Sarjana Hukum Berkebun Sayuran

Sarjana Hukum Berkebun Sayuran 1
Diva Indraswari dan Mariko Bawi (kanan), Pendiri PT Cinta Bumi Nusantara (CBN) dan Semai Indonesia.

Diva Indraswari dan Mariko Bawi (kanan), Pendiri PT Cinta Bumi Nusantara (CBN) dan Semai Indonesia.

Diva Indrasrawi, S.H. rela berhenti bekerja di sebuah firma hukum dan beralih berkebun sayuran organik. Dari pekerja, kini mempekerjakan 20 petani.

Diva Indraswari, S.H., meraup omzet rata-rata Rp70 juta—Rp100 juta setiap bulan. Ia memperoleh omzet itu dari hasil penjualan aneka jenis sayuran organik, seperti kale, bayam merah, bayam hijau, selada, caisim, selada, pakcoi, wortel, tomat, kecipir, kacang panjang, dan cabai. Diva memperoleh pasokan sayuran organik dari kebun sendiri di Desa Kawungluwuk, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, seluas 5 hektare.

Antara Senin—Kamis ia memanen sayuran organik 2—3 kali. Sekali panen 400—500 kg sayuran atau rata-rata volume panen 7—10 ton aneka jenis sayuran per bulan. Anak bungsu dari 4 bersaudara itu lalu menyortir hasil panen. Hanya sayuran yang mulus yang lolos sortir. Selanjutnya Diva mencuci sayuran dengan air yang berasal dari mata air, kemudian mengeringanginkannya. Setelah itu ia mengemas sayuran dalam kemasan kotak plastik transparan berbobot 250 g.

Menguntungkan

Lahan di bawah kaki Gunung Salak seluas 5 ha terletak di Desa Kawungluwuk, Cijeruk, Bogor.

Lahan di bawah kaki Gunung Salak seluas 5 ha terletak di Desa Kawungluwuk, Cijeruk, Bogor.

Diva menjual hasil panen ke pasar swalayan dan restoran-restoran di Kota Bogor dan Jakarta dengan merek Semai Indonesia. Ia juga membuka layanan pesan antar untuk konsumen di wilayah Jabodetabek melalui media sosial. Harga jual bervariasi tergantung jenis sayuran. Yang termahal adalah kale, yakni mencapai Rp25.000—Rp27.000 per kemasan 250 g, termurah bayam hijau, Rp7.000 per 250 g. Menurut Diva harga jual itu tergolong menguntungkan. Dari setiap komoditas, Diva memperoleh laba rata-rata 30%.

Diva mulai berkebun sayuran organik pada 2015. Ketika itu ia masih bekerja di sebuah firma hukum di Jakarta. Namun, rutinitas pergi bekerja pada pagi dan pulang kerja pada malam hari membuatnya merasa jenuh. “Rasanya monoton. Selama bekerja saya tidak menemukan ketenangan,” ujar perempuan pehobi jalan-jalan itu.

Produk sayuran organik hasil Semai Indonesia.

Produk sayuran organik hasil Semai Indonesia.

Berkebun sayuran organik menjadi pilihan Diva untuk mengusir jenuh. Kedua orangtua Diva sontak menentang saat Diva menyampaikan niatnya itu. “Latar belakang keluarga saya memang praktikus hukum dan kedokteran. Mereka takut pilihan saya berkebun sayuran organik salah,” ujar Sarjana Hukum alumnus Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada itu. Apalagi Diva tidak punya pengalaman sama sekali dalam hal bercocok tanam.

Namun, Diva optimis bisnis sayuran organik adalah peluang bisnis yang menjanjikan. “Saat ini makin banyak orang yang merindukan hidup sehat. Itu peluang pasar yang bagus,” tambahnya. Itulah sebabnya ia dan rekannya, Mariko Bawi, S.H., kukuh berkebun sayuran organik. Mereka mempelajari teknik budidaya organik dari berbagai literatur. Keduanya juga “nekat” membeli lahan 5 hektare di daerah Cijeruk. Lokasi kebun berketinggian 700—800 m di atas permukaan laut (dpl). Jalan menuju kebun itu terjal, licin, berliku, dan berbatu. Jurang menganga di sisi jalan yang hanya pas dilalui sebuah mobil.

Baca juga:  Panen Kale Organik

Memulai organik

Diva turun langsung untuk memanen produk- produk organik.

Diva turun langsung untuk memanen produk- produk organik.

Lahan itu belum pernah ditanami sejak 1993. Hanya semak belukar yang tumbuh di lahan itu. Area kebun juga terisolir dari budidaya konvensional yang biasanya jor-joran menggunakan pestisida. Kondisi lahan seperti itu cocok untuk budidaya secara organik. Namun, butuh waktu dan tenaga ekstra untuk mengolah lahan. Apalagi kondisi lahan juga miring hingga 45o. Ia lalu membuat terasering untuk mencegah lahan erosi.

Untuk persiapan penanaman, pendiri PT Cinta Bumi Nusantara (CBN) itu membuat guludan setinggi 50 cm dan lebar 1 m dengan panjang 8 m. Diva membuat guludan lebih tinggi agar perakaran sayuran berumbi, seperti kentang dan wortel, tumbuh leluasa. Dengan demikian umbi yang dihasilkan lebih bongsor. Guludan lebih tinggi juga menyebabkan luas permukaan lahan yang ditanami lebih luas.

Selanjutnya Diva memberikan pupuk dasar berupa campuran pupuk kotoran ayam dan sekam yang telah difermentasi selama sebulan. Ia memilih pupuk itu karena mengandung nitrogen, fosfor, dan kalium tinggi. Sekam dalam campuran pupuk dapat menjaga kelembapan akar, memperbaiki kualitas tanah, serta tidak berbau busuk dan mencemari lingkungan. Pupuk organik itu juga mudah dijumpai di sekitar kebun sehingga harganya relatif lebih murah.

Tidak hanya kunjungan dari masyarakat Indonesia, tetapi teman dari Turki dan negara lain juga datang untuk belajar menanam sayuran organik.

Tidak hanya kunjungan dari masyarakat Indonesia, tetapi teman dari Turki dan negara lain juga datang untuk belajar menanam sayuran organik.

Diva menaburkan pupuk itu di permukaan guludan hingga merata. Untuk setiap guludan rata-rata perlu 6—8 kg pupuk. Selanjutnya perempuan 27 tahun manaburkan kapur pertanian dan menyiram permukaan guludan dengan pupuk organik cair. Setiap guludan menghabiskan 8—10 kg kapur pertanian dan 10—20 liter pupuk organik cair. Tanah itu kemudian dicangkul agar pupuk dan kapur tercampur merata. Setelah itu lahan didiamkan hingga gulma mulai tumbuh. Itu pertanda tanah sudah “dingin” dan siap ditanami karena proses fermentasi bahan organik dalam tanah sudah selesai. Jika fermentasi masih berlangsung dapat merusak bibit sayuran saat penanaman.

Rotasi tanaman
Diva juga memberikan pupuk tambahan berupa larutan urin kelinci yang telah difermentasi selama sebulan. Ia mengencerkan pupuk itu sebelum digunakan. Ia mencampur 1 liter urin dengan 1 liter air. Selanjutnya Diva menyiramkan larutan pupuk di sekitar tanaman sebulan setelah pemupukkan awal. Pemberian pupuk rata-rata 1—2 kali per musim tanam, tergantung kondisi pertumbuhan tanaman.

Baca juga:  Bisnis Sekaligus Hijaukan Bumi

Untuk penyiraman Diva menggunakan air dari mataair di kaki Gunung Salak yang berjarak 2 km dari lahan. Ia membuat 9 bak berukuran 4 m x 2 m x 1 m. Enam bak di antaranya untuk menampung air dari mata air dan sisanya menampung air hujan. Air dari bak kemudian mengalir melalui pipa dan selang ke kebun.

Bahan-bahan untuk pembuatan pupuk organik.

Bahan-bahan untuk pembuatan pupuk organik.

Pada penanaman perdana, Diva menanam terung di lahan 500 m². Namun, saat panen buah yang dihasilkan kecil-kecil. Sebagian tanaman malah tidak tumbuh. Rupanya dalam budidaya organik ada kaidah sistem rotasi tanaman. Menurut Diva ada 2 tujuan rotasi tanaman, yaitu mempertahankan keseimbangan hara atau memutus siklus hama. “Keduanya kondisional. Bila tak ada serangan hama, maka rotasi tanaman untuk menjaga keseimbangan hara jadi prioritas,” ujarnya.

Jenis tanaman yang harus ditanam di lahan yang belum pernah ditanami adalah tanaman pembangun kesuburan seperti kerabat polong-polongan. Tanaman anggota famili Fabaceae itu dapat memperkaya kandungan nitrogen dalam tanah. Bintil akar tanaman polong-polongan dapat bersimbiosis dengan bakteri rhizobium yang mampu menambat nitrogen di udara. Tanaman membutuhkan nitrogen sebagai pemacu pertumbuhan.

Berhasil

Bukan hanya sayur daun yang ditanam, tetapi juga sayur buah dibudidayak secara organik.

Bukan hanya sayur daun yang ditanam, tetapi juga sayur buah dibudidayak secara organik.

Belajar dari pengalaman itu, Diva lalu menanam kacang tanah di lahan yang belum pernah ditanami. Setelah menanam kacang tanah, selanjutnya giliran tanaman yang rakus hara, umumnya golongan sayuran daun. Penanaman berikutnya tanaman yang tak terlalu rakus hara, seperti golongan umbi-umbian. Lahan kembali ditanami kacang-kacangan setelah 9—12 bulan, begitu seterusnya.

Di kebun Diva, contoh rotasi tanaman yang ia terapkan adalah kacang tanah—kol—wortel—kacang tanah. Contoh lain, kacang panjang—bayam—tomat—kentang—kacang panjang. “Prinsipnya tanah yang telah tersedot haranya kembali dipulihkan oleh tanaman yang mampu mengembalikan kesuburan,” tuturnya. Pergiliran tanaman juga memutus siklus hama. Cara itu terbukti berhasil. Pada penanaman berikutnya Diva tak pernah gagal panen karena kesuburan tanah meningkat.

Saat mulai berkebun organik, Diva menjual hasil panen kepada rekan-rekan kerja dan membuka layanan pesan antar. Ternyata respon konsumen menggembirakan. Permintaan terus meningkat. Namun, Diva semakin kesulitan membagi waktu antara jadwal kerja dengan aktivitasnya mengantar pesanan. Sejak itu Diva mengundurkan diri dari pekerjaannya agar lebih fokus mengembangkan usaha.

Dengan budidaya secara organik yang tepat, produksi tidak kalah dari sayur anorganik.

Dengan budidaya secara organik yang tepat, produksi tidak kalah dari sayur anorganik.

Diva tak menyangka usaha yang ia geluti bakal berkembang pesat. Pada akhir 2017 Diva rencananya membuat sarana hiburan dan pendidikan pertanian atau agroedutainment. “Kami akan memberikan pelatihan bagi semua kalangan dari anak-anak hingga orang tua,” ujarnya. Ia juga berencana membangun sarana menginap di kebun untuk pengunjung yang datang dari luar Jabodetabek dan restoran dengan konsep makan di tengah kebun organik. (Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x