Saatnya Herbal Menasional

Saatnya Herbal Menasional 1
Prof Dr Sumali Wiryowidagdo

Prof Dr Sumali Wiryowidagdo

Pasien peserta Jaringan Kesehatan Nasional (JKN) merujuk pada Formularium Nasional (Fornas) selama ini hanya memperoleh obat sintetis. Padahal, secara tradisional bangsa Indonesia menggunakan obat bahan alam yang diwariskan turun-temurun. Sebagian obat bahan alam bahkan sudah teruji klinis mampu mengobati penyakit. Untungnya, berembus kabar gembira dari kementerian.

Obat berbahan alam atau herbal segera memperoleh pengakuan dari kalangan medis nasional. Hal itu seiring rencana Kementerian Kesehatan telah menyusun rencana Formularium Obat Tradisional Nasional Tahun 2017. Peraturan Menteri Kesehatan No 71/2013 menyebutkan, jika obat yang dibutuhkan di fasilitas kesehatan rujukan tak tercantum di Fornas, maka obat lain termasuk obat herbal bisa digunakan atas persetujuan Komite Medik dan pimpinan rumahsakit.

Efek isomer
Pemda pun bisa memakai dana alokasi khusus bagi pengadaan obat herbal di fasilitas kesehatan sesuai Permenkes No 82/2015. Keputusan itu membuka peluang menasionalkan obat berbahan alam sampai nanti setara dengan obat sintetis. Desakan pembuatan formularium obat bahan alam sebenarnya muncul sejak lama dari kalangan akademisi maupun lembaga riset.

Dorongan itu muncul lantaran 90% bahan obat sintetik harus diimpor. Padahal di dalam negeri, jumlah dan ragam bahan alam berkhasiat sangat melimpah. Sejatinya obat sintetis meniru struktur kimiawi zat aktif dari bahan alam berkhasiat. Biaya pembuatan obat sintetis jauh lebih murah ketimbang bahan alam. Sudah begitu, bahan sintetis mudah diperbanyak dalam skala industri.

Namun, bahan sintetis mempunyai efek samping, karena proses pembuatannya memunculkan isomer yang khasiatnya tidak sesuai harapan. Isomer adalah molekul kimia yang mempunyai rumus yang sama tetapi memiliki susunan atom yang berbeda. Akibatnya, alih-alih menyembuhkan, isomer bahan obat justru bereaksi terhadap tubuh dan menimbulkan efek samping.

Baca juga:  Cara Dobrak Pasar

Semakin rumit struktur kimia bahan obat, semakin besar dan semakin banyak kemungkinan terbentuk isomer. Kemungkinan itu tidak ada pada bahan herbal, yang didapatkan dari ekstraksi bahan alam dengan kandungan bahan kimia yang sama dan kompak. Struktur kimia bahan alam sama dan stabil sehingga bekerja spesifik tanpa mempengaruhi organ lain.

Bahan alam untuk diresepkan dalam Jaringan Kesehatan Nasional harus melalui ekstraksi terlebih dahulu

Bahan alam untuk diresepkan dalam Jaringan Kesehatan Nasional harus melalui ekstraksi terlebih dahulu

Itu meminimalkan kemungkinan munculnya efek samping. Dengan kata lain, bahan alam jauh lebih aman daripada bahan sintetis. Memanfaatkan bahan alam sebagai obat tidak mudah. Untuk mendapatkan ekstrak yang diinginkan, bahan alam yang harus diekstraksi sangat banyak. Produsen obat harus menanam bahan alam untuk mendapatkan bahan dalam jumlah banyak dengan kualitas baik.

Kerja sama dengan petani juga diperlukan untuk menanam tanaman obat dengan bimbingan dan pengawasan demi kelancaran pasokan. Jaminan mendapatkan penghasilan yang baik dari hasil penanaman akan memacu petani menghasilkan bahan berkualitas. Bahan herbal untuk diresepkan dalam JKN bukan bahan mentah maupun bahan godokan atau bahan mentah yang dihaluskan, melainkan hasil ekstraksi.

Artinya fasilitas ekstraksi juga diperlukan untuk mendapatkan ekstrak bahan alam berkualitas. Penggunaan bahan dari dalam negeri belum tentu mengurangi biaya atau harga jual obat bahan alam. Pasalnya, untuk teknik budidaya yang baik, pengolahan pascapanen, ekstraksi, dan pembuatan menjadi obat diperlukan biaya yang tidak sedikit. Namun, setidaknya harga bahan alam dapat bersaing dengan harga obat bahan sintetik.

Ujung tombak
Hal lain yang menjadi pertimbangan, bahan alam dibudidayakan di dalam negeri. Itu sebabnya ketersediaan dan mutu bahan alam dapat selalu ditingkatkan sesuai tuntutan dan kebutuhan industri obat. Penggunaan obat berbahan alam sendiri tidak lepas dari peran dokter yang merupakan ujung tombak dunia kesehatan. Oleh dokter pula, jenis obat dan dosis ditulis dan diresepkan.

Banyak herbal berkhasiat di Indonesia yang dapat dijadikan obat.

Banyak herbal berkhasiat di Indonesia yang dapat dijadikan obat.

Sampai kini Kementerian Kesehatan melatih dokter herbal medik, yakni dokter yang bisa meresepkan obat herbal bagi pasien. Namun, baru ada 50 dokter herbal medik dan 32 rumahsakit dari 905 rumahsakit pemerintah yang memakai obat herbal. Karena itu, pelatihan dokter herbal medik perlu masuk Program Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan dan bisa menambah Satuan Kredit Profesi.

Baca juga:  Lotus Kian Elok

Penerapan formularium bahan herbal dapat merangsang perkembangan penelitian bahan herbal. Apalagi mengingat banyaknya tanaman berkhasiat di Indonesia. Tercatat lebih dari 30.000 jenis tanaman berkhasiat, tetapi baru 8.000 jenis tanaman obat yang sudah dijadikan jamu, 47 jenis obat herbal terstandar, dan 8 jenis fitofarmaka. Peneliti dari berbagai lembaga pendidikan dan penelitian tentu menyambut baik keputusan ini, dan bersemangat untuk melakukan penelitian bahan alam berkhasiat obat.

Penggunaan bahan alam untuk obat memerlukan penelitian hingga uji klinis membutuhkan biaya besar. Untuk itu diperlukan sinergi dari beberapa pihak antara lain peneliti, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai institusi kesehatan, industri obat sebagai produsen obat bahan alam, dan pemerintah selaku pemangku keputusan. Penetapan formulasi bahan alam menjadi obat bahan alam pada 2017 diharapkan membuat obat bahan alam berkembang menjadi bagian sistem kesehatan nasional dan dapat diresepkan di lembaga kesehatan atau rumahsakit. (Prof Dr Sumali Wiryowidagdo, peneliti di Pusat Studi Obat dan Bahan Alam Universitas Indonesaia)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x