Memanfaatkan sampah rumah tangga sebagai sumber nutrisi.

Penggunaan talang dan polibag untuk budidaya sayuran.

Penggunaan talang dan polibag untuk budidaya sayuran.

Berkebun di pekarangan kini menjadi kegemaran Santy di Pondoklabu, Jakarta Selatan. Ia memanfaatkan halaman yang semula menganggur itu untuk menanam beragam sayuran seperti kangkung, bayam, pakcoi, dan cabai. Ia menanam di dalam polibag dan menggunakan talang vertikultur atau sistem tanam bertingkat. Lantaran lahan terbatas ia meletakkan pot tanaman di jalan depan rumah.

Menurut Santy menanam sayuran tidak sesulit yang ia bayangkan sebelumnya. Buktinya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan ia bisa memanen kangkung dan bayam. Untuk media tanam ia menggunakan campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan masing-masing 1:2. Sebagai perawatan ia memberikan penyiraman setiap hari. Santy memberikan pupuk tinggi nitrogen untuk sayuran daun.

Pupuk organik
Santy melarutkan 20 gram Urea per 10 liter air dan menyemprotkan untuk sayurannya. Di lahan seluas 50 m2 ia mampu memanen lebih dari 20 kilogram kangkung. Agar produksi lebih maksimal, Theodoor Utomo, pemilik PT Utomo Utomo menyarankan untuk membudidayakan secara organik. “Budidaya secara organik lebih alami dan hasilnya juga maksimal,” ujarnya.

Proses produksi pupuk hayati di CV Mangkubumi Perkasa.

Proses produksi pupuk hayati di CV Mangkubumi Perkasa.

Untuk memaksimalkan produksi Theodoor menyarankan penggunaan pupuk organik sejak pratanam. Pada fase pratanam misalnya, pehobi bisa mencampurkan pupuk organik cair itu pada lahan kemudian baru pengolahan tanah. Untuk lahan seluas 2.000 m2 petani atau pehobi cukup melarutkan 12 liter pupuk organik dalam 200—240 liter air. Pemberian nutrisi organik itu bertujuan menyuburkan lahan, dan mengomposkan bahan-bahan limbah tanaman.

Baca juga:  PUPUK

Selain itu penggunaan pupuk organik juga menekan pertumbuhan gulma, serta mengurangi serangan hama maupun penyakit. Pascapengolahan tanah, biarkan lahan selama 2 pekan lalu siap ditanami. Untuk fase persemaian, pekebun dapat menggunakan pupuk organik Magicgro G2 yang baik bagi pertumbuhan akar. Bahkan, pehobi juga dapat memberikan pupuk organik cair hayati itu juga pada bibit ketika akan pindah tanam.

Tujuannya, “Mengurangi tingkat stres bibit sewaktu pindah tanam,” ujar Theo—sapaan Theodoor. Caranya celupkan bibit dalam pupuk organik cair selama 5 detik. Sisa larutannya dapat disiramkan ke tanaman. Pada fase pembesaran pehobi menggunakan Magicgro G6 yang dapat memacu pertumbuhan. Pehobi dapat mencampur pupuk G6 dan pupuk lain dengan porsi hanya setengahnya.

Aplikasi pupuk hayati sebelum penanaman.

Aplikasi pupuk hayati sebelum penanaman.

Pada tanah minim hara Theo menyarankan menggunakan Magicgro G8. Sebab, “Kandungan bahan aktif lebih lengkap,” kata Theo. Efeknya tanaman lebih sehat, daun lebih cerah, dan produksi buah maksimal. Konsentrasi pengenceran 1:100—200. Artinya petani hanya memerlukan 1 cc G8 untuk melarutkan dalam 100—200 cc air. Setelah teraduk rata, barulah petani menyemprotkan pupuk organik cair itu ke batang tanaman.

Penyemprotan sebaiknya pada sore hari. Produk pupuk hayati cocok untuk segala jenis tanaman, musim, umur tanaman, dan fase pertumbuhan. Menurut Direktur CV Mangkubumi Perkasa, Sarjono, penggunaan pupuk hayati majemuk cair memiliki banyak keuntungan seperti meningkatkan ketersediaan unsur hara dan kesuburan tanah. Kelebihan lain, mengoptimalkan kemampuan akar menyerap unsur hara, menekan pertumbuhan mikroba patogen, dan meningkatkan produktivitas.

Ia menggunakan pupuk hayati majemuk cair dengan memanfaatkan mikroorganisme alami seperti Lactobacillus sp, Rhizobium sp, Azotobacter sp, dan Bacillus sp. “Pupuk hayati itu mengandung mikroorganisme yang menguntungkan,” ujarnya. Mikroorganisme yang digunakan sebagian besar dari mikroorganisme penambat nitrogen, mikroorganisme pelarut fosfat, mikroorganisme perombak bahan organik, serta hormon tumbuh lengkap.

Baca juga:  Harapan Selamatkan Datuk

Wadah tanam
Sumber nutrisi lain dari dapur sendiri. Pehobi dapat memanfaatkan sampah rumah tangga sejak dari dapur. Itulah sebaiknya pelaku pertanian perkotaan atau urban farming memilah sampah organik dan nonorganik. Bahan baku lain berupa dedaunan, rumput, sampah buah. Campurkan beragam bahan itu kemudian tambahkan bahan padat seperti bekatul untuk mengurangi kadar air dan dekomposer.

Penggunaan pupuk hayati tingkatkan hasil panen beragam komoditas.

Penggunaan pupuk hayati tingkatkan hasil panen beragam komoditas.

Fermentasikan bahan itu selama sepekan. Ciri nutrisi siap diaplikasikan yakni tercium aroma segar, tidak berbau busuk, dan sampah tidak hancur keseluruhan. Sarana untuk memfermentasi tersedia di pasaran. Sebuah pengompos mampu mengolah hingga 200 kg sampah per jam (baca: Mesin pengompos di Rumah). Riset ilmiah membuktikan bahwa pupuk organik mampu meningkatkan produksi tanaman.

Penelitian Sarjiya Antonius dan rekan dari Pusat Penelitian Biologi LIPI menyimpulkan, perlakuan kompos plus pupuk hayati meningkatkan hasil panen beragam komoditas. Peningkatan produksi wortel 15—30%, brokoli 65—90%, dan jagung 10%. Sifat bahan organik mampu mempertahankan kadar air di tanah sehingga menghasilkan mikrob alami maupun yang ditambahkan menjadi aktif melakukan metabolisme.

Akibatnya mineralisasi dapat berlangsung lebih cepat dan menghasilkan hara kepada tanaman. Selain nutrisi, pelaku pertanian perkotaan juga mesti menyediakan wadah. Jika Santy menggunakan polibag dan talang untuk menanam beragam sayuran, pekebun dapat memilih wadah tanam yang lain. Misalnya saja pot, polivinil klorida (PVC), dan kantong tanam atau planter bag.

Pemilihan wadah taman itu cocok bagi yang memiliki lahan terbatas atau halaman rumah yang telanjur dicor. Bahan dan ukuran wadah tanam juga beragam sehingga pekebun dapat menyesuaikan dengan tingkat kebutuhannya. Misalnya saja ukuran kantong tanam 11 liter dan diameter 21 cm untuk menanam sayuran daun. Ukuran lebih besar, 15 liter dan diameter 28 cm cocok untuk menanam sayuran buah seperti cabai dan terung.

Baca juga:  Jenis Pupuk Untuk Tanaman Bonsai

Penggunaan wadah tanam itu lebih praktis dibanding dengan pot. Sebab, pehobi juga dapat melipat dan menyimpan di ruangan ketika belum atau setelah penggunaan. Di bagian kanan dan kiri kantong tanam juga terdapat pegangan sehingga memudahkan saat proses pemindahan dari satu tempat ke tempat lain. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Marietta Ramadhani)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d