Santigi Terelok Negeri Jiran 1
Budi Sulistyo dengan pemilik bonsai peraih juara umum kelas santigi

Budi Sulistyo dengan pemilik bonsai peraih juara umum kelas santigi

Ajang pameran bonsai-bonsai terbaik Filipina.

Organisasi bonsai terbesar di Filipina yang berafiliasi dengan 14 organisasi di negara itu, Philippine Bonsai Society (PBS) menyelenggarakan pameran nasional di ibukota Manila. Di ajang itu National Bonsai Exhibition & Competition 2014 pada 22—26 Mei 2014 bonsai-bonsai terbaik Filipina unjuk keindahan. Semuanya berkelas dengan beragam keunggulan. Pameran bonsai itu terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama kelas bantige—sebutan santigi Phempis acidula di Filipina dan kedua jenis-jenis umum selain bantige.

Bagi pehobi bonsai di negara lumbung padi itu, bantige adalah bahan bonsai yang paling digemari. Para pehobi bonsai santigi di Filipina umumnya mengambil bahan dari pulau-pulau kecil di bagian utara negara kepulauan itu. Bahan santigi memiliki bentuk dan ukuran yang mirip dengan santigi Indonesia yang berasal dari Sulawesi dan Kepulauan Maluku. Bentuk bonsai santigi di Filipina sangat menarik dengan lekuk-liku batang dan ranting pohon serta urat batang yang menonjol sehingga terkesan sangat tua.

Bonsai santigi bergaya semiformal setinggi sekitar 1 meter menjadi juara umum

Bonsai santigi bergaya semiformal setinggi sekitar 1 meter menjadi juara umum

Tampil prima
Bonsai santigi negara berjuluk home oft the green revolution itu juga besar-besar. Tak tampak santigi kecil yang dipamerkan. Dari segi bentuk, santigi Filipina memang bagus, tetapi untuk detail pembuatan, santigi Indonesia masih lebih bagus. Dalam pameran itu ada sekitar 48 santigi unjuk kecantikan. Saya sebagai ketua juri dibantu dua juri dari Taiwan Yen Tzu-ching dan Tang Chin-feng cukup terpana melihat kecantikan, keserasian, dan keseimbangan bonsai-bonsai itu.

Hampir semua bonsai memiliki keunggulan masing-masing sehingga agak sulit menentukan yang terbaik dari yang terbaik. Akhirnya kami mendaulat bonsai santigi dengan gaya semiformal setinggi sekitar 1 meter menjadi juara umum. Bentuknya yang unik dengan batang utama yang tumbuh meliuk-liuk terlihat sangat menarik. Selain itu penampilan santigi kian apik karena batang lain yang menjurus ke kiri dan diikuti batang bawah yang juga menjorok ke kiri.

Juara non santigi

Juara non santigi

Secara umum santigi itu memiliki percabangan kuat dengan perantingan yang seimbang serta kesuburan yang prima sehingga terkesan gagah dan tua. Sebagai juara kedua, santigi dengan gaya semi cascade atau menggantung. Lekuk lengkungan bonsai itu berkarakter kuat ditambah gaya menggantungnya yang proporsional. Dari segi percabangan santigi itu juga serasi dan seimbang ditambah dengan kesuburan yang prima, membuat santigi itu meraih juara dua dalam jenis bantige.

Baca juga:  Teknik Buahkan Tabulampot: Mangga, Lengkeng, Jambu Air & Srikaya New Varietas

Bonsai legundi
Selain santigi, ekshibisi itu juga menjadi ajang pameran 120 bonsai eksotis nonsantigi. Bonsai-bonsai indah itu di antaranya saing simbur, Diospyros sp, soka, bugenvil, kimeng, ki perak daun kecil Eleagnus pungens, Juniperus chinensis, cemara udang, dan Podocarpus sp. Selain bonsai-bonsai yang sudah terkenal di berbagai negara, negara yang terkenal wisata danau Lanao di pulau Mindanau itu juga memiliki bonsai lokal yang tak kalah cantik.

Bonsai legundi Vitex trifolia yang masih jarang di Indonesia

Bonsai legundi Vitex trifolia yang masih jarang di Indonesia

Santigi bergaya cascade atau menggantung. Lekuk lengkungan bonsai itu berkarakter kuat ditambah gaya menggantungnya yang proporsional

Santigi bergaya cascade atau menggantung. Lekuk lengkungan bonsai itu berkarakter kuat ditambah gaya menggantungnya yang proporsional

Pebonsai Filipina menyebut bonsai lokal itu tugas; di Indonesia disebut legundi Vitex trifolia. Bonsai itu salah satu produk lokal yang sangat baik dengan jin—luka-luka pada batang atau cabang sehingga terkesan tua dan shari—kayu mati yang terbentuk pada batang utama bonsai juga terbaik. Juara nonbantige adalah gabungan pohon kecil yang ditata dalam rak. Itu adalah budaya memamerkan bonsai kecil yang umum dilakukan di Taiwan, Jepang, maupun Cina. Kekompakan susunan ini menjadikan bonsai itu memperoleh juara satu nonsantigi.

Selain itu, tampak pula bonsai kimeng yang ditanam menempel di batu. Sosok itu sangat menarik karena akarnya melekat kuat dan bentuknya serasi dengan batu. Ada juga bonsai bugenvil yang percabangannya sesuai ukuran batang dengan perantingan yang sangat baik. Dengan keistimewaan itu, bugenvil salah satu yang terbaik pada bonsai nonbantige. Singkatnya, bonsai Filipina baik jenis santigi maupun nonsantigi tak kalah cantik dengan bonsai-bonsai di mancanegara. (Ir Budi Sulistyo/praktikus bonsai di Jakarta, Ketua Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia—Bidang Luar Negeri)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments