Sagu Raksasa Tertidur

Sagu Raksasa Tertidur 1
Prof. Dr. Ir. M. H. Bintoro, M.Agr*

Prof. Dr. Ir. M. H. Bintoro, M.Agr*

Di kawasan sentra sagu di Riau atau Papua, 100 pohon siap panen per hektare per tahun. Setiap pohon menghasilkan 200—400 kg tepung pati sehingga produktivitas setiap hektare lahan 20—40 ton tepung. Potensi sagu dari luasan 5,5 juta ha itu mencapai 110—220 juta ton tepung sagu. Jika dipanen, tidak perlu ada impor beras. Apalagi sagu tersedia gratis. Tinggal memanen tanpa payah membuka dan membersihkan lahan, menanam, memupuk, atau memberantas hama.

Jika dipanen, sejuta hektare hutan sagu bisa memenuhi kebutuhan seluruh rakyat Indonesia. Tepung sagu juga bisa dijadikan gula cair. Sekilogram pati sagu menghasilkan 1 kg gula cair. Dalam bentuk cair, pemanfaatan gula lebih praktis ketimbang butiran seperti gula pasir. Buktinya kita mencampurkan gula saat membuat kopi, teh, susu, atau minuman lain. Bukan mengunyah gula secara terpisah dari minuman. Lagi-lagi, kalau potensi sagu dimanfaatkan, tidak perlu mengimpor gula.

Asli Indonesia

Devisa negara yang mengalir ke mancanegara karena kita mengimpor gula itu bisa dialokasikan ke sektor lain seperti pembangunan infrastruktur, yang saat ini mengandalkan pinjaman luar negeri dengan bunga tinggi. Dengan potensi itu, apa kurangnya sagu? Yang pasti kurang perhatian atau keberpihakan. Tidak hanya pengambil keputusan, lembaga riset dan akademik pun abai terhadap sagu.

Berbagai lembaga riset menghasilkan ratusan varietas padi unggul. Sagu luput dari perhatian. Data varian sagu di Indonesia belum terkumpul secara detail. Yang terakhir terdengar adalah sagu meranti asal Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Dengan memanfaatkan potensi sagu, tidak perlu impor gula atau beras.

Dengan memanfaatkan potensi sagu, tidak perlu impor gula atau beras.

Padahal di Papua ada pohon sagu bernama para yang mampu menghasilkan 975 kg pati per batang. Seorang peneliti sagu dari Jepang geleng-geleng ketika melihat sagu para. Di negara asalnya, petani susah-payah menaklukkan tanah untuk menanam. Itu pun hanya di musim panas. Sementara itu di Indonesia, sagu produktif yang tinggal dipanen itu terbengkalai dan mati sia-sia. Bisa jadi di sentra sagu lain juga tersembunyi pohon unggul yang menanti untuk ditemukan.

Itu kalau lahannya tidak keburu dialihfungsikan. Di daerah sentra, kawasan sagu justru menjadi tumbal pembangunan. Daerah yang dahulu hutan sagu disulap menjadi kantor pemerintahan, sekolah, atau hunian. Padahal pohon sagu sangat pengalah. Tumbuhnya di rawa atau daerah pasang surut. Kalau di Jawa ada istilah tempat jin buang anak untuk menyebut daerah yang sulit dijangkau. Bahkan, di hutan sagu pun, jin enggan membuang anak.

Baca juga:  Belajar Hidroponik

Dengan memanfaatkan potensi sagu, sejatinya tidak perlu ada program pencetakan sawah baru. Apalagi produktivitas sawah yang baru dibuka rendah karena air mudah meresap ke dalam tanah. Di sawah yang digarap bertahun-tahun, terbentuk lapisan keras karena tanah sering diinjak-injak. Lapisan keras yang menghambat peresapan air itu absen di sawah baru. Akibatnya biaya operasional tinggi karena harus lebih sering mengairi.

Sumber Penghasilan

Sayang, bangsa ini menganggap rendah pangan nonberas. Sagu, singkong, atau ubijalar identik kemiskinan. Padahal sejarah membuktikan sagu pangan asli tanah air. Kunjungilah candi Borobudur, tidak ada relief berkisah tanaman padi, jagung, apalagi kentang. Yang terukir di sana justru tanaman palma seperti sagu, aren, kelapa, atau nipah. Pangan asli Indonesia—kerupuk, bihun, mi, bubur—dulunya berbahan sagu. Sebelum mi berbahan terigu populer seperti sekarang, orang Indonesia mengonsumsi mi sagu.

