Bunga anggrek terkecil Oberonia sp. salah satu temuan Destario Metusala (kanan). Sosok tanaman Oberonia sp. di habitat asli.

Bunga anggrek terkecil Oberonia sp. salah satu temuan Destario Metusala (kanan). Sosok tanaman Oberonia sp. di habitat asli.

Sembilan tahun mendeskripsikan anggrek-anggrek baru di rimba raya, Destario Metusala merilis 12 jenis anggrek dari pelosok Nusantara.

Cinta membuat Destario Metusala berjuang sekuat tenaga untuk menjumpai “sang kekasih” di habitat aslinya. Sang kekasih itu bernama anggrek. Celakanya acap kali tak mudah untuk menjumpai anggrek. Bahkan kerap kali ia mesti menyabung nyawa. Lihat saja perjalanan ke Siberut, Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, untuk mendata anggrek sekaligus mengambil sampel melengkapi koleksi anggrek Kebun Raya Purwodadi, Provinsi Jawa Timur.

Perjalanan itu bermula pada pukul 20.00, ketika kapal kayu itu meninggalkan pelabuhan Padang menuju Pelabuhan Siberut di Kepulauan Mentawai, Setelah berjalan sekitar 1 jam, tiba-tiba gelombang besar mengempas kapal. Ia merasakan gelombang tinggi mengangkat kapal, lalu mengempaskan. Kapal oleng ke kiri dan ke kanan. Begitu berkali-kali.

Gelombang tinggi
575_ 62-2Rio—sapaan Destario—yang bekerja di Kebun Raya Purwodadi, menuturkan, “Saya pikir kapal mau pecah karena dinding-dinding kapal yang terbuat dari kayu sampai merekah dan paku dari kayu yang menghubungkan papan terlihat.” Dari sela-sela dinding kapal ia tahu kondisi di luar hujan deras. Langit-langit kamar pun bocor sehingga ia basah. “Saya mabuk laut dan hanya bisa jongkok di lantai sambil berpegangan kayu di pojok kamar,” cerita Rio.

Meski sulit, ia tetap berusaha menulis hurup demi hurup di telepon selulernya untuk rekan di kantor. “Saya menghadapi badai di Selat Mentawai.” Meski saat itu tidak ada sinyal ia berharap pesannya bisa sampai saat ada sinyal. “Setidaknya mereka mengetahui kondisi perjalanan mereka kalau terjadi sesuatu,” kenang Destario. Setelah diamuk badai sekitar 15 menit, nakhoda mengumum kapal harus balik ke Padang.

Bila dilanjutkan, risiko kapal pecah dan tenggelam cukup besar. Saat badai reda, Rio merangkak keluar dari kamar menuju dak. Di atas, ia melihat dua rekannya dari Amerika Serikat duduk di anjungan. Tidak terlihat rasa takut di wajahnya. Ternyata mereka itu ahli diving sehingga telah terbiasa menghadapi badai. Menurut Destario, duduk di anjungan kapal untuk mendapat udara segar salah satu cara agar tidak mabuk laut.

Bulpophyllum lepidum.

Bulpophyllum lepidum.

Sementara Rio mabuk, mag pun kumat, demam, dan ketakutan karena kurang pandai berenang. Di Pelabuhan Padang semua penumpang turun untuk menenangkan diri. Setelah beristirahat 1 jam, mereka dipanggil lagi naik kapal dan melanjutkan perjalanan. Perjalanan kedua berlangsung lancar dan aman karena badai telah reda. Akibat kelelahan, Rio ketiduran saat kapal hampir tiba di pelabuhan Muarasiberut. Ia terbangun akibat gigitan tikus di tangannya.

Baca juga:  Luwak Lahirkan Anak

Esok paginya mereka siap berangkat menyusuri sungai selebar 20 m dengan kedalaman 2—4 m. Perahu sewaan itu—disebut pongpong berukuran 9 m x 60 cm dilengkapi mesin. Perahu sangat kecil sehingga mereka tidak leluasa bergerak. Mereka pun tidak boleh berdiri atau membuat gerakan yang membuat perahu bergoyang. Mereka hanya boleh jongkok, tanpa boleh balik arah duduk, atau berdiri. Bila perahu terbalik, buaya muara mungkin menerkam.

Kaya anggrek
Untuk melihat anggrek di habitat aslinya, Destario menempuh jalan berlumpur selutut. Hutan Siberut pun penuh dengan rotan berduri yang menjadi belukar. Belum lagi lintahnya sangat banyak. “Lintah sampai masuk ke dalam pakaian, baju, dan kaus kaki, dan melekat di badan. Ketika dicabut, darah segar pun mengucur dari luka. Akibatnya, kedua orang Amerika itu setiap saat menjerit karena tidak pernah mengalami disedot lintah,” kata Destario.

Vanda metu salae.

Vanda metu salae.

Perjuangan mereka menembus hutan berakhir manis. Hutan Siberut sangat luar biasa, lebat dengan kayu besar yang banyak sekali. Anggrek melimpah dan tumbuh di setiap jengkal pohon. Di daerah lain, anggrek hanya tumbuh di pohon besar berdiameter lebih 30 cm. Di Siberut pohon dengan batang 3—5 cm penuh anggrek dari bawah sampai ke atas. Biasanya anggrek hanya tumbuh di bagian atas pohon.

