Satu Bonggol 15 Bibit 1
Perkembangan kebun pisang kirana cepat karena menggunakan teknik perbanyakan mati meristem

Perkembangan kebun pisang kirana cepat karena menggunakan teknik perbanyakan mati meristem

Hasilkan 8—15 bibit dari sebuah bonggol pisang.

Para petani di Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur, beramai-ramai menanam pisang. Itu setelah harga buah pisang terkerek naik, Rp35.000 per tandan pada kirana—jenis yang dikembangkan di sana—2010. Padahal, semula harganya hanya Rp10.000 per tandan. Harap mafhum pisang emas kirana disukai pasar. Sayang, ketersediaan bibit terbatas. Sutino, pemilik lahan 5.000 m2 hanya memiliki beberapa tanaman induk. Semula mereka enggan menanam pisang karena mitos memakan buah pisang emas akan sial.

Namun, ketika harga pisang melonjak, para petani di desa itu pun tergiur untuk membudidayakannya. Harga yang sangat tinggi itu menggoda masyarakat Srimulyo dan mengabaikan mitos buruk. Mereka pun mulai menanam pisang di sela-sela tanaman kopi dan cengkih. Mereka memisahkan anakan pisang emas di kebun sebagai bibit. Namun, dengan cara itu, mereka hanya mendapat 2—3 anakan per 2—3 bulan dari satu induk. Dengan teknologi baru dengan mematikan meristem atau titik tumbuh, perbanyakan pisang pun sangat cepat. Untuk menghasilkan belasan bibit dari sebuah bonggol, petani hanya perlu 2 bulan dan tingkat keberhasilan tumbuh mencapai 90%.

Matikan meristem
Peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Malang, Jawa Timur, Paulina Evy Retnaning Prahardini MP, memperkenalkan teknik perbanyakan pisang secara cepat itu kepada masyarakat di tiga desa yakni Srimulyo, Sukodono, dan Baturetno—semua di Kecamatan Dampit, Malang. Menurut Paulina Evy, bonggol pisang di pangkal batang mempunyai banyak mata tunas dorman yang tersembunyi. “Bila meristem atau titik tumbuh dimatikan maka mata tunas yang “tidur” itu akan terangsang dan aktif tumbuh,” ujar Paulina.

Baca juga:  Ulang Tahun Diamond Interest

Alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, itu mengatakan titik tumbuh terletak di bagian paling dalam batang dekat bonggol. Meristem itu dimatikan dengan mencongkel menggunakan pisau. Ia menyarankan menggunakan pisang remaja berumur 5—6 bulan mempunyai 8—15 mata tunas.

Selain itu tanaman harus sehat agar tidak menularkan penyakit pada bibit yang akan dihasilkan. Setelah menentukan tanaman yang memenuhi syarat, galilah tanah di sekitar batang untuk mengangkat bonggol.

Bersihkan lalu rendam bonggol dalam larutan fungisida untuk mematikan bibit penyakit. Kulit batang pun dikelupas sehingga mata tunas yang terlindung jadi terbuka sehingga leluasa tumbuh. Selanjutnya meristem dimatikan dengan mencungkil titik tumbuh. “Dengan mematikan meristem, calon mata tunas aktif tumbuh,” ujar Paulina Evy. Tutup luka di permukaan bonggol dengan lelehan lilin untuk mencegah serangan penyakit. Bonggol kemudian ditanam di bedengan untuk menunggu calon anakan tumbuh hingga berdaun 3 lembar.

Bibit seragam
Menurut penyuluh pertanian di Dampit, Malang, Kadaryanto, kelebihan perbanyakan bibit dengan sistem mati meristem, pertumbuhan anakan hampir seragam. Lain halnya dengan pisah anakan, ada bibit besar dan ada bibit kecil.
Bibit berdaun 2—3 lembar, siap dipindahtanamkan di lahan. Jika sudah tidak ada bibit tumbuh, artinya mata tunas di bonggol habis. Dari sebuah bonggol, petani bisa panen 8—15 anakan. “Bibit yang sudah dipisahkan, harus segera ditanam dalam 2 hari. Bila tidak, bibit rawan terserang penyakit dan kelak pertumbuhan lebih lambat,” ujar Kadaryanto.

Menurut Wiji Wibowo SST dari Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Malang, teknik mati meristem baru diterapkan masyarakat Dampit pada pisang emas alias kirana. Sebab, bibit pisang kirana yang paling banyak diminta dan ketersediaan bibit terbatas. Setelah setahun memperbanyak bibit dengan teknik mati meristem, kini Sutikno menanam 150 pisang mas di lahan 5000 m2. Sementara itu Sugiono menanam 300 kirana di lahan 1 ha.

Baca juga:  Lawan Perdagangan Satwa Liar

Harga sebuah bibit pisang kirana mencapai Rp4.500. Jika populasi mencapai 300 per ha, maka petani menghabiskan Rp1.350.000. Namun, mereka tidak perlu mengeluarkan dana pembelian bibit. Perbanyakan bibit pisang dengan sistem mati meristem memang cepat, massal, dan memperoleh bibit berkualitas. Kini, lewat Koperasi Sridonoretno, 3 desa itu memasok 600—700 boks pisang kirana per pekan ke penampung yang mengirim ke berbagai daerah. (Syah Angkasa)

539_ 50

539_ 51

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments