33 °C Jakarta, ID
23 May 2019

Saatnya Panen Bunga Kol di Talang Air

Bunga kol lazim tumbuh di dataran tinggi. Saeful Bahri sukses memanen bunga kol di dataran rendah dengan teknologi hidroponik nutrient film technique.

“Jangan membuat kandang ayam di sini. Baunya mengganggu warga,” kata pehidroponik di Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Saeful Bahri, menirukan ucapan tetangganya. Saat membangun rumah tanam untuk berhidroponik, para tetangga mengira ia membuat kandang ayam pedaging. Maklum, Saeful membuat rumah tanam dengan bambu petung dan bambu tali untuk rangka—bahan serupa untuk kandang ayam.

Di rumah tanam memanjang sejauh 15 m itu ia menyemai, membesarkan, dan memanen bunga kol. Atap rumah tanam buatan Saeful berbentuk huruf A dengan puncak setinggi 2,7 m sementara tepinya 1,7 m. Jaring antiserangga (insect net) berkerapatan 40 mesh menjadi dinding, sedangkan naungannya menggunakan plastik ultraviolet 14%. Di dalamnya terdapat 4 meja pembesaran sepanjang 4 m. Setiap meja berisi 6 guli berbahan pipa polivinil klorida (PVC) berdiameter 3 inci dengan jarak antarlubang 40 cm.

Tiga tandon

Saeful menyemai benih di media rockwool. Ia memindahkan bibit berumur 15 hari ke meja remaja. Dua meja tanaman remaja masing-masing berisi 10 guli berbahan talang plastik itu terletak di bagian depan dekat pintu. Panjang kedua meja itu sama, yakni 4 m. Jarak antarlubang tanam di meja pertama 10 cm. Meja itu untuk bunga kol berumur 16—20 hari. Meja remaja kedua untuk tanaman 21—30 hari jarak antarlubang tanamnya lebih renggang, 20 cm.

Itu karena tanaman di meja remaja kedua lebih besar. Dari meja remaja kedua, tanaman berumur 31 hari ia pindahkan ke meja pembesaran. Tingkat pH larutan nutrisi di ketiga jenis meja itu seragam, 6—6,5. Yang berbeda adalah kepekatannya. Konsentrasi nutrisi meja semai 300 ppm, remaja 800 ppm, pembesaran 1.200 ppm. Pembedaan itu lantaran kebutuhan nutrisi setiap fase tanaman berlainan. “Kalau konsentrasinya sama, penggunaan pupuk tidak efisien,” ujar Saeful.

Konsekuensinya, ia harus menyiapkan 3 tandon air masing-masing dengan pompa yang bekerja 24 jam. Di meja semai Saeful menggunakan tandon 40 liter dan pompa berdaya 14 watt, meja remaja menggunakan tandon 180 l dan pompa 65 watt, dan meja pembesaran berupa tandon 1.000 l dan pompa 110 watt. Bunga kol memerlukan air bersuhu maksimal 250C sehingga alumnus Manajemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor itu memasang kipas di setiap tandon. Kipas itu mendorong udara panas dari guli keluar ke udara.

Saeful Bahri memerlukan 2 tahun untuk mempelajari budidaya bunga kol hidroponik

Saeful membuat celah di antara pipa air dari guli dengan pipa di tanah yang mengalirkan air kembali ke tandon. Lewat celah itu, udara panas dari guli terdorong keluar alih-alih terbawa ke tandon atau naik kembali ke guli. Trik lain adalah pemasangan kipas dengan pengabut untuk mempertahankan kelembapan rumah tanam 60—80%.

Di dalam rumah tanam itu Saeful memasang 4 kipas bekas pendingin ruangan. Kecepatan putaran kipas bekas itu ia perlambat dengan kapasitor 0,1 mikrofarad (µF). Konsumsi daya menjadi hanya 18—20 w dari semula 400 W. Termostat—sakelar otomatis yang bekerja berdasarkan suhu—digital menyalakan kipas ketika suhu rumah tanam naik melebihi 280C dan berhenti ketika suhu turun di bawah 260C. Dengan termostat terpisah ia mengatur pengabut air agar bekerja ketika suhu lebih dari 350C dan berhenti saat suhu kurang dari 330C.

Plastik berlabel

Kipas di tandon untuk menurunkan suhu air

Kunci lain agar bunga kol bisa membentuk krop adalah penambahan fosfat. Saeful menambahkan fosfat 30 g lebih dari standar ke dalam pupuk racikannya sendiri. Menurut pakar hidroponik di Jakarta, Ir. Yos Sutiyoso, kekurangan fosfat menyebabkan blumkul gagal membentuk krop. Berbagai kunci keberhasilan membungakan blumkul—pengaturan kelembapan dan suhu air, pembuangan panas, serta komposisi nutrisi—itu hasil percobaan Saeful selama 2 tahun.

Sejatinya kelembapan bisa meningkat seandainya ia membuat rumah tanam dengan atap lebih tinggi. “Daripada membongkar lebih baik saya akali sendiri,” ungkap pria berusia 31 tahun itu. Tanaman mulai membentuk bunga pada umur 45—50 hari. “Setelah krop terbentuk, pertambahan ukurannya cepat,” kata Saeful. Ia memanen bunga berbobot 200—250 g pada umur 50—55 hari. Jika ia menunda panen hingga 70 hari, bobot bunga kol itu 1 kg.

Celah pipa untuk pengeluaran panas dari tandon air

Namun, konsumen lebih menyukai bunga kol berbobot 2 ons. Setiap hari ia mengirim 10—20 kg ke pedagang dengan harga Rp18.000 per kg. Agar panen setiap hari, Saeful menyemai 56 benih setiap hari. Ia menargetkan panen harian 10 kg berdasarkan asumsi bobot setiap bunga kol 0,2 kg. Nyatanya bobot selalu lebih, berkisar 220—300 gram per tanaman. Ia menjual kepada pedagang di pasar Cibadak. Saat mengirim pertama pada September 2017, ia menjual ke pedagang Rp8.000 per kg.

Untuk menguji serapan pasar, sepekan kemudian ia berhenti memasok. Ternyata pedagang justru mendatanginya. “Dia bertanya kenapa saya tidak mengirim lagi. Ternyata dalam sepekan itu pembeli sudah mengenali bunga kol saya,” ungkap Saeful. Maklum, ia membungkus blumkul produksinya dengan plastik lalu menempelkan label. Ia mau mengirim lagi, asal harga Rp10.000 per kg. Pedagang setuju, lalu ia kembali mengirim. Sekarang harga jual Rp18.000 per kg.

Termostat digital untuk mengatur pengabut air

Bunga kol hidroponik dari Saeful selalu habis, buktinya pedagang tidak pernah mengembalikan sayuran yang tidak terjual. Pada akhir pekan, pedagang meminta pasokan meningkat menjadi 40—50 kg. Menurut guru besar Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Anas Dinurrohman Susila, M.Si., bunga kol tanaman dataran tinggi, minimal 800 m di atas permukaan laut (dpl). Kini banyak produsen membuat benih untuk dataran rendah—menengah karena permintaannya besar. Saeful menanam bunga kol di lahan berketinggian 450 m dpl.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d