Sapi: Hemat Biaya Pakan 1
Pelda Rusiadi menghemat biaya pakan dengan ramuan fermentasi hasil racikan sendiri.

Pelda Rusiadi menghemat biaya pakan dengan ramuan fermentasi hasil racikan sendiri.

Pelda Rusiadi menghemat biaya pakan sapi 76—80%.

Dalam dua tahun terakhir Pelda Rusiadi memperoleh keuntungan lebih tinggi dari beternak sapi. Itu karena Rusiadi mampu menekan biaya pakan menjadi hanya Rp6.000 per ekor per hari. Sebelumnya, anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) Kodim 0307/Tanahdatar di Nagari Sungayang, Kecamatan Batusangkar, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat, itu mengeluarkan biaya pakan hingga Rp25.000—Rp30.000 per hari. Penghematan biaya karena ia membuat pakan secara fermentasi dengan ramuan organik buatan sendiri. Sebelumnya buatan pabrik.

Padahal, kenaikan bobot tubuh sapi diberi ramuan pakan itu sama, yaitu mencapai 1,5 kg per hari. Artinya, Rusiadi mampu menghemat biaya pakan hingga 76—80%. Rusiadi mampu menghemat biaya pakan karena hanya memberikan pakan berupa jerami hasil fermentasi. “Di kediaman saya jerami melimpah, apalagi saat panen raya padi,” ujarnya. Rusiadi mengolah jerami dengan mencacah menggunakan mesin hingga berukuran 5 cm.

Bobot tubuh sapi meningkat 1,5 kg per hari.

Bobot tubuh sapi meningkat 1,5 kg per hari.

Lebih hemat
Setelah itu Rusiadi menghamparkan 1 ton cacahan jerami hingga ketebalan 10—15 cm. Selanjutnya Rusiadi menaburkan 3 kg dedak di permukaan hamparan jerami hingga merata. Ia lalu menyiramkan 500 ml larutan ramuan organik ternak (roter) dan 500 g gula pasir yang telah dilarutkan dalam 20 liter air. Roter adalah ramuan organik untuk fermentasi temuan Dr Nurzaman, praktikus organik asal Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Roter terbuat dari aneka jenis bahan seperti rumput laut, pisang, nanas, kangkung air, yoghurt, minuman probiotik, usus ikan nila atau mujair, gula merah, ragi tapai, air kelapa, kepiting batu, ragi roti, dan air sumur (komposisi dan cara buat lihat tabel). “Jika tidak ada rumput laut bisa digantikan dengan azola (kiambang, red),” kata Nurzaman. Kemudian ia mendiamkan hingga 30 menit.

Baca juga:  Adopsi Pohon Selamatkan Gambut

Nurzaman menyarankan untuk memfermentasi bahan pakan minimal 1 hari. “Sebenarnya pakan yang difermentasi selama 1 jam sudah bisa diberikan ke sapi. Namun, kadar proteinnya kurang karena proses penguraian protein, karbohidrat, dan unsur-unsur lainnya belum sempurna,” tutur Nurzaman. Rusiadi memberikan pakan itu 4 kali sehari sebanyak 2 kg per ekor per sekali makan.

Pakan sapi dari limbah jerami hasil fermentasi.

Pakan sapi dari limbah jerami hasil fermentasi.

Penambahan bobot tubuh sapi mencapai 1,5 kg per hari. Jumlah penambahan bobot tubuh sapi itu sama dengan saat Rusiadi memberikan pakan dengan ramuan sebelumnya. Sebelumnya ia memberikan pakan berbahan dasar jerami tapi untuk memfermentasinya ia membeli probiotik pabrikan berupa serbuk berwarna cokelat dan tambahan pupuk Urea.

Saat itulah biaya produksi pakan mencapai Rp25.000—Rp30.000 per ekor per hari. Rusiadi lantas membuat ramuan pakan dengan fermentasi menggunakan roter buatan sendiri. Bahan bakunya pun mudah di dapat. “Jika roter sudah habis, saya cukup memperbanyaknya, tak perlu membuat ramuan dari awal lagi,” kata pemilik 30 sapi itu. Kini Rusiadi hanya merogoh biaya pakan Rp6.000 per ekor per hari.

Naik pangkat
Para peternak sapi di sekitar kediaman Rusiadi pun kini mengikuti jejaknya menggunakan ramuan hasil meracik sendiri untuk menekan biaya pakan. Komandan Korem 032/Wirabraja, Brigjen (TNI) Widagdo Hendro Sukoco, menuturkan teknik meramu pakan secara organik yang diterapkan Rusiadi salah satu dari program budidaya pertanian organik yang dikembangkan Korem 032/Wirabraja.

Budidaya azola sebagai salah satu bahan baku ramuan organik ternak (roter).

Budidaya azola sebagai salah satu bahan baku ramuan organik ternak (roter).

“Program itu dalam rangka mendukung pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan dan daging sapi,” ujar Widagdo. Untuk menyukseskan program itu Widagdo mengundang praktikus pertanian organik dari Kabupaten Tasikmalaya, Dr Nurzaman. Ia melatih para anggota Babinsa dari setiap Kodim di Sumatera Barat tentang teknik pertanian organik. Hasil pelatihan itu kemudian diterapkan oleh para Babinsa dengan membuat lahan percontohan.

Baca juga:  Produksi melonjak 100%

Widagdo mengatakan Rusiadi contoh anggota Babinsa yang sukses menerapkan teknik budidaya organik dalam sektor peternakan sapi. Padahal, saat mulai beternak sapi pada 2012 Rusiadi hanya memiliki 1 sapi betina peranakan ongole (PO) yang ia beli dengan harga Rp6,75-juta dan seekor simental yang ia beli Rp9-juta. Setelah dirawat 1,5 tahun ia menjual keduanya dengan harga Rp27,5-juta. Hasil penjualan itu ia gunakan untuk modal membuat kandang berkapasitas 30 ekor. Karena belum memiliki modal untuk membeli bakalan sapi, ia menyewakan kandang dengan sistem paro.

Sukses menerapkan teknologi pakan organik yang hemat, pada pertengahan 2013 Rusiadi mendapat bantuan kredit bunga rendah dari salah satu bank nasional. Modal itu ia gunakan untuk membeli 30 ekor sapi. Pada 2014 Rusiadi membentuk kelompok peternak bernama Kubali Kopi yang kini beranggotakan 25 peternak. Para peternak dari luar kabupaten dan provinsi juga berdatangan ke kediaman Rusiadi untuk belajar meramu pakan. Dengan kesuksesan itu Rusiadi memperoleh penghargaan berupa kenaikan pangkat dari sersan mayor (serma) menjadi pembantu letnan dua (pelda) pada 2015. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *