasa rebah melintang dan menutup jalan setapak. Kepala Divisi Komunikasi PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki) itu melompati batang pohon dan meneruskan langkah. Batang rebah itu balam merah. Masyarakat Batin Sembilan menyadap getahnya untuk mewarnai perabot.

Masyarakat Batin Sembilan penduduk asli hutan dataran rendah di Provinsi Jambi. Terpisah separuh lingkaran bumi, industri telekomunikasi di Amerika Serikat memanfaatkan olahan getah balam merah sejak abad ke-19. Dengan teknologi mutakhir pada masa itu, getah dari tanaman anggota genus Palaquium itu menjadi isolator kabel telegraf bawah laut yang terbentang sejak 1858 sepanjang 22.500 km di dasar Samudera Atlantik, menghubungkan benua Amerika dengan Eropa dan Asia.

Balam merah di kawasan PT Reki, Jambi

Balam merah di kawasan PT Reki, Jambi

Multiguna
Kabel komunikasi itu menjadikan kalangan diplomat dan militer mudah berkirim pesan. Teknologi komunikasi melalui kabel berkembang lantaran mempunyai beberapa kelebihan, antara lain kebutuhan daya listrik yang relatif kecil, akurasi pesan yang tinggi, dan bebas gangguan cuaca.

Nun di Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, getah tanaman gutta Palaquium gutta yang satu genus dengan balam merah juga besar faedahnya. Pada masa kolonial Belanda, masyarakat Sukabumi memanfaatkan getah daun gutta perca sebagai bahan peralatan rumah tangga.
Caranya sederhana, getah direndam air panas sehingga air menjadi putih. Lama-kelamaan, cairan itu semakin liat dan mengikat. Selanjutnya tinggal digumpalkan dengan tangan lantaran gutta perca mudah dicetak. Teksturnya kuat sehingga cocok untuk bahan bola golf.

Semula bola golf terbuat dari karet. Namun, bola berbahan karet itu cepat jatuh akibat tingginya friksi permukaan karet dengan udara. Bola berbahan getah gutta diperkenalkan pada 1848. Bola gutta segera populer di kalangan pegolf karena melayang lebih lama. Permukaan gutta perca yang licin tidak menyerap air sehingga bola tetap meluncur dengan baik meski mendarat di permukaan kolam buatan di lapangan golf.

Baca juga:  Jitu Ramal Mutasi Warna

Kegunaan lain adalah sebagai penambal gigi. Sifatnya yang keras, lentur, dan antibakteri menjadikan gutta perca bahan yang baik untuk menutup atau mengisi gigi berlubang. Namun, kehadiran amalgam—bahan penambal gigi yang kontroversial karena mengandung merkuri alias air raksa—menggantikan gutta perca yang semakin sulit diperoleh. Amalgam lebih murah dan prosesnya lebih mudah sehingga cepat populer di dunia kedokteran gigi.

Akibatnya gutta perca terpinggirkan dari dunia dental. Selain daun, biji pohon perca dapat diolah menjadi lilin. Biji mengandung 59% lemak dan mudah meleleh di suhu 40°C. Tingginya kandungan lemak membuat biji bisa dijadikan sabun. Sayang, pohon gutta tidak pernah berbuah lebat sehingga bijinya pun sedikit.

Lempengan gutta perca yang terdampar di Cornwall, Inggris

Lempengan gutta perca yang terdampar di Cornwall, Inggris

Tjipetir
Pemerintah Belanda menanam perca di Sukabumi seluas 20 ha pada 1883. Pada 2007, luas kebun gutta di Sukabumi mencapai 300 ha dengan jarak antartanaman 4 m x 6 m (baca: Daun Penghasil Bola Golf, Trubus Gold Edition I).

Tinggi tanaman rata-rata mencapai 5—35 m dengan keliling batang 60—120 cm. Batang lurus cokelat muda. Di bagian pucuk atas, daun berwarna hijau dan mengilap di lapisan bawah. Sementara itu daun di tengah hingga ke bawah berwarna cokelat kekuningan atau kemerahan dan sedikit berbulu.

Pukul 07.00, 100 pekerja yang disebar ke beberapa daerah perbukitan di Sukamaju memanen daun. Hasil panen dibawa ke pabrik pengolahan yang letaknya 3 kilometer dari perkebunan untuk diolah menjadi getah setengah jadi.

Silinder gepeng gutta perca siap kirim

Silinder gepeng gutta perca siap kirim

Beberapa bulan terakhir, dunia maya ramai dengan penemuan lempengan lunak bertuliskan “tjipetir”. Media massa menyebut lempengan itu berasal dari getah pohon karet. Padahal, lempeng itu berbahan getah pohon gutta perca. Lempeng itu bahan isolator kabel sebelum digantikan karet sintetis yang lebih murah. Menurut Budhi Herdiana, kepala Kebun Sukamaju PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII, Sukabumi, Jawa Barat, gutta perca berasal dari daun. Hasil daun dari kebun Sukamaju diolah di pabrik di Cipetir, yang jaraknya 3 km dari kebun.

Baca juga:  Si Elok Dalam Ancaman

Pekerja mencacah daun lalu melumat dengan penggilas dari batu alam berdiameter 10 m selebar 2 m. Batu penggilas itu didatangkan dari Belanda pada 1883. Daun yang lumat itu ditambah air sampai menyerupai bubur kental lalu diaduk dengan mesin. Setelah 3 hari, bubur itu dipanaskan di suhu 700C sambil tetap diaduk. Hasilnya bubur liat dan terbentuk bongkah-bongkah kecil.

Pabrik gutta perca yang berdiri sejak 1883

Pabrik gutta perca yang berdiri sejak 1883

Untuk melumat bongkah-bongkah itu, adonan diaduk dalam bak beton sambil diencerkan kembali dengan air. Adonan yang kembali homogen itu lantas memasuki ketel pelarut. Setelah melalui pencucian dengan air panas, terbentuk lembaran pipih kekuningan. Lembaran itu kembali digumpalkan, ditambah zat pemutih, dibilas berkali-kali dengan air panas dan air dingin, lalu dicetak. Hasilnya silinder-slinder gepeng selebar penggaris seberat 1,5 kg yang lantas dipaking dalam wadah berbahan baja nirkarat kedap udara. Silinder gutta perca dalam wadah itu lantas meluncur ke pembeli di mancanegara.

Menurut Budhi, kapasitas pabrik Cipetir terbatas lantaran pesanan pun minim. “Pesanan hanya datang 2—3 kali setiap tahun, dengan jumlah kurang dari 20 kg per order,” ungkap Budhi. Sudah begitu, pemrosesan daun menjadi silinder gepeng siap kirim memerlukan waktu hampir 2 pekan. Jumlah pohon perca di Sukabumi pun kian berkurang lantaran digantikan tanaman lain yang lebih prospektif.

Batu penggilas yang didatangkan dari Belanda

Batu penggilas yang didatangkan dari Belanda

Padahal kalau beroperasi dengan kapasitas penuh, 20 set mesin pengolah mampu menghasilkan 10 ton gutta perca setiap bulan. Meski demikian optimisme masih terpancar. Publikasi kencang dari berbagai media internasional membuka mata masyarakat dunia akan potensi komoditas yang nyaris terlupakan itu. Peluang mengembalikan kejayaan gutta perca pun terbuka lebar. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d