Perdagangan dengan Tiongkok sejak era Majapahit membuat masyarakat terbiasa dengan pangan serealia berbasis tanaman anggota famili Poaceae. Buktinya padi tertua yang ditemukan berasal dari zaman Majapahit, bukan dari kerajaan yang lebih tua seperti Kalingga atau Mataram Hindu. Salah satu sentra yang rajin menggali potensi sagu mereka adalah Kabupaten Meranti, Provinsi Riau. Jika hari ini kita ke Kota Selatpanjang—ibukota kabupaten itu—untuk meminta pasokan sagu, kecil kemungkinan permintaan kita terpenuhi.

Sebanyak 80% sagu selatpanjang dikirim rutin ke Kota Cirebon, Jawa Barat. Di sana, sagu menjadi bahan utama pembuatan sohun, yaitu mi putih semacam bihun. Bedanya bihun berbahan tepung beras. Sentra industri kecil sohun di Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, beroperasi sejak lama. Sejak pertama berproduksi sampai sekarang, mereka mengandalkan sagu selatpanjang. Produsen-produsen rumahan menghasilkan sohun dengan berbagai merek.

Papeda (bawah) dan lempeng (atas) makanan pokok di Maluku berbahan baku sagu.

Papeda (bawah) dan lempeng (atas) makanan pokok di Maluku berbahan baku sagu.

Sohun buatan Cirebon itu dikirim ke berbagai pelosok Nusantara. Kesimpulannya rakyat Indonesia masih menyukai sagu. Di Kabupaten Meranti, ada olahan sagu menyerupai nasi bernama gobak. Rasanya pasti beda dengan nasi, tetapi tidak asing di lidah. Lebih nikmat ketimbang beras analog berbahan sagu. Meranti dan beberapa kabupaten lain di Kepulauan Riau termasuk giat menggali potensi sagu mereka. Dalam peringatan Hari Pangan Sedunia 2016, Meranti menyabet rekor MURI dengan menampilkan 350 olahan sagu.

Baca juga:  Merindukan Pencuri Kecil

Sagu aman bagi diabetesi lantaran angka indeks glikemiknya (IG) rendah sehingga konsumsinya tidak menyebabkan lonjakan kadar gula darah. Nilai IG bubur sagu hanya 48, lebih rendah ketimbang beras cokelat (beras yang hanya sekali disosoh) yang angka IG-nya 50. Kandungan sagu memang jauh dari lengkap, dominan karbohidrat sementara protein atau serat sangat rendah.

Dominasi karbohidrat itu membuat rasa sagu cenderung hambar. Berbeda dengan nasi yang terasa nikmat meski dimakan hanya dengan sambal. Secara tradisional, konsumsi sagu dibarengi sayur dan ikan atau protein hewani lain. Lauk dan sayur itulah yang “menambal” kekurangan nutrisi sagu. Namun, kalau sudah berbentuk sohun, sagu bisa diolah seperti mi. Cukup dengan menggoreng atau merebus, plus berbagai rempah penambah citarasa, sajian lezat siap disantap.

Dahulu, saat kota-kota di Papua belum terhubung oleh jalan raya, warga harus menembus hutan mencapai kota lain. Mereka menggembol sagu berbentuk lempeng sebagai bekal. Konsumsi lempeng itu cukup dengan mencelupkan ke dalam teh atau kopi. Sekeping lempeng memberikan energi setara sekali makan.

Sagu juga bisa menjadi sumber penghasilan, seperti studi kasus di Desa Tanjungperanap dan Sungaitohor, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Kepulauan Riau. Desa itu menjadi percontohan pascakebakaran hutan pada 2016. Budidaya sagu ditumpangsarikan dengan ikan lele, itik, sapi pedaging, cabai, semangka, jagung, dan kangkung. Telur itik memberikan penghasilan mingguan, kangkung bulanan, lele dan jagung manis 2 bulanan, sementara cabai dan semangka memberikan pemasukan per 3 bulan.

Populasi sagu cukup 100 bibit per hektare. Sagu bisa panen umur 7—8 tahun untuk membuat gula. Sagu adalah tanaman “religius”, daunnya selalu menghadap ke atas sehingga naungan di sekitar tajuk minim. Artinya populasi tanaman tumpang di bawahnya optimal. Cabut tunas sagu yang muncul dekat tanaman tumpang, sisakan 1 tunas setiap tahun sehingga nantinya bisa panen sagu setiap tahun. Dengan budidaya intensif seperti itu, sagu dan tanaman tumpangnya bisa menyejahterakan masyarakat dan meningkatkan ketahanan ekonomi. Saatnya membangunkan raksasa sagu dari tidur panjangnya.***

*) Ahli sagu dari Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x