Saatnya Aren Suntik Oksigen 1
Injeksi pupuk dan oksigen di sekitar perakaran meningkatkan produktivitas aren

Injeksi pupuk dan oksigen di sekitar perakaran meningkatkan produktivitas aren

Teknologi baru tingkatkan produktivitas aren: suntik oksigen.

Aren Arenga pinnata si emas hijau butuh oksigen agar produksinya meningkat. itu prinsip sistem injeksi mikrob dan oksigen (SIMO), yakni pemupukan untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan injeksi mikrob dan oksigen. Tujuannya agar kesuburan tanah secara kimia, fisika, dan biologi meningkat terutama di lapisan tanah yang lebih dalam. Harap mafhum, lapisan tanah di bawah permukaan biasanya kekurangan oksigen.

Selain itu mikrob juga terlalu homogen. Keadaan mikrob yang heterogen di dalam tanah menyebabkan reaksi yang netral. Akibatnya terjadi keseimbangan populasi antara mikrob anaerob dan aerob. Itu menggairahkan akar tumbuh dan berkembang, dekomposisi bahan-bahan organik terjadi secara sempurna sehingga akan membentuk unsur-unsur hara yang langsung bisa diserap oleh akar.

Nira aren sebagai bahan baku gula

Nira aren sebagai bahan baku gula

Injeksi oksigen
Tujuan sistem injeksi mikrob dan oksigen adalah memasukkan oksigen di lapisan tanah yang lebih dalam, agar terjadi keseimbangan kehidupan mikrob tanah antara yang anaerob dan aerob. Reaksi tanah yang netral terjadi di lapisan tanah yang lebih dalam, ketersediaan unsur hara tanah siap diserap tanaman dalam jumlah yang lebih banyak, perkembangan akar lebih dalam dan lebih banyak, serta pemupukan lebih efektif dan efisien. Inovasi SIMO sebenarnya mirip biopori yang diperkenalkan Kamir R. Brata dari Institut Pertanian Bogor.

Lapisan tanah olah atau top soil biasanya tidak lebih dari 30 cm dari permukaan tanah. Tanah yang subur itu seolah hanya ada di lapisan teratas. Semakin ke dalam lapisan tanahnya semakin bersifat toksik bagi akar tanaman. Akibatnya sistem perakaran tanaman kurang berkembang. Perkembangan akar pun relatif dangkal dan terbatas. Penyebaran akar yang terbatas karena cekaman keadaan tanah di perakaran tanaman tidak kondusif. Selain itu ketersediaan unsur hara siap pakai juga sangat terbatas. Dengan demikian jangkauan akar untuk menyerap unsur hara di tanah amat terbatas. Oleh karena itu unsur-unsur yang dapat diserap tanaman juga relatif sedikit.

Baca juga:  Seri Walet (216): Pintu Ekspor Terbuka Lagi

Untuk memperbaiki lapisan dalam tanah agar seperti lapisan permukaan, perlu injeksi atau pengeboran. Ke dalam tanah dimasukkan mikrob dan oksigen hingga sedalam daerah sebaran akar. Mikrob dan oksigen membuat kondisi tanah-tanah menjadi hidup kembali dengan reaksi yang sehat. Dampaknya tanah secara alami akan terus-menerus merilis atau menghasilkan unsur-unsur hara hasil dari dekomposisi yang relatif sempurna karena adanya mikrob dan oksigen yang cukup.

Bagaimana cara membuat pupuk SIMO? Pada dasarnya pembuatan pupuk SIMO sama saja dengan pembuatan pupuk organik cair lainnya. Namun, teknologi SIMO lebih sederhana dan fleksibel karena disesuaikan dengan kondisi daerah setempat. Daerah perakaran aren terdalam kaya mikrob dan cukup kandungan oksigen terlarut. Reaksi tanah lapisan dalam menjadi netral, terjadi perombakan bahan organik tanah yang lebih sempurna. Dampaknya kapasitas tukar kation pun lebih baik. Unsur hara cukup tersedia di daerah perakaran yang lebih dalam.

Akar aren lebih berkembang, penyerapan unsur hara lebih lancar dan lebih banyak, sehingga kebutuhan nutrisi tanaman tercukupi. Aren tumbuh lebih sehat, batangnya lebih besar, daun lebih lebat dan segar. Perkembangan dan pertumbuhan tanaman terjadi normal dan akan memunculkan seluruh potensinya secara lebih sempurna.

Dengan aplikasi SIMO setiap ketiak daun mampu mengeluarkan tandan bunga tepat waktu. Potensi jumlah tandan bunga semakin tinggi, karena perakaran berkembang secara normal dan sehat serta hara memadai di dalam tanah. Jika energi cukup, kegagalan inisiasi calon tandan pun berkurang. Bahkan seluruh calon tandan bisa muncul.

Satu kilogram gula berasal dari 7,5 liter nira

Satu kilogram gula berasal dari 7,5 liter nira

Bioetanol atau gula
Tangkai tandan berukuran besar dan panjang sehingga produksi pun menjulang. Sebab penyadapan nira lebih lama, bisa sampai 6 bulan. Frekuensi penyadapan setiap tandan lebih lama, susul-menyusul. Bahkan, tidak ada pohon istirahat produksi. Jadi hampir semua pohon dapat disadap sepanjang tahun setiap hari. Dengan demikian setiap pohon menghasilkan nira setiap hari. Masa istirahat menjadi minimal dan produktivitas nira per pohon akan tinggi. Dengan populasi 200 pohon per hektar, maka bila hanya 10% masa istirahat produksi, pekebun menyadap 180 pohon per hektar setiap hari.

Baca juga:  Panas Dalam Lekas Keluar

Produktivitas mencapai 25 liter per pohon setiap hari setara 4.500 liter nira per ha. Bila mengolah menjadi bioetanol, pekebun memperoleh 300 liter. Pilihan lain mengolahnya menjadi gula sehingga menghasilkan 600 kg per hari. Sekilogram gula berasal dari 7,5 liter aren. Harga bioetanol berkadar 99% mencapai Rp10.000 per liter maka omzet pekebun Rp3-juta setiap hari. Sementara harga gula aren minimal Rp5.000 per kg, maka omzet pekebun Rp3-juta per hari. Kalau pendapatan kotor Rp3-juta setiap hari atau Rp90-juta per bulan per hektar, pekebun meraup Rp1-miliar per tahun.

Itulah potensi aren bagai emas seperti isyarat Sunan Bonang. Kita cucu-cucunya ini baru mengetahuinya setelah ratusan tahun kemudian. Isyarat Sunan Bonang itu salah satunya dapat diwujudkan dengan teknologi SIMO. Bila sekarang kita tidak memanfaatkan peluang emas aren, kita tertinggal dari Malaysia yang serius mengembangkan aren. Negeri jiran itu diam-diam mengembangkannya secara besar-besaran sejak 1990-an.

Indonesia kini mempunyai pemupukan aren model SIMO berorientasi organik, murah, sangat efektif, dan berkelanjutan. Tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan petani sebesar-besarnya. (Ir Dian Kusumanto, periset di Aren Foundation)
539_ 137

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *