Penggunaan asap cair untuk mengolah sampah organik menghilangkan bau tak sedap.

Asap cair disemprotkan ke tempat sampah untuk menghilangkan bau serta mengusir lalat dan tikus.

Asap cair disemprotkan ke tempat sampah untuk menghilangkan bau serta mengusir lalat dan tikus.

Tempat penampungan sampah sementara itu hanya terpisahkan jalan selebar 4 m dari pemukiman warga Griya Melati di Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat. Meski lokasi berdekatan dengan rumah-rumah warga, pengelola tempat penampungan sampah, Tarmidi , tidak pernah mendapat protes lantaran aroma sampah yang tidak sedap.

Pasalnya, begitu sampah yang diangkut dari rumah-rumah warga datang ke tempat penampungan, Tarmidi, bersama ketiga rekannya langsung menyemprot tumpukan sampah dengan larutan asap cair. Asap cair adalah hasil samping dari pembakaran kayu atau tempurung kelapa dalam proses pembuatan arang. Asap hasil dari proses pembakaran itu kemudian didestilasi sehingga menghasilkan cairan yang disebut asap cair.

Pilah sampah
Tarmidi mengencerkan asap cair sebelum menggunakan. Warga Kelurahan Bubulak itu mencampur seliter asap cair dengan 4 gayung air bersih. Ia menyemprotkan larutan itu ke seluruh permukaan tumpukan sampah. Menurut Tarmidi larutan asap cair mampu menghilangkan aroma sampah yang tidak sedap sehingga tidak mengundang lalat dan tikus. Itulah sebabnya di sana tidak tercium aroma sampah dan tidak terlihat lalat berterbangan.

Pupuk kompos yang telah terurai disaring menggunakan alat penyaring.

Pupuk kompos yang telah terurai disaring menggunakan alat penyaring.

Begitu sampah tiba di lokasi penampungan, Tarmidi bersama ketiga rekannya lalu memilah menjadi beberapa bagian, yaitu sampah organik, sampah plastik, kardus, dan botol. Untuk sampah organik Tarmidi mengolahnya menjadi pupuk. Ia memasukkan sampah organik pada cetakan kayu berukuran 60 cm x 120 cm dan tinggi 60 cm, lalu dipadatkan dengan cara diinjak-injak.

Setelah itu ia menyiramkan larutan efektif mikroorganisme (EM) ke seluruh permukaan tumpukan sampah organik hingga basah merata untuk mempercepat proses penguraian. Penyiraman larutan EM kembali dilakukan bila tumpukan sampah terlihat kering. “Yang penting harus lembap terus,” kata Tarmidi. Ia menggunakan cetakan kayu saat mengolah sampah organik agar rapi.

Baca juga:  Asap Cair Usir Kumbang

“Sebetulnya bisa saja hanya ditumpuk, lalu disiram larutan (EM) kemudian ditutup terpal. Tapi nantinya terlihat berantakan. Kalau dicetak jadi terlihat rapi,” tuturnya. Sampah organik terurai setelah dibiarkan selama sebulan. Jika sampah organik sudah “matang”, Tarmidi lalu membongkar cetakan. Ia lalu memasukan tumpukan sampah organik itu ke alat penyaring berbentuk tabung yang diselimuti saringan kawat berdiameter lubang 5 mm dan dipasang diagonal.

Pupuk kompos yang halus dikemas dalam karung lalu dijual.

Pupuk kompos yang halus dikemas dalam karung lalu dijual.

Selanjutnya rekannya yang lain memutar tabung itu sehingga terpisah antara butiran halus dengan sampah organik lain yang masih kasar. Tarmidi menyaring sampah organik itu tiga kali pengulangan hingga yang tersisa benar-benar sampah yang masih kasar. Sampah organik yang masih kasar kemudian disatukan lagi dengan tumpukan sampah organik lain yang masih dalam proses penguraian.

Kemasan karung
Tarmidi lalu mengemas kompos sampah organik yang telah disaring ke dalam karung berkapasitas 50 kg. “Sebelumnya dikemas dalam kantong plastik berisi 5 kg. Namun, kemasan itu perlu modal banyak seperti kantong plastik dan label merek. Sekarang sudah banyak yang tahu sehingga orang yang beli datang langsung dan membeli dalam kemasan karung,” ujar Tarmidi.

Ia menjual pupuk organik itu dengan harga Rp50.000 per karung dan menyetorkan hasil penjualan ke pengurus RW. Sementara sampah kardus dan botol plastik dijual kepada para penampung, antara lain Sugandi, warga RW 11 Kelurahan Bubulak, yang berdampingan dengan perumahan Griya Melati. Pria paruh baya itu rutin membeli kardus ke lokasi penampungan sampah 3—4 hari sekali.

Sugandi membeli sampah kardus Rp1.300 per kg. “Itu kalau kondisi kering. Kalau kardusnya basah harganya turun jadi Rp650 per kg,” ujarnya. Ia juga membeli botol-botol kaca dengan harga Rp300 per kg. Adapun botol plastik dikumpulkan dahulu hingga jumlahnya banyak. “Kalau sedikit pembeli tidak mau karena untuk menghemat biaya transpor,” kata Tarmadi.

Sampah organik dicetak dan difermentasi menjadi pupuk kompos.

Sampah organik dicetak dan difermentasi menjadi pupuk kompos.

Dengan berbagai upaya pemanfaatan sampah, warga perumahan Griya Melati yang mencapai 240 kepala keluarga (KK) itu dapat mengurangi beban sampah di lingkungannya. “Kalau hanya mengandalkan truk sampah dari Dinas Kebersihan tidak akan cukup karena hanya mengangkut sampah setiap 2 pekan. Sementara warga memproduksi sampah setiap hari,” ujar Tarmidi.

Baca juga:  Rahasia Ohara Jadi Jawara

Rumah Kompos
Menurut Tarmadi upaya pengelolaan sampah di perumahan Griya Melati berlangsung sejak 2007 atas prakarsa Tri Bangun Laksono yang bekerja sebagai Asisten Deputi Bidang Pencemaran Limbah Domestik, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pria yang akrab dipanggil Sony itu sebetulnya mulai menggagas pengelolaan sampah sejak 2004. Demi mewujudkan gagasannya itu Sony mendatangkan ratusan liter asap cair dari Provinsi Lampung.

Harga asap cair Rp25.000 per liter, belum termasuk ongkos kirim. Pasokan asap cair itu tetap berlangsung sampai sekarang. Pada 2007 saat Sony menjabat sebagai ketua Rukun Warga (RW) 13, bersama para warga akhirnya mendirikan bangunan untuk tempat pengelolaan sampah. Ia memberi nama tempat itu Rumah Kompos Griya Melati. Dengan berbagai upaya itu RW 13 Kelurahan Bubulak mendapat penghargaan sebagai RW terbaik di Kota Bogor. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments