Sahabuddin Beta: Omzet Besar Telur Ikan Terbang 1
Kapal nelayan yang digunakan untuk mencari telur ikan terbang.

Kapal nelayan yang digunakan untuk mencari telur ikan terbang.

Omzet berniaga telur ikan terbang fantastis, mencapai ratusan juta rupiah per musim.

Sahabuddin Beta kerap mendapat teguran dari teman-teman sekampus. Mereka mengeluhkan Beta—panggilannya—yang semakin jarang berkumpul bersama teman-teman. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer, Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan, itu bukannya enggan bersosialisasi. Itu karena sejak 2013 kesibukan Beta bertambah.

“Selain kuliah saya juga sibuk menjalankan usaha perdagangan telur ikan terbang,” ujar pria kelahiran Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, itu. Pantas usai kuliah, ia bergegas menuju tempat usaha di Kabupaten Gowa berjarak 20 km dari makassar. Di tempat usaha itu Beta langsung menjalankan tugasnya yaitu mengeringkan, menimbang, dan mengemas telur kering ikan terbang Hirundichthys oxycephalus.

Telur ikan terbang menjadi salah satu bahan pembuatan sushi.

Telur ikan terbang menjadi salah satu bahan pembuatan sushi.

Musim bertelur
Beta memperoleh pasokan telur ikan anggota famili Exocoetidae itu dari para nelayan di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Takalar memang sohor sebagai sentra tobiko—sebutan telur ikan di Jepang. Di sana pria kelahiran 15 Juli 1993 itu membiayai 4 nelayan untuk mencari telur ikan terbang. “Setiap nelayan saya beri modal Rp20-juta untuk biaya operasional untuk melaut,” ujar Beta yang berniaga telur ikan terbang sejak 2013 itu. Pada awal bisnis Beta meminjam modal ke bank.

Pemuda 22 tahun itu juga membekali para nelayan dengan surat izin pengambilan telur ikan terbang dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar. “Pengambilan telur ikan tidak boleh sembarangan. Jika tanpa surat izin bisa disebut ilegal,” kata remaja yang gemar mengotak-atik komputer itu. Pengambilan telur ikan terbang juga terlarang di sembarang lokasi.

“Dinas Kelautan dan Perikanan hanya memberi izin pengambilan telur ikan terbang di perairan tertentu seperti di Teluk Bone, Laut Sulawesi, dan Selat Makassar,” tutur mahasiswa semester 9 itu. Para nelayan biasanya ramai mencari telur ikan terbang pada April—Oktober, yakni saat musim ikan bertelur. Pada musim itu para nelayan biasanya melaut hingga 20—30 hari.

Telur ikan terbang harus segera dikeringkan agar tidak busuk dan hancur karena lengket.

Telur ikan terbang harus segera dikeringkan agar tidak busuk dan hancur karena lengket.

Di sepanjang perjalanan mereka menempatkan sarana bertelur ikan terbang. Media bertelur torani—sebutan warga lokal untuk ikan terbang—bermacam-macam. Ada yang bernama balla-balla atau bubu hanyut, terbuat dari tabung kayu yang kedua ujungnya diberi pelapah daun kelapa kering. Panjang bubu sekitar 60 cm dan berdiameter 40 cm. Alat lainnya bernama ganrang bulo atau rumpon. Peranti itu terbuat dari susunan pelepah daun kelapa kering yang dibuat sirap.

Baca juga:  Kelola Jagung untuk Peternak

Yang paling sederhana hanya berupa pelepah daun kelapa kering. Alat-alat itu dibiarkan terapung dan diberi pemberat agar tidak hanyut terbawa gelombang air laut. Sejak menempatkan alat perangkap yang pertama hingga terakhir memerlukan waktu sekitar 24 jam.

Kemasan khusus
Pemasangan perangkap dilakukan pada pukul 06.00. Sekitar pukul 07.00 hari berikutnya, nelayan menarik perangkap ke atas kapal, lalu menyisir atau melepas telur ikan terbang yang menempel pada perangkap itu. Telur ikan terbang berbentuk lonjong atau bulat dan tidak memiliki gelembung minyak. Ukuran telur ikan terbang berkisar 1,20–1,69 mm3 atau rata-rata 1,48 mm3. Dari sebuah perangkap mereka bisa memperoleh 5—20 kg telur.

Mereka langsung menjemur telur di atas kapal. Jika terik, lama penjemuran berlangsung selama 3 hari. Namun, ketika mendung penjemuran lebih lama, mencapai 5 hari. “Telur ikan harus segera dikeringkan agar tidak lengket satu sama lain dan busuk. Kalau sampai lengket maka akan rusak,” ujar Beta. Mereka lantas mengemas telur kering itu dengan karung atau drum dan menyimpannya di kapal.

Selama musim bertelur pada April—Oktober, Sahabuddin Beta bisa memperoleh hingga 2 ton telur ikan terbang kering.

Selama musim bertelur pada April—Oktober, Sahabuddin Beta bisa memperoleh hingga 2 ton telur ikan terbang kering.

Beta bisa memperoleh pasokan 100—150 kg telur ikan terbang kering per nelayan sekali melaut. Menurut Beta, 1 kg telur kering berasal dari 2 kg telur basah. “Selama musim bertelur saya bisa mengumpulkan hingga 1—2 ton telur kering ikan terbang,” katanya. Ketika mendarat, para nelayan membawa telur kering itu ke gudang sortir. Di sanalah Beta memilah telur ikan terbang kering sesuai pesanan.

Para eksportir dan restoran menginginkan telur ikan murni atau sudah dirontokkan dari serat pengikat telur. Selanjutnya Beta mengemas telur ikan dalam kemasan karung plastik 80—100 kg khusus untuk pelanggan para eksportir. Sementara untuk pelanggan restoran Beta mengemasnya dalam plastik berbobot 1 kg. Menurut Beta selama ini 70% telur kering ikan terbang untuk memasok eksportir.

Baca juga:  GrootGroenPlus 2017

Penghargaan
Hasil tangkapan itu hanya cukup untuk memasok kebutuhan para eksportir di Makassar, dan beberapa restoran di Jakarta. Para eksportir di Makassar kemudian mengekspor tobiko ke berbagai negara seperti Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Vietnam. Di mancanegara telur ikan terbang penganan mewah yang kaya protein, vitamin, kolesterol, omega-3, omega-6, asam amino, dan lebih dari 60 nutrisi lainnya. Telur ikan terbang juga dikenal berkhasiat antara lain untuk memperlancar peredaran darah, meningkatkan sistem saraf, sistem kekebalan tubuh, dan juga untuk memerangi kanker serta penyakit jantung.

Beta menjual telur ikan terbang kering dengan harga Rp 250.000 per kg. Artinya, dalam satu musim bertelur omzet Beta hingga Rp 250-juta. Sepak terjang pemenang dalam program Wirausaha Muda Mandiri 2015 kategori mahasiswa itu mengukuhkan diri sebagai pebisnis telur ikan terbang.

Sahabuddin Beta

Sahabuddin Beta

Ia melirik bisnis perdagangan telur ikan terbang karena di daerahnya merupakan sentra. Namun, pemasaran yang dilakukan para nelayan hanya bergantung pada pengumpul. Oleh karena itulah dengan berbekal pengetahuan bidang informatika, Beta melakukan terobosan dengan melakukan pemasaran melalui toko daring dan media sosial.

Sayangnya jumlah telur ikan terbang di daerahnya terus menurun. Menurut Beta, jumlah telur berkurang karena maraknya penangkapan ikan terbang secara ilegal. Akibatnya, populasi induk semakin berkurang. Oleh sebab itu Beta berencana melakukan pendampingan kepada para nelayan agar berhenti menangkap ikan terbang. “Jadi cukup telurnya saja yang diambil,” katanya. Dengan begitu, bisnis telur ikan terbang pun berumur panjang. (Imam Wiguna)

Nama lengkap:
Sahabuddin Beta
Tempat Tanggal Lahir:
Gowa, 15 Juli 1993
Nama Ayah:
Siong Dg Awing
Nama Ibu:
Hj Siti Sinawati
Pendidikan:
Mahasiswa semester 9 Jurusan Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Makassar (UNM).
Prestasi:
Pemenang kategori mahasiswa program Wirausaha Muda Mandiri 2015.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments