Sasra menjadi andalan Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dalam mencapai swasembada sapi.

Sapi sasra betina berbobot 495 kg.

Sapi sasra betina berbobot 495 kg.

Sapi di sebuah kandang itu menarik perhatian Menteri Pertanian, Dr Ir Andi Amran Sulaiman MP. Sosok tubuhnya gempal dan kekar sehingga sapi tampak gagah. Andi Amran menyangka sapi berbobot 850 kg itu impor. Sapi itu ternyata hasil tangkaran peternak asal Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Sugimin. Ia menyebut sapi hasil tangkarannya itu sasra alias sapi sragen.

Sugimin menyilangkan sapi jenis brahman amerika Bos indicus betina dan sapi aberden angus Bos taurus jantan. Dari hasil persilangan itu melahirkan sapi berkarakter dominan angus dengan komposisi gen 3/8 brahman dan 5/8 angus. Itulah sebabnya sosok sapi sasra dominan seperti angus, yakni berbulu hitam dan bertubuh kekar. Satwa anggota famili Bovidae itu terdapat punduk yang menjadi ciri khas brahman.

Ketersediaan pakan
Menurut Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sragen, Ir Agus Purwanto MM, sebelum diberi nama sasra, para peternak kerap menyebutnya brangus. Para peternak sejatinya memelihara brangus sejak 1981. Namun, ketika itu kurang berkembang karena mereka beranggapan beternak sapi sekadar untuk tabungan. “Ketika membutuhkan uang mereka baru menjualnya,” ujar Agus.

Itulah sebabnya para peternak rata-rata hanya menjual seekor sapi per tahun. Harga jual pun rendah karena peternak menjual ketika membutuhkan uang seperti untuk biaya sekolah. Harga jual rata-rata Rp5-juta—Rp7-juta per ekor. Padahal, sapi brangus berpotensi sangat baik sebagai sapi potong karena bertubuh besar dan kompak. Pertumbuhannya cepat dengan laju pertumbuhan sapi bisa mencapai 1,2 kg per hari dengan pakan intensif.

Bobot tubuh dewasa mencapai 900—1.000 kg. Brangus juga memiliki daya tahan yang baik terhadap iklim tropis yang hangat dan mudah beradaptasi dengan pakan yang sederhana. Berdasarkan hasil uji laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVet) Yogyakarta, karkas atau persentase daging yang dapat dikonsumsi brangus minimal 53% dengan kandungan protein 11,5% dan lemak 8,8% dengan kualitas daging kategori baik.

Baca juga:  Rival Anyar Asam Urat

Ketersediaan pakan di Kabupaten Sragen juga berlimpah. Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sragen, pada 2005—2006 wilayah Kabupaten Sragen mengalami surplus pakan ternak. Pada periode itu ketersediaan pakan ternak mencapai 1.085.880 ton per tahun. Dari jumlah itu yang digunakan untuk asupan hewan ternak baru 250.000 ton per tahun atau terdapat kelebihan pakan 835.880 ton per tahun.

Dongkrak populasi
Jika setiap ekor ternak membutuhkan 3 ton pakan dalam setahun, maka surplus pakan itu mencukupi sekitar 278.626 ekor hewan ternak. Dengan potensi itu, maka Bupati Sragen pada 2000 Untung Wiyono berupaya meningkatkan populasi sapi brangus. Pada 2003 melalui Peraturan Daerah nomor 14 tahun 2003 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Sragen, bupati membentuk Dinas Peternakan dan Perikanan.

Sasra jantan dewasa berbobot 850 kg.

Sasra jantan dewasa berbobot 850 kg.

Lembaga itu bertanggung jawab khusus untuk meningkatkan produksi dan kualitas hewan ternak, khususnya sapi potong, dengan menggerakkan semua elemen masyarakat, pemerintahan daerah, investor, dan perguruan tinggi. Pemerintah Kabupaten Sragen juga mengembangkan dan mendorong pembangunan areal peternakan sapi potong atau kawasan pembibitan sapi dengan melibatkan kelompok masyarakat dan peternak.

Pada 2000 di Kabupaten Sragen baru terdapat satu kawasan pembibitan, yaitu di Desa Pringanom, Kecamatan Masaran. Dua tahun berselang pemerintah Kabupaten Sragen menyediakan dan memberikan bibit sapi kepada kelompok peternak secara cuma-cuma, membantu melakukan inseminasi buatan, transfer embrio, menyiapkan tenaga medis untuk melakukan perawatan kesehatan secara rutin, serta kegiatan kemitraan peternak sapi.

Pemerintah Kabupaten Sragen juga memberikan dukungan pendanaan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati nomor 21 tahun 2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Pinjaman Modal dalam kegiatan pengembangan kemitraan ternak yang dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dalam program itu peternak mendapat kemudahan untuk meminjam modal di bank yang ditunjuk dengan bunga pinjaman 1,1 % per bulan atau 13,2% per tahun.

Baca juga:  Gairah Tangkarkan Burung Cinta

Berbagai upaya itu membuahkan hasil. Pada 2006 jumlah pembibitan sapi brangus di Kabupaten Sragen bertambah menjadi 7 kawasan, yaitu Desa Pringanom, Kecamatan Masaran, Desa Tenggak (Kecamatan Sidoharjo), Dawung (Sambirejo), Wonorejo (Kedawung), Karanganyar (Plupuh), Tegalrejo (Gondang), dan Desa Gringging (Sambungmacan).

Menjadi ikon

Sugimin, salah satu penangkar sapi sragen (sasra) di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Sugimin, salah satu penangkar sapi sragen (sasra) di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Sugimin salah satu peternak di Kecamatan Kedawung yang menjadi penangkar brangus. “Saat ini saya memiliki 35 sapi,” ujarnya. Selain Sugimin, di desanya terdapat 20 peternak dengan kepemilikan rata-rata 3—4 ekor per peternak. Kini sapi brangus menjadi ikon Kabupaten Sragen dan diberi nama sasra alias sapi sragen. Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sragen, jumlah populasi sapi brangus di Kabupaten Sragen mencapai 7.895 ekor.

Namun, jumlah itu belum memenuhi permintaan sapi brangus. Menurut bagian pemasaran pemerintah Kabupaten Sragen, saat ini permintaan sapi dari Jakarta mencapai 800 ekor per hari. Dari jumlah itu 600 ekor di antaranya adalah jenis brangus. Jumlah permintaan itu baru terpenuhi 80 ekor brangus per hari. Upaya Sugimin dan pemerintah Kabupaten Sragen mengembangkan sasra mendapat sanjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman.

“Saya sangat mengapresiasi upaya Kabupaten Sragen mengembangkan sasra sehingga tidak bergantung pada indukan dan pasokan bakalan impor,” tuturnya saat meninjau area pameran Hari Pangan Sedunia 2016 di Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Sapi sasra dipamerkan di ekshibisi Hari Pangan Seduni 2016 yang membuat Menteri Andi Amran kagum. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d