“Di Siberut, bagian bawah pohon juga ditumbuhi anggrek. Mungkin karena lembap dan banyak sumber biji-biji anggrek,” ungkap pemuda setinggi 170 cm itu. Kedua orang Amerika Serikat itu tak henti mengagumi hutan Siberut yang kaya keragaman hayati. Pada hari ke dua, saat menuju hutan, mereka berpapasan babi hutan besar. Rio sempat panik, tetapi kerei atau ketua adat menenangkan.

Moncong babi itu berdarah. Kerei melarang mereka melanjutkan perjalanan. Menurut kerei babi berdarah itu baru lepas dari sergapan ular besar. Karena babi lolos, berarti ular masih lapar. Mereka lalu mengubah arah penjelajahan. Pada eksplorasi itu, Destario mendapat lebih dari 30 jenis anggrek. Ia pun sempat mempelajari manfaat anggrek itu bagi masyarakat Mentawai. Mereka memanfaatkan seluruh anggrek itu sebagai tanaman obat.

Destario Metusala peneliti anggrek di Kebun Raya Purwodadi, Jawa Timur.

Destario Metusala peneliti anggrek di Kebun Raya Purwodadi, Jawa Timur.

Anggrek pun dipakai dalam upacara tradisional mereka. Jadi anggrek itu sangat tinggi nilainya dalam kehidupan masyarakat Mentawai. Karena terkait tradisi dan kehidupan sehari-hari mereka menjaga ketat kelestarian anggrek di hutan. Pada eksplorasi di Siberut itu, Rio menemukan Oberonia sp. Phalaenopsis violacea sedang berbunga lebat, P. sumaterana, P. amabilis, beberapa jenis liparis, bulbophillum, dan Dendrobium crocatum.

Anggrek terkecil
D. crocatum itu menjadi rekaman baru. Sebelumnya, anggrek itu hanya ada di Thailand dan belum perah tercatat tumbuh di Indonesia. Untuk setiap jenis, ia mengambil satu tanaman sebagai contoh termasuk jenis biasa. “Sebab, bisa jadi ada variasi genetik dan sebagai bukti ilmiah bahwa P. amabilis, P. violaceae, dan P. sumaterana juga tumbuh di Pulau Mentawai. Jadi ada juga bukti fisik. Tanpa bukti fisik, bisa jadi kita salah.” ujar Rio.

Baca juga:  Pilih Sarang Rangrang

Tiga bulan setelah eksplorasi, Oberonia sp. yang telah ditumbuhkan di Kebun Raya Purwodadi berbunga. Bunganya berwarna jingga sangat kecil 1,1—1,5 mm. Dengan ukuran super kecil itu, Oberonia sp temuan Destario Metusala dapat dinyatakan sebagai anggrek terkecil di dunia. Rekor sebelumnya dipegang anggrek genus Platystele temuan Lou Jost yang tumbuh di Ekuador dengan diameter 2,0—2,1mm.

Begitulah aktivitas Destario Metusala sebagai peneliti dan pencinta anggrek. Ia masuk-keluar hutan. Namanya melekat pada anggrek “temuannya”. Lihat saja Vanda metusalae yang masih asing di kalangan penggemar anggrek di Indonesia atau bahkan di dunia. Anggrek asal Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara, itu endemik atau hanya ditemukan di daerah penghasil aspal itu.

Robiquetia hansenii.

Robiquetia hansenii.

Publikasi pertamanya pada Januari 2008 oleh ahli anggrek Peter O’Bryrne dari Singapura dan Jaap Vermeulen (Inggris). Bunga metusalae kuning terang dan terdapat bercak merah kecokelatan di tepi kelopak. Penyematan nama metusalae pada vanda yang lidahnya paling lebar di antara vanda spesies lain itu untuk menghormati Destario Metusala.

Destario Metusala (paling kiri) mewawancara sikerei mengenai pemanfaatan anggrek di Mentawai, Sumatera Barat.

Destario Metusala (paling kiri) mewawancara sikerei mengenai pemanfaatan anggrek di Mentawai, Sumatera Barat.

Hingga 2017 pemuda kelahiran Yogyakarta 1983 itu mempublikasikan 12 jenis anggrek spesies. Selama ini ilmuwan luar negeri yang memperkenalkan anggrek asal Indonesia. Literatur mengenai anggrek pun tersimpan di perpustakaan di Jerman, Belanda, dan Inggris. Dalam memperkenalkan jenis baru, Destario memang bukan orang pertama yang menemukan anggrek Vanda metusalae itu di alam.

Eksplorasi untuk mendeskripsikan anggrek di habitat asli.

Eksplorasi untuk mendeskripsikan anggrek di habitat asli.

Namun, pemuda berkacamata itulah yang meneliti morfologi dan taksonomi anggrek itu secara detail. Setelah memastikan anggrek itu betul-betul berbeda dari jenis lain, ia pun mempublikasikannya di jurnal anggrek internasional. Ia selalu memberi nama baru pada anggrek “temuannya”. Destario memberi nama Dendrobium kelamense Metusala & P. O’Byrne, & J.J. Wood, D. dianae Metusala & P. O’Byrne, & J.J. Wood, dan D. flos-wanua Metusala & P. O’Byrne, & J.J. Byrne. Itu karena ia sang penjaga anggrek Nusantara, pujaan hatinya. